: WIB    —   
indikator  I  

Cara jitu memperkuat modal

Cara jitu memperkuat modal
Ketua Program Sarjana PPM School Of Management

SALAH satu problem yang lazim ditemui dalam bisnis yang baru berjalan adalah permodalan yang lemah. "Seringkali keterbatasan modal menghambat langkah besar yang seharusnya dilakukan. Buktinya, ada begitu banyak program yang terpaksa harus ditunda karena dukungan modal belum cukup," ujar Mahendra, seorang anggota Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM). Nah, bagaimana kita mencermati secara ideal kondisi ini? Beberapa literatur kewirausahaan memberikan dua pandangan yang berbeda.

Kelompok pertama menyatakan bahwa ide besar suatu bisnis hendaknya mampu beradaptasi dengan jumlah modal awal yang dimiliki. Saat modal yang ada sangat terbatas, formasi ide harus disesuaikan dengan situasi yang dihadapi. Demikian pula, apabila modal yang tersedia sangat mencukupi, ide besar dapat diwujudkan secara maksimal.

Meski sangat ideal, namun hipotesis tersebut tidak selamanya teruji di dunia nyata. Fakta yang umum terungkap adalah tidak mudah bagi pebisnis baru untuk memperoleh tambahan modal. Perbankan maupun lembaga pembiayaan yang lain, seperti koperasi, kerap mempertanyakan kemampuan pebisnis baru yang mengajukan pinjaman. Yang dipertanyakan adalah kemampuan likuiditas bisnis dalam melunasi kewajibannya. Semakin likuid, kemampuan bisnis melunasi pokok utang plus bunga akan semakin besar.
Kini, persoalannya terletak pada bagaimana pebisnis mampu menjaga likuiditasnya, sebab itu akan sangat tergantung dari potensi penjualan yang terjadi. Permodalan, terutama di fase awal bisnis, dapat dipandang sebagai sebuah sistem hierarki. Pada tingkatan dasar, pebisnis perlu menghitung ulang semua dana yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan program per bulan dan per tahun. Di situlah, berlangsung pemetaan tentang langkah-langkah utama yang perlu segera dilakukan.

Pastikan dalam kondisi tersebut, dukungan dana dari internal tercukupi, hingga semua program kerja awal dapat berlangsung. Ketika kegiatan operasional telah bergulir lebih dari enam bulan, pada bulan ketujuh pebisnis perlu memandang kebutuhan dana untuk mendukung pelaksanaan program kerja selama satu tahun berikutnya. Pola ini terjadi bak sebuah siklus, sehingga bisnis mempunyai waktu satu semester untuk mencari dukungan dana.

Salah satu cara efektif dalam memperkuat dukungan dana internal adalah menyisihkan sebagian dari keuntungan bersih yang diperoleh setiap bulan. Besaran yang harus disisihkan itu sangat bervariasi, sekitar 30%-45%. Bahkan dalam kondisi ekstrem, porsi yang disisihkan bisa saja mencapai 60%. Jika ditanya, apakah proporsi itu ditentukan berdasarkan teori yang ada? Maka, hampir sebagian besar pengelola keuangan akan menyatakan tidak.

Dua pilihan Studi yang dilakukan terhadap sejumlah usaha mikro kecil menengah di wilayah pantai utara Pulau Jawa menunjukkan bahwa pebisnis di kelas itu sangat teliti dalam hal permodalan. Rata-rata setiap usaha yang diobservasi, menyisihkan 60% dari laba selama setahun untuk mendukung kebutuhan modal di tahun berikutnya.

Anda mungkin akan bertanya: "Lalu bagaimana mereka mengambil keuntungan usaha untuk menopang kebutuhan perekonomiannya?" Jawabannya sangat sederhana: Setiap bulan, mereka mengalokasikan gaji yang dapat diambil setiap tanggal-tanggal tertentu. Jadi, mereka memiliki sejumlah pendapatan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Uniknya, 40% dari laba bersih digunakan untuk mendanai keperluan khusus, seperti menambah aset fisik. Bentuknya bisa berupa pembelian tanah, rumah, dan kendaraan atau mendanai perjalanan ibadah. Pola ini yang memungkinkan pebisnis mencapai setiap impiannya.

Lalu, bagaimana jika keterbatasan modal masih juga ditemui walau cara-cara tersebut telah dilakukan? Ada dua alternatif yang bisa dipilih, yakni meminjam dari pihak luar, seperti bank atau koperasi. Alternatif lain, mengajak pebisnis lain untuk bermitra.

Kedua alternatif ini mempunyai konsekuensinya masing-masing. Meminjam ke perbankan akan mewajibkan kita untuk membayar beban bunga secara periodik. Belum lagi, kewajiban untuk menyerahkan jaminan hingga kredit terlunasi. Persyaratan semacam ini yang memberatkan kebanyakan pebisnis.

Dewasa ini, setelah Bank Indonesia mewajibkan setiap perbankan meningkatkan alokasi kreditnya, beberapa bank tampil sangat agresif dalam memasarkan produk-produk mereka, dari kredit modal kerja hingga kredit untuk kebutuhan khusus, seperti membeli aset produktif. Jika cukup jeli, Anda bisa mengendus peluang untuk mendapatkan kredit dengan bunga pinjaman yang sangat kompetitif. Selama persentase keuntungan usaha lebih besar daripada beban bunga yang harus dibayar, alternatif tersebut cukup layak untuk dipilih.

Namun, bila Anda merasa bahwa nilai pinjaman yang diberikan masih di bawah kebutuhan, maka alternatif bermitra dengan pihak lain layak dilirik. Meski program kemitraan menjanjikan dana yang nilainya lebih besar, ada beberapa konsekuensi yang harus ditanggung. Pertama, ada risiko sang mitra akan bertindak di luar batas kesepakatan.

Dalam beberapa kasus terlihat bahwa hubungan kemitraan menjadi rusak karena wanprestasi yang dilakukan oleh salah satu pihak. Karena itu, payung hukum atas kemitraan harus jelas. Kedua, kemitraan identik dengan pemahaman satu bisnis dua kepala. Saat dua belah pihak yang bermitra sama-sama mempunyai ide inovatif, keselarasan akan menjadi kunci kesuksesan usaha itu.

Tanpa adanya prinsip keselarasan tersebut, niscaya kemudi bisnis tidak akan terarah untuk mencapai sasarannya. Di situlah, tahap pengenalan awal bagi keduanya sangat menentukan keberhasilan di masa depan.


Close [X]