: WIB    —   
indikator  I  

Tahun Sulit Perekonomian Indonesia

Tahun Sulit Perekonomian Indonesia
Pengamat Pasar Modal dan Pasar Uang

PEREKONOMIAN Indonesia tahun 2014 akan tercatat sebagai tahun yang berat. Siapa yang menyangka, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang sempat serendah Rp 8.500 di tahun 2011 lalu, sepanjang tahun ini lebih sering berada di atas Rp 12.000.

Inilah tahun dengan nilai rata-rata rupiah terendah setelah tahun 1998. Akibat depresiasi rupiah dan naiknya harga BBM bersubsidi tahun ini, inflasi kembali akan melesat hingga 8%-9%.

Jika harga BBM bersubsidi tidak jadi naik, keadaan bukan malah bertambah baik karena besar subsidi energi (BBM dan listrik) mengambil 20% lebih APBN kita. Sehingga ruang gerak fiskal untuk dana infrastruktur, pengentasan kemiskinan, dan lainnya hampir nihil.

Akibat lain, penyelundupan BBM ke industri dan daerah perbatasan akan tetap marak. Subsidi komoditas kapanpun dan di manapun tidak sehat untuk perekonomian nasional dan tak mendidik masyarakat.

Tidak cukup dengan rupiah yang lemah dan inflasi membubung, pertumbuhan ekonomi juga akan tergerus menjadi hanya sekitar 5,1%, terendah dalam lima tahun terakhir. Bandingkan dengan 6,5% di 2011, 6,2% tahun 2012 dan 5,8% tahun lalu.

Tiga indikator utama perekonomian kita, yaitu pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan nilai tukar semuanya meleset dari target dan mengecewakan. Dampaknya, di tengah-tengah eforia presiden baru pesimisme merebak di kalangan investor saham. Apalagi di saat yang sama quantitative easing di AS dihentikan dan kekhawatiran tidak harmonisnya hubungan DPR dan Pemerintah.

Padahal tiga tahun lalu perekonomian kita terlihat begitu kokoh. Saat itu cadangan devisa menembus US$ 124 miliar, kurs dollar AS sempat Rp 8.500 dan ekspor menembus angka keramat US$ 200 miliar, melesat dari US$ 116,5 miliar pada tahun 2009. Rekor baru ekspor US$ 201 miliar di tahun 2011 ini menyebabkan negara kita masuk 30 eksportir dunia.

Sayang, keadaan yang sangat membesarkan hati ini tidak berlangsung lama. Pertumbuhan ekonomi China sebagai penyerap terbesar komoditas dunia, terutama komoditas kita. mulai melambat sehingga permintaan menurun. Harga dan volume ekspor Indonesia terkoreksi, mengingat 60% ekspor kita masih berbasis komoditas. Akibatnya, neraca perdagangan Indonesia yang selama 50 tahun terakhir tak pernah defisit harus mengalaminya, di triwulan keempat 2012.

Neraca perdagangan kita yang masih surplus besar di 2010 dan 2011, terus menyusut dengan hanya positif US$ 8,6 miliar dan US$ 6,1 miliar pada 2012 dan 2013. Angkanya menjadi negatif untuk triwulan 2 dan 3 tahun ini, walaupun untuk keseluruhan tahun ini masih surplus US$ 2,3 miliar.

Surplus neraca perdagangan serendah ini tak mampu menutup bolong besar transaksi berjalan (current account) mengingat neraca jasa dan pendapatan selama 69 tahun Indonesia merdeka tak pernah surplus. Tahun 2011 dan 2012, defisit masing-masing US$ 33 miliar dan meningkat menjadi US$ 34,6 miliar di tahun lalu. Biaya asuransi, jasa perkapalan, bunga utang luar negeri, dan repatriasi laba investasi asing menjadi penyebab.

Transaksi berjalan yang biasanya dapat diselamatkan surplus neraca perdagangan tak berdaya dalam dua tahun terakhir. Sedihnya, harga batubara di pasar global hingga saat ini tidak kunjung membaik bahkan sempat merosot hampir separuh dibandingkan harga tahun 2011. Hasilnya, transaksi berjalan masih tetap defisit besar untuk 9 bulan pertama tahun ini.

Pada masa orde baru, defisit transaksi berjalan ditutup dengan utang luar negeri dan investasi asing langsung (FDI) yang kebanyakan berupa industri manufaktur berorientasi ekspor. Sementara, investasi portofolio masih sangat kecil.

Dalam satu dasawarsa terakhir, penanaman modal asing diluar sektor pertambangan dan perkebunan lebih banyak berorientasi pasar domestik sehingga porsi ekspor Indonesia didominasi hasil bumi yang harganya sangat berfluktuasi.

Jika negara-negara tetangga mengalami proses industrialisasi dalam satu dekade terakhir dengan semakin meningkatnya barang manufaktur dalam komposisi ekspornya, Indonesia justru mengalami problem deindustrialisasi.

Jika pada tahun 2002 kontribusi sektor manufaktur kita 30%, kini angkanya hanya 24%. Peranan utang luar negeri untuk menutup defisit transaksi berjalan kemudian digantikan oleh investasi portofolio yang juga sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi global, sama seperti harga komoditas.

Meskipun transaksi finansial (modal) masih surplus, defisit transaksi berjalan yang sangat besar ini pada akhirnya menyebabkan neraca pembayaran kita defisit sebesar US$ 7,3 miliar pada tahun lalu yang bermuara pada terkikisnya cadangan devisa Indonesia. Untuk menutupi dan membuatnya surplus, pemerintah kita menerbitkan obligasi global pada Januari dan September lalu senilai US$ 5,5 miliar.

Mengingat hingga saat ini permintaan global atas komoditas utama kita belum banyak meningkat terutama batubara, transaksi berjalan RI diprediksi masih sulit keluar dari perangkap defisit. Kita berharap angkanya akan menurun menjadi -2,5% dari produk domestik bruto (PDB) untuk tahun 2015.

Jika sudah begini, realistisnya kita semua berharap pemerintahan dengan kabinet barunya benar-benar bekerja keras sesuai dengan namanya Kabinet Kerja, terutama menteri-menteri bidang perekonomian. Semoga tahun depan pertumbuhan ekonomi akan kembali normal di atas 6%, inflasi di angka 5% sampai 6%, dan kurs dolar AS di sekitar Rp 11.000.


Close [X]