: WIB    —   
indikator  I  

Antara penemuan dan inovasi

Antara penemuan dan inovasi
Penulis buku-buku bisnis dan pengajar di California

Penemuan dan inovasi sering kali disalahartikan. Sebuah inovasi belum tentu penemuan terbaru, namun penemuan sering kali merupakan sesuatu yang baru. Inovasi memberikan "jiwa" baru bagi produk-produk yang telah ada, tanpa reinventing the wheel.

Penemuan alias invention mempunyai unsur-unsur kebaruan yang sangat terasa. Dengan kata lain, "inovasi" membuat pemakai lebih senang memakainya, namun "penemuan" membuat pemakai harus memilikinya karena tanpanya maka hidup terasa "kurang lengkap."

Sebagai contoh, mesin fax yang merangkap scanner adalah salah satu bentuk inovasi. Namun, email sebagai pengganti mesin fax adalah bentuk penemuan baru yang sarat dengan berbagai fitur yang tidak tergantikan.

Dalam bisnis, penemuan baru dan inovasi bisa berjalan bersama maupun terpisah. Schumpeter membedakan keduanya dalam teori Ilmu Ekonomi. Freeman dan Soete menambahkan bahwa suatu "penemuan" adalah ide, gambar, atau model dari suatu alat, proses, produk, atau sistem yang sering kali dicatatkan sebagai paten walaupun tidak selalu membawa pembaharuan teknologi.

Jadi, unsur kebaruan yang kasat mata sangat penting di sini. Suatu "inovasi" bisa berbentuk apa saja yang memperbaharui fungsionalitas suatu produk, walaupun terkadang bisa saja tidak terlalu signifikan. Pemolesan warna dan estetika termasuk bentuk primitif inovasi. Yang sangat dihargai adalah penambahan fitur maupun efisiensi fungsi tanpa harus menambah beban produk.

Kewirausahaan alias entrepreneurship mengombinasikan penemuan dengan inovasi dalam rangka pencapaian keuntungan seoptimal mungkin. Di sini, peran kreatif seorang wirausahawan sangat penting dalam pengembangan bisnis hingga mencapai fase kematangan optimal suatu pertumbuhan bisnis, bahkan maksimal.

Seorang wirausahawan mempunyai keberanian untuk membawa produk hasil penemuan atau inovasinya ke pasar dengan perhitungan yang matang. Pengertian "matang" di sini bisa saja dengan berbagai riset, baik kuantitatif maupun kualitatif. Juga disertai dengan "kematangan" akan kesungguhan dalam bergerak di pasar.

"Kematangan kesungguhan" ini merupakan soft skill bagi para direktur dan manajer yang membawakan arah bisnis ke target-target yang hendak dicapai. Sebab, dalam dunia bisnis, banyak hal yang tidak terduga. Suatu "perhitungan" pun seringkali meleset. Ketika ini terjadi, yang membedakan seorang pemenang dari seorang pecundang adalah semangat kerja dan semangat untuk bangkit kembali setelah terpuruk.

Suatu bisnis yang mampu dan tidak mampu bertahan tentu dipengaruhi oleh berbagai hard dan soft skills para manajernya. Penemuan dan inovasi membutuhkan hard skills yang tinggi, namun untuk bisa bertahan di segala cuaca ekonomi, soft skills merupakan unsur pembeda yang jitu.Inovasi dalam bentuk soft skills bisa dijumpai misalnya dari berbagai bentuk pelayanan dan jasa-jasa yang diberikan.

Semasa The Great Recession di AS yang dimulai tahun 2008 hingga di masa The Great Recovery sekarang, unsur-unsur eksternal seperti situasi ekonomi makro dan iklim politik yang melahirkan kebijakan-kebijakan publiknya mempengaruhi semangat berpenemuan dan berinovasi. Termasuk juga inovasi yang berbentuk soft skills.

Para pebisnis perlu memperhatikan iklim ekonomi, sosial dan politik di negara maupun kota tempat melakukan bisnis. Apalagi ketika inovasi sekecil apapun mengalami hambatan regulasi. Di Singapura, misalnya, konser-konser musik dipatok seharga US$ 250 per tiket maksimum. Juga, restoran-restoran seafood sepanjang Clark Quay juga diatur harga jual-nya sehingga tidak terjadi predatory pricing.

Bagaimana suatu harga yang telah diregulasi mempengaruhi suatu produk? Tentu bisa. Bayangkan, dengan harga jual yang telah dipatok, inovasi tentu terbatas, karena keuntungan dan pengeluaran juga terbatas. Tentu Indonesia bukanlah Singapura, bahkan Silicon Valley juga bukan Singapura. Namun setiap kultur mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing yang mempengaruhi penemuan-penemuan dan inovasi-inovasi baru. Kultur Indonesia perlu mendapatkan semangat mencipta yang lebih besar dan dalam.


Close [X]