: WIB    —   
indikator  I  

Pemimpin transformatif

Pemimpin transformatif
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Kita semua pasti pernah mendengar nama-nama berikut: Abraham Lincoln, Albert Einstein, Michael Jackson, Pele, Muhammad Ali, JK Rowling, Bill Gates, Nelson Mandel, Oprah Winfrey, dan tentunya Mahatma Gandhi. Sosok-sosok di atas adalah orang-orang yang dulunya nobody, dan kelak kemudian hari menjadi somebody.

Abraham Lincoln adalah seorang politisi yang pernah delapan kali kalah dalam berbagai pemilihan (umum) di Amerika Serikat. Tapi, dia kemudian dicatat oleh sejarah sebagai salah satu presiden terhebat yang pernah dimiliki negeri Paman Sam. Albert Einstein, yang dianggap aneh karena suka melamun sendiri, selanjutnya menghasilkan teori relativitas yang paling fenomenal.

Adapun, Michael Jackson, anak ketujuh dari keluarga miskin Afro-amerika, kelak menjadi superstar yang paling heboh di abad milenium. JK Rowling, yang awalnya harus menulis di kafe demi menghemat listrik rumah, berhasil menjadi seorang miliarder berkat serial Harry Potter yang lahir dari pena di tangannya. Oprah Winfrey, yang secara gamblang mengaku lahir sebagai anak yang tak dikehendaki, akhirnya menjadi selebritas laris dan terkenal di Amerika.

Bill Gates? Tak perlu diomongkan lagi. Semua orang tahu, berbekal status drop-out dari Harvard University, ia meniti karier sebagai seorang programmer dan di kelak kemudian hari tercatat sebagai orang paling kaya di dunia.

Yang terakhir adalah Mahatma Gandhi, yang semula hanya lahir dan tumbuh sebagai remaja mapan yang biasa-biasa saja, beralih panggilan dan menghabiskan hidupnya sebagai seorang pejuang kemerdekaan India sekaligus tokoh dunia yang memberikan teladan gerakan anti-kekerasan (ahimsa).

Di dalam perspektif ilmu kepemimpinan, nama-nama di atas disebut sebagai transformational-leader, yakni sosok-sosok yang berhasil mengubah keadaan secara revolusioner (dari nothing menjadi something). Perubahan itu bukan hanya bagi dirinya sendiri, namun terutama bagi organisasi dan masyarakat di sekitarnya.

Ketika memimpin sebuah organisasi, para transformational leader dapat dilihat dari tiga kriteria. Pertama, memiliki rumusan visi masa depan yang jelas dan benderang. Kedua, membangun tekad yang kuat untuk mengejar visinya tersebut bersama-sama dengan segenap jajaran organisasinya. Ketiga, menunjukkan karakter history maker.

Bagi seorang history-maker, perjuangan kepemimpinannya terutama terletak pada kontribusi yang akan disumbangkan kepada lingkungan luas dan warisan (legacy) yang bakal ditinggalkannya kepada generasi penerus, bukannya kepada kepentingan pribadi diri sendiri.

Perlu konstituen

Transformational-leader bukanlah satu-satunya jenis kepemimpinan yang ada di dalam kamus praktik kepemimpinan. Oleh karena itu, tidak bisa dianggap sebagai tipe kepemimpinan yang paling baik. Sesuai dengan azas kepemimpinan situasional (situational leadership) yang digagas oleh Paul Hersey dan Ken Blanchard pada akhir 1970-an, tak ada gaya dan praktik kepemimpinan yang paling baik dan relevan untuk segala situasi dan zaman. Jenis kepemimpinan yang efektif selalu akan menyesuaikan diri dengan tuntutan situasi, baik itu tuntutan dari komunitas yang dipimpinnya, tuntutan faktor eksternal, perkembangan zaman dan sebagainya.

Dalam konteks situasi dan kondisi, transformational leader jadi relevan kalau hadir tuntutan perbaikan yang sangat besar dan kebutuhan perubahan yang kuat. Kaum politisi sering menganalogikan keadaan seperti ini sebagai kondisi revolusi yang sedang hamil tua.

Sikap transformasional pun menjadi gagasan kampanye yang paling laku dijual pada ajang kompetisi pemilihan pemimpin, termasuk pemilihan presiden. Barack Obama, pada pemilihan presidennya yang pertama kali tahun 2008, mengusung tema Change, We can.... Sementara itu, Joko Widodo (Jokowi) pada kampanye pemilihan presiden tahun ini tak sungkan-sungkan menjual jargon Revolusi Mental. Kedua jargon tersebut jelas dimaksudkan untuk menangkap aspirasi perubahan yang diteriakkan oleh masyarakat luas di negaranya masing-masing.

Namun, tak jarang kita menemukan kenyataan bahwa gagasan perubahan, yang ditawarkan dan diniatkan pada waktu awal, tak menghasilkan dampak perubahan yang nyata di kemudian hari. Tak seperti para tokoh di atas yang berhasil mengubah dirinya dari nobody menjadi somebody dan mengubah keadaan dari nothing menjadi something, gagasan perubahan itu tetap bergeming dari keadaan nobody dan nothing. Mengapa?

Studi menunjukkan bahwa di antara ketiga kriteria transformational-leader yang disebutkan di atas, yang paling sulit adalah mewujudkan kriteria kedua, yakni membangun tekad yang kuat untuk mengejar visinya tersebut bersama-sama dengan segenap jajaran organisasinya, dan kriteria ketiga yaitu menunjukkan karakter history maker.

Perubahan tidak hanya bisa dilakukan oleh seorang pemimpin sendirian, namun harus dibangun bersama-sama dengan konstituennya. Ada proses jatuh-bangun yang harus dilalui dan rasa sakit yang harus ditanggung, sebelum akhirnya bisa menikmati kondisi perubahan yang lebih baik.

Para ahli change-management menyebut rasa sakit seperti ini sebagai growing pain, rasa sakit yang memulihkan dan menumbuhkembangkan. Yang lebih penting, seorang pemimpin transformasional harus menghayati bahwa dia berada di barisan paling depan di antara kawanannya yang mengalami growing pain.

Sebagai history maker, tugas dan amanah pemimpin yang utama alah menciptakan sejarah kebaikan dan kemaslahatan bagi orang-orang di sekitarnya dan generasi-generasi selanjutnya. Jadi, bukan menciptakan sejarah kesuksesan (hisstory) bagi diri sendiri.


Close [X]