: WIB    —   
indikator  I  

Melahirkan Messi

Melahirkan Messi
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Ketika mendengar kata pengembangan karyawan, kebanyakan dari kita pasti membayangkan aktivitas pelatihan (training). Entah itu pelatihan model klasik di dalam ruangan dengan berbagai metode, semisal perkuliahan, studi kasus, simulasi dan sebagainya, ataupun pelatihan berbasis pengalaman (experiential-based) dalam bentuk pelatihan dinamika kelompok di alam terbuka atau lazim disebut juga outbound training.

Belakangan, seiring dengan perkembangan teknologi, pelatihan-pelatihan berlandaskan teknologi, baik dalam bentuk online, long-distance ataupun e-training, juga tak kalah semaraknya.

Seberapa signifikan kontribusi pelatihan seperti ini terhadap peningkatan kompetensi ataupun perubahan perilaku seseorang, selalu menjadi perdebatan di kalangan praktisi organisasi. Ada yang secara realistik berpendapat bahwa pelatihan memang mendatangkan dampak perubahan ataupun peningkatan kemampuan seseorang, namun seringkali tak berlangsung lama. Beberapa saat setelah training berlalu, sangat mungkin yang bersangkutan akan kembali ke derajat awal lagi.

Namun, tak jarang pula ada yang secara nyinyir berpandangan bahwa training tak lebih dari sekadar refreshing untuk melepaskan diri dari kepenatan dan kebosanan rutinitas pekerjaan sehari-hari. Apapun argumentasinya, umumnya kita sepakat bahwa pelatihan memang salah satu pendekatan pengembangan (development) seseorang, namun jelas bukan satu-satunya!

Layaknya proses pengembangan seorang anak yang membutuhkan berbagai intervensi, semisal pendampingan orang tua, pembelajaran di sekolah, sosialisasi dengan lingkungan masyarakat, program pengembangan karyawan juga semestinya dilakukan secara terpadu. Jadi, tidak semata-mata mengandalkan pada aktivitas pelatihan belaka.

Beberapa perusahaan besar yang saya ketahui, telah memiliki program pengembangan karyawan yang terintegrasi. Minimal ada tiga intervensi yang dijalankan demi mendapatkan hasil proses pengembangan yang lebih optimal. Ketiga intervensi tersebut adalah pelatihan (training), penugasan (assignment) dan pendampingan (coaching).

Program pelatihan akan melengkapi peserta dengan knowledge, baik berupa sebuah pengetahuan, konsep ataupun teori tertentu. Melalui penugasan, knowledge tersebut tak hanya akan menyangkut di kepala seseorang, namun justru bisa dikonversikan menjadi know-how, yakni sebuah keterampilan yang dapat dipraktikkan dalam situasi konkret sehari-hari.

Penugasan tersebut bisa diberikan dalam bentuk project yang mengandung pekerjaan baru, atau bahkan dalam wujud rotasi yang artinya adalah jabatan baru. Penugasan seperti ini dimaksudkan untuk mendorong seorang karyawan mengaplikasikan ilmu dan teori yang sudah dipelajarinya di ruang kelas pelatihan dalam konteks pekerjaan yang nyata.

Terakhir, dengan diberikan pendampingan yang tepat, know-how tersebut akan semakin terasah, dan akan mencapai tingkat performa terbaiknya, yang seringkali disebut sebagai kompetensi. Tugas seorang pendamping atawa coach yang paling sulit bukanlah dalam urusan berbagi ilmu ataupun mentransfer keterampilan, namun justru adalah membangun sikap. Ketika seseorang merasa lemah, ia bisa menguatkan; ketika berjalan melenceng, ia bisa meluruskan; ketika langkahnya melamban, ia bisa memacu kembali. Karena, pada akhirnya, orang yang hebat bukanlah sekadar orang yang memiliki ilmu yang banyak ataupun keterampilan yang mumpuni, namun terutama juga sikap kerja yang positif.

Pendekatan integratif

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa melalui pelatihan, seseorang akan mendapatkan pengertian (knowledge). Lalu, lewat penugasan, seseorang akan memperoleh keterampilan (know-how); dan melalui pendampingan maka seseorang bakal meraih kecakapan (competency).

Pendekatan integratif semacam ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh klub-klub sepakbola handal kelas dunia, semisal Barcelona, Manchester United ataupun Liverpool. Sebelum menjadi pesepakbola andal, Lionel Messi adalah seorang bocah yang dengan setia dan rajin belajar di akademi sepakbola milik Barcelona, bernama La Masia. Disitu pengetahuannya tentang filosofi, strategi dan teknik sepabola dikembangkan. Keterampilannya di atas lapangan diasah ketika ia mendapatkan penugasan untuk menjadi salah satu dari sebelas pemain, mulai dari tim Barcelona Junior, Barcelona C, Barcelona B, hingga pada akhirnya bergabung dengan Barcelona A alias tim senior utama.

Keterampilannya terasah maksimal, tatkala mendapatkan pendampingan dari beberapa coach yang dikaguminya, baik Tito Vilanova yang menggembleng Messi saat menjadi pemain tim junior, Frank Rijkaard yang memberikan kesempatan debutnya di tim senior utama, serta Pep Guardiola yang telah ikut mengantarnya sebagai pemain terbaik dunia berkali-kali.

Melalui perjalanan proses pengembangan yang panjang dan terpadu, saat ini tak ada yang meragukan kompetensi Lionel Messi sebagai pesepakbola andal kelas dunia. Lionel Messi yang kita kenal, bukanlah sekadar seorang genius sepakbola dengan kaki yang super-terampil, namun terutama juga sosok hebat yang bermain dengan hati.

Program pengembangan yang baik semestinya juga bisa melahirkan individu-individu yang memiliki pikiran yang cerdas (good head), memiliki tangan yang terampil (good hand), dan terutama juga hati yang penuh cinta terhadap apa yang dikerjakannya (good heart).


Close [X]