Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Dari Sarkozy ke Anisa Bahar

Dari Sarkozy ke Anisa Bahar
Chairman Department of Finance Prasetya Mulya Business School

Malang nian nasib Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy. Lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s akhirnya menurunkan peringkat utang teratas AAA menjadi AA+ Sabtu silam. Walau peringkat AA+ tergolong aman, namun perubahan itu mempermalukan Sarkozy yang akan menghadapi pemilu presiden tahun ini. Ia pernah berujar, “Jika peringkat Prancis turun, matilah saya.”

Prancis tidak sendirian. Austria juga kehilangan peringkat AAA-nya. S&P bahkan menurunkan peringkat utang Spanyol, Italia, dan Portugal  sekaligus dua level.

Kendati sudah mengantisipasi penurunan peringkat utang negara-negara Eropa, pasar saham global diramalkan tetap akan bereaksi negatif. Setidaknya, dalam jangka pendek. Kepanikan serupa pernah muncul ketika Amerika Serikat (AS) kehilangan peringkat AAA-.

Penurunan peringkat keempat negara Eropa itu, bakal menyulitkan proses penyelesaian krisis utang negara-negara Eropa. Ia bisa berbuntut ke pemangkasan rating European Financial Stability Facility (EFSF), penjaga stabilitas keuangan di zona euro. Jika peringkat EFSF benar turun, berarti lembaga itu harus mencari dana mahal.

Apa dampak bagi pasar saham kita? Nampaknya, kita harus mengenakan sabuk pengaman lagi, karena terbang di cuaca buruk. Euforia kenaikan peringkat utang Indonesia, yang mengangkat IHSG dari level 3.800 ke 3.900 di awal Januari 2012, bisa berakhir lebih cepat. Mereka yang menanti "January Effect,” silakan kecewa.

January Effect tahun ini tidak memiliki landasan fundamental, kecuali misbelief bahwa harga saham otomatis naik di Januari. Sebaiknya disadari, harga saham bisa naik di bulan apa saja, jika ada berita yang positif. “If a business does well, the stock eventually follows,” demikian ujar Warren Buffett.

Penurunan peringkat utang negara-negara Eropa ini kemungkinan akan meningkatkan fluktuasi harga saham di 2012. Kita sudah merasakan dampak drama krisis utang negara Eropa dan hantu resesi AS di tahun lalu. Ambil contoh, di saat IHSG kehilangan 320 poin atau 9%, hanya dalam sehari, 22 September 2011.

Fluktuasi bisa diartikan sebagai risiko. Namun, risiko bukan hanya kemungkinan mengalami hal yang lebih buruk daripada perkiraan. Ia juga bisa berarti kemungkinan mengalami hal yang lebih baik daripada perkiraan.

Orang China telah menyadari prinsip itu. Dalam menuliskan kata risiko, mereka menggunakan dua karakter: “wei” dan “chi” yang memiliki arti bahaya (wei) dan kesempatan (chi). Menghindari pembelian saham di 2012 bukan tindakan terbaik. Meski terhindar dari potensi kerugian relatif besar, kita juga kehilangan kesempatan meraup untung relatif besar.

Alih-alih menghindar, investor jangka panjang bisa siap-siap membeli saham-saham perusahaan berfundamental kuat dengan harga diskon. Memang, selalu ada kemungkinan, harga saham akan turun lagi dalam jangka pendek. Namun, jika kita membeli saham perusahaan yang bagus (memiliki bisnis menarik, punya brand yang kuat serta dikelola secara profesional dan etis), dalam jangka panjang, kita akan memetik buahnya.

Risiko besar yang ditanggung jika berinvestasi pada saham berfundamental kuat berbeda dengan kasus yang dialami Anisa Bahar. Pedangdut itu menjadi korban investasi emas yang menjanjikan keuntungan hingga 300% dalam waktu singkat.

Dalam investasi bodong, kita tidak memiliki potensi meraup keuntungan karena transaksi itu adalah penipuan. Sebelum berinvestasi, investor seharusnya meningkatkan kehatian-hatian.

Ada 3 W yang mesti diingat oleh investor. Pertama, WHAT. Apa yang ditawarkan kepada kita? Berapa imbal hasilnya? Apakah imbal hasil ini wajar atau “too good to be true”? Bagaimana imbal hasil tersebut dihasilkan? Singkat kata, kita harus “Know what you buy and buy what you know.”

Kedua, WHO. Siapa penjual produk investasi? Bagaimana rekam jejak si penjual? Apakah ia bisa dipercaya?

Ketiga, WHY. Mengapa kita membeli produk ini? Apa tujuan investasi kita? Apakah kita berinvestasi untuk pendidikan anak atau ingin memperoleh imbal hasil besar dalam waktu setahun?

Apakah risiko yang melekat di instrumen itu, cocok dengan profil risiko kita? Lalu, apa kita siap menanggung risiko yang besar?