Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Lagi, salah kaprah di bursa saham

Lagi, salah kaprah di bursa saham
Staf pengajar FEUI dan pengamat pasar modal

Melanjutkan tiga salah kaprah di bursa saham dalam artikel saya bulan lalu, inilah empat salah kaprah lain berdasarkan observasi saya.

Pertama, investor percaya, return rata-rata investasi saham tercermin dari pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Jika return portofolio saham di atas pertumbuhan IHSG, kinerja portofolio tersebut dikatakan bagus karena sukses mengalahkan pasar.

Pandangan ini salah, karena IHSG hanya menggambarkan komponen capital gain (kenaikan harga). Sementara itu, return investasi terdiri atas dividen dan capital gain. Karenanya, return acuan untuk kinerja pasar (atau rata-rata) seharusnya adalah perubahan IHSG + dividend yield yang besarnya sekitar 2%. Jika IHSG tahun lalu naik 22,3%, maka return patokan portofolio seharusnya adalah 24,3% (22,3%+2%).

Kedua, masih berkait dengan yang pertama. Untuk mengukur kinerja sebuah reksadana saham mengalahkan pasar atau tidak, kita dapat membandingkan return reksadana itu dengan perubahan IHSG periode yang sama. Jika IHSG tumbuh hingga 106,2% lima tahun terakhir, yaitu dari awal tahun 2010 hingga akhir tahun 2014, reksadana yang memberikan return lebih baik dari angka tersebut umumnya langsung menyebutkan diri mereka hebat, karena mengungguli pasar.

Bahkan ada yang hanya naik di atas rata-rata reksadana saham lain juga mengklaim mengalahkan pasar. Investor awam umumnya percaya .

Pandangan itu keliru karena return rata-rata reksadana saham lima tahun terakhir 84,2% dengan median 81,7%. Kinerja reksadana saham ternyata lebih dekat dengan pertumbuhan indeks LQ-45, yang hampir selalu di bawah IHSG tujuh tahun terakhir kecuali tahun lalu.

Ini lantaran di reksadana saham hampir pasti adalah saham-saham likuid dan kapitalisasi besar atau masuk LQ-45. Yang membedakan satu reksadana saham dengan yang lain hanya bobot saham LQ-45 itu dalam portofolio mereka.

Lima tahun terakhir indeks LQ-45 ternyata tumbuh jauh di bawah IHSG, hanya 80,3% berbanding 106,2%. Dengan menggunakan acuan 106%, hanya ssebelas dari 52 reksadana saham berumur lima tahun atau lebih yang benar-benar mengalahkan IHSG.

Jika dividend yield IHSG yang sebesar 2% setahun diperhitungkan, tersisa empat reksadana saja yang dapat menyebut lebih hebat dari pasar. Sisanya, sebanyak 48 reksadana saham dalam rupiah kalah dari kinerja pasar.

Ketiga, berhubungan dengan strategi investasi. Banyak yang menganggap, strategi aktif mampu mengalahkan yang pasif. Bukankah keuntungan harian yang hanya 0,5% menjadi 100% lebih setahun?

Para trader percaya jika keuntungan bulanan 3% menjadi 42,6% setahun dengan menggunakan konsep bunga majemuk. Masalahnya, siapa yang memastikan return harian 0,5% atau bulanan 3% itu? Untung belum pasti, tapi biaya transaksi tetap harus dibayar.

Dengan sering bertransaksi, Anda akan disukai banyak pihak. Mulai dari broker dan perusahaan sekuritas Anda hingga self-regulatory organization (SRO), seperti Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Anda memperbesar keuntungan mereka, tapi belum tentu untuk diri Anda sendiri.

Salah kaprah ini juga menjelaskan mengapa hanya segelintir manajer investasi pengelola reksadana saham berkinerja bagus, sementara yang lain biasa-biasa saja dan melempem. Ini karena mereka menerapkan strategi aktif dengan mengandalkan analisis momentum dan teknikal. Akibat strategi dan pendekatan ini, mereka sering bertransaksi sehingga biaya transaksi besar.

Pakar investasi sekelas Warren Buffett dan Benjamin Graham menyarankan agar para investor menghindari reksadana aktif dan hanya mengoleksi reksadana pasif, terutama reksadana indeks. Ini senada dengan hasil penelitian Barber dan Odean yang dipublikasikan di jurnal keuangan paling bergengsi, yaitu Journal of Finance dengan judul provokatif, yaitu Trading is Hazardous to Your Wealth (2000).

Pengamatan saya, tak banyak investor kita yang menyadari kalau strategi aktif apalagi ikut-ikutan pasar, berbahaya bagi kekayaan mereka.

Keempat, banyak investor domestik percaya, jika investor asing dengan dana besarnya menguasai sekitar 65% saham free-float mempunyai kemampuan analisa lebih baik. Sehingga akan memperoleh return lebih besar daripada investor dalam negeri. Terbukti, IHSG umumnya naik jika terjadi net buy asing dan sebaliknya.

Penelitian Dvorak dalam Journal of Finance (2005) berkesimpulan sebaliknya. Investor saham domestik yang nasabah sekuritas asing, memperoleh keuntungan lebih besar dan lebih unggul dalam informasi. Sejatinya, investor bermodal besar di bursa berkapitalisasi kecil seperti di BEI juga mengalami kesulitan, yaitu market impact.

Saham apapun yang dibeli akan naik dan yang dijual akan turun. Sementara itu,  investor dengan dana ngepas lebih fleksibel karena dapat keluar-masuk tanpa berdampak ke pasar.