Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Investasi saham

Investasi saham
Senior Advisor PT BNP ParibasInvestment Partners

Berapa jumlah investor yang berinvestasi saham secara langsung di Bursa Efek Indonesia? Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlahnya tak lebih dari 400.000 orang. Bagaimana jumlah pemegang rekening dana pihak ketiga (tabungan dan deposito) di bank? Menurut data Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS), jumlahnya sekitar 161 juta orang.

Mengapa masyarakat Indonesia sedikit sekali yang berinvestasi di saham? Alasan yang diberikan oleh banyak orang biasanya: takut merugi dan tak tahu caranya.

Bicara keuntungan investasi di saham, kita bisa menggunakan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai indikatornya. Selama kurun waktu 17 tahun (Desember 1997Desember 2014), IHSG naik 1.201,17 % atau rata-rata 16,29% per tahun. Sedangkan di kurun waktu 10 tahun terakhir (Desember 2004 - Desember 2014), IHSG naik 422,57% atau rata-rata 17,98% per tahun. Memang angka rata-rata di atas bukan berarti setiap tahun investasi saham selalu positif. Tahun 2008 misalnya, IHSG turun lebih dari 50%, artinya jika investor hanya berinvestasi pada tahun itu saja, akan merugi sebesar itu.

Sayangnya, banyak masyarakat hanya "terpukau" oleh ketakutan akan kerugiannya namun melupakan potensi keuntungannya. Memang benar investasi saham berisiko, namun justru itulah saham menawarkan potensi keuntungan lebih tinggi pula.

Alasan lebih tepat mengapa banyak masyarakat belum berinvestasi di saham adalah karena belum tahu dan belum mengerti caranya. Jika memahami caranya, akan mengerti pula bagaimana mengelola sekaligus meminimalisir risiko kerugian yang bisa terjadi.

Segala sesuatu ada ilmunya, begitu pula jika kita ingin berinvestasi di saham. Sulitkah mempelajari dan melakukan investasi di saham?

Ada dua cara berinvestasi di saham, secara langsung, artinya membeli dan menjual saham di bursa melalui broker, atau secara tidak langsung melalui reksadana. Jika secara langsung, Anda perlu menganalisis dan mengelola sendiri. Cara ini relatif sulit dan akan terkendala waktu oleh kesibukan rutin sebagai pekerja.

Berinvestasi saham secara tidak langsung melalui reksadana menjadi jauh lebih mudah karena dikelola oleh manajer investasi dan Bank Kustodian. Namun berinvestasi langsung atau tidak langsung, sangat disarankan Anda berorientasi jangka panjang jika ingin berinvestasi di saham.