: WIB    —   
indikator  I  

Menjinakkan risiko investasi

Menjinakkan risiko investasi
Center For Finance And Investment Research Prasetiya Mulya Business School

Risiko investasi pada saham bisa dijinakkan dengan cara relatif mudah, yakni melalui diversifikasi. Mari kita simak dasar teorinya.

Pada umumnya, saham atau bisnis memiliki korelasi positif satu dengan yang lain, meskipun tidak sempurna. Mengapa? William Sharpe (1963, 1964), pemenang Nobel bidang Ekonomi tahun 1990 bersama Harry Markowitz, menjelaskan, semua saham atau bisnis terpengaruh oleh kejadian makro dan mikro.

Kejadian makro adalah kejadian yang menimpa seluruh saham atau bisnis tanpa kecuali. Misalnya, kenaikan tarif pajak, turunnya suku bunga, resesi dan gejolak politik. Faktor makro sering disebut faktor pasar sehingga risiko yang ditimbulkan disebut risiko pasar (market risk).

Kejadian mikro adalah kejadian spesifik yang hanya menimpa sebuah saham atau bisnis. Misalnya, pemogokan karyawan di sebuah perusahaan, meninggalnya CEO, bangkrutnya sebuah bank.

Diversifikasi saham hanya bisa mengurangi risiko akibat kejadian mikro. Risiko pasar tidak bisa hilang, meskipun kita telah melakukan diversifikasi. Inilah sebabnya ketika terjadi krisis keuangan global sejak pertengahan tahun 2008, harga saham semua sektor industri terkena imbas negatif, meskipun dengan besaran berbeda.

Warren Buffett, investor legendaris, juga tidak terlepas dari hantaman krisis. Ia mengalami kerugian sekitar US$ 25 miliar akibat saham Berkshire Hathaway, holding company konglomeratnya, jatuh hampir 50% dalam waktu setahun.

Maka, untuk menjinakkan risiko, investor harus selalu melakukan diversifikasi. Namun, risiko tidak bisa dihilangkan seluruhnya.

Untuk menggambarkan pentingnya diversifikasi, mari kita melihat kasus dua teman saya. Katakanlah nama mereka Nekad dan Mujur. Keduanya orang-orang beruntung karena masih memiliki uang bebas (free cash flow) yang dapat dikembangbiakkan.

Pada awal 2008, Nekad menaruh hampir seluruh dananya pada saham. Dia masih teringat nikmatnya mendapat keuntungan besar berinvestasi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2007. Maklum, tahun itu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 55%.

Alhasil, Nekad tetap mempertahankan portofolio sahamnya, bahkan berusaha meningkatkan investasi saham dengan memakai keuntungan tahun lalu. Masih belum puas, ia menjual emas dan obligasi untuk dibelikan saham.

Nekad menggunakan dananya untuk membeli sekitar lima saham. Dia memang fanatik pada saham perusahaan batubara dan kelapa sawit yang telah memberinya keuntungan besar di tahun 2007.

Tapi, sejak semester dua 2008, IHSG terus turun. Selama 2008, IHSG ambruk 55%. Kekayaan Nekad turun drastis seiring hancurnya harga saham perusahaan batubara dan kelapa sawit idolanya.

Teman saya yang kedua, si Mujur, menaruh sebagian uangnya di saham dan sebagian lagi di dollar AS. Ia masih trauma dengan pengalamannya di tahun 1998, saat harga saham di Bursa Efek Jakarta hancur dan nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar AS secara drastis.

Ketika pasar saham sedang bullish tahun 2007, ia tidak tergoda menjual dollar AS untuk membeli saham, meskipun kurs dollar AS dan rupiah hampir tak berubah beberapa tahun terakhir. Selama tahun 2008, Mujur, sebagaimana halnya investor lain di dunia, harus menanggung kerugian cukup besar dari jatuhnya harga saham. Namun, di pengujung 2008, nilai dollar AS yang ia simpan melesat sekitar 35%.

Keuntungan investasi dollar ini mengurangi kerugian yang dari investasi saham. Kesabaran dan konsistensi Mujur melakukan diversifikasi menyelamatkan dirinya dari petaka.

Pada praktiknya, mengurangi risiko dengan diversifikasi harus dibayar dengan berkurangnya imbal hasil yang diharapkan. Namun tidak usah khawatir, selama koefisien korelasi antara imbal hasil saham dalam portofolio tidak positif satu, penurunan imbal hasil lebih kecil dibandingkan penurunan risiko portofolio.

Pada umumnya, semakin banyak saham yang ada dalam portofolio investasi, maka risiko investasi akan berkurang. Namun penurunan risiko investasi ini ada batasnya.

Penelitian di Amerika Serikat (AS) mengindikasikan bahwa saat jumlah saham dalam portofolio mencapai 12 hingga 18 saham, keuntungan dari diversifikasi sudah terealisasi sekitar 90%. Untuk menghilangkan hampir seluruh risiko yang memang bisa dibuang melalui diversifikasi, dibutuhkan sekitar 25 hingga 30 saham. Hal serupa saya temukan di BEI dalam sebuah riset bersama mahasiswa STIE Prasetiya Mulya.

Artinya, untuk menjinakkan risiko kita tidak perlu memborong seluruh saham yang ada di sebuah bursa efek. Cukup sekitar 30 saham. Namun angka 12 hingga 18 saham dalam sebuah portofolio layak dipertimbangkan.

Memegang terlalu banyak saham ada ruginya. Ini karena sulit bagi investor memperhatikan perubahan fundamental perusahaan-perusahaan yang sahamnya mereka pegang.


Close [X]