: WIB    —   
indikator  I  

Jangan abaikan perusahaan jelek

Jangan abaikan perusahaan jelek
Pengamat pasar uang dan pasar modal

Banyak investor, termasuk yang berpengalaman sekalipun, menilai saham bagus atau jelek berdasarkan bagus atau jeleknya perusahaan. Demikian kesimpulan dari hasil penelitian Hersh Shefrin, ahli behavioral finance.

Sejatinya, saham bagus tidak identik dengan perusahaan bagus. Saham yang bagus adalah saham berharga bagus atau saham yang menjanjikan return yang besar di masa depan atau saham yang harganya jauh di bawah nilainya.

Seorang kawan saya yang sekaligus investor lihai, mendefinisikan saham bagus sebagai saham yang mempunyai volatilitas harga tinggi, yang membuka kesempatan bagi investor untuk mendulang untung beberapa kali.

Kebanyakan buku teks memang mendefinisikan saham dengan volatilitas harga tinggi sebagai saham yang memiliki risiko tinggi, hingga harus dihindari. Saya menyukai definisi terakhir, tetapi lebih pas dengan definisi pertama.

Sedang perusahaan bagus memiliki ukuran yang lebih jelas, seperti mempunyai rating minimal tripel B.  Kriteria lain perusahaan bagus adalah perusahaan yang produknya ada di sekitar kita, dan laba serta total aset terus bertumbuh secara konsisten dari waktu ke waktu.

Tidak sulit mencari perusahaan-perusahaan yang memenuhi semua syarat di atas. Untuk mudahnya, sesuai definisi versi majalah Fortune, saya akan gunakan nilai kapitalisasi pasar sebagai kriteria bagus-jeleknya perusahaan.

Idealnya, kita memegang saham bagus yang perusahaannya juga bagus dan menghindari saham jelek yang perusahaannya juga jelek. Masalahnya, akibat optimisme dan pesimisme yang berlebihan, saham perusahaan bagus umumnya kemahalan dan saham perusahaan jelek menjadi kemurahan. Jadi, yang sering tersedia di bursa adalah saham jelek dari perusahaan bagus dan saham bagus dari perusahaan jelek.

Jika disodorkan pada dua pilihan itu, mana yang sebaiknya Anda pilih?

Empat kriteria berikut menentukan mana yang cocok untuk Anda. Pertama, jika target Anda hanya return 15%-20% per tahun, saham jelek dari perusahaan bagus layak Anda koleksi. Tetapi kalau target return Anda 30% atau lebih, saran saya adalah memilih saham bagus dari perusahaan jelek.

Namun, Anda harus berhati-hati juga karena biasanya saham yang menjanjikan potensi keuntungan 30% lebih setahun mengandung risiko yang juga tinggi sesuai kaidah high risk, high return. Penjelasan gampangnya, pada saat terjadinya resesi, saham perusahaan bagus umumnya lebih tahan goncangan. Investor akan cenderung melepas saham perusahaan jelek lebih dulu.

Saham mana yang sebaiknya dipilih juga tergantung apakah Anda mengelola uang sendiri atau uang orang lain. Jika Anda seorang manajer investasi atau manajer keuangan, saran saya sebaiknya mengalokasikan sebagian besar portofolio untuk perusahaan bagus.

Alasannya, jika Anda memilih saham bagus dan ternyata hasilnya jauh di bawah ekspektasi, katakan harganya turun, maka Anda pasti disalahkan. ”Perusahaan jelek seperti itu kok sahamnya dibeli?” Beda dengan perusahaan bagus yang sahamnya kebetulan turun setelah dibeli. Anda bisa mengatakan karena nasib sedang sial atau karena kondisi makro ekonomi sedang tidak mendukung, para pemilik uang umumnya dapat menerima kesalahan Anda. Anda boleh membeli saham bagus dari perusahaan jelek jika uang itu milik sendiri.

Ketiga, yang juga tidak boleh dilupakan adalah faktor periode investasi. Apakah Anda membeli saham dan berniat memegangnya bertahun-tahun atau hanya dalam hitungan bulanan? Untuk jangka panjang, saran saya membeli perusahaan bagus. Jika Anda memutuskan membeli saham bagus dari perusahaan jelek, jangan lupa melakukan evaluasi atas investasi Anda itu, minimal dua kali setahun. Membeli saham bagus dari perusahaan jelek memang tidak bisa memberikan Anda tidur nyenyak seperti memegang saham perusahaan bagus.

Kriteria terakhir, strategi investasi Anda juga ikut menentukan saham mana yang sebaiknya dikoleksi. Jika Anda bermain saham secara aktif sehingga tiada minggu atau bahkan hari berlalu tanpa bertransaksi saham, memilih saham bagus dari perusahaan jelek sangat direkomendasikan. Sebaliknya, jika Anda cenderung pasif sebagai investor dengan strategi buy and hold, saran saya mengumpulkan saham jelek dari perusahaan bagus.

Data di Bursa Efek Indonesia selama 2009-2010 menunjukkan, saham yang mengalami kenaikan harga terbesar adalah saham-saham perusahaan jelek, berdasar nilai kapitalisasi pasar, yaitu di bawah 0,5%. Hanya Bayan Resources (BYAN) yang memiliki kapitalisasi pasar lebih dari itu, tepatnya 1,9%, dan mampu memberi return 501% di tahun 2009. 


Close [X]