Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Jadi pengusaha versus pemilik perusahaan

Jadi pengusaha versus pemilik perusahaan
Senior Advisor PT BNP ParibasInvestment Partners

Anda ingin kaya? Nasihat yang sering kita dengar adalah jadilah pengusaha, jangan menjadi karyawan. Nasihat ini ada benarnya, coba tengok daftar orang terkaya di setiap negara atau dunia. Umumnya, profesi mereka adalah pengusaha. Mereka sukses secara materi karena memiliki saham dari perusahaan yang sukses

Jadi memang kesuksesan perusahaan yang membuat mereka kaya, bukan karena sekadar "bertitel" pengusaha. Namun, tentu saja tidak mudah untuk menjadi pengusaha yang bisa membangun perusahaan hingga mencapai kesuksesan. Itu sebabnya, tidak semua orang mau dan mampu menjadi pengusaha.

Apakah untuk bisa memiliki perusahaan harus selalu menjadi pengusaha? Apakah seorang pekerja atau yang bukan pengusaha, juga bisa memiliki perusahaan? Kalau Anda menjawab kedua pertanyaan di atas dengan "ya" dan "tidak", Anda salah. Untuk menjadi pemilik perusahaan, Anda tidak harus menjadi pengusaha. Siapapun bisa memiliki perusahaan, yang sudah menjual sahamnya kepada publik di Bursa Efek Indonesia (BEI) atau di bursa efek negara lain.

Mengapa karyawan, atau siapa pun yang bukan pengusaha dan yang tidak bisa jadi pengusaha perlu mempertimbangkan menjadi "pemilik" perusahaan alias berinvestasi di saham? Apakah karena ingin kaya? Selain ingin kaya, alasan yang lebih tepat adalah karena berinvestasi di saham, selain instrumen lain, bisa membantu mempersiapkan kebutuhan masa depan. Minggu lalu sempat dijelaskan, bagaimana investasi di saham secara historis memberikan keuntungan yang tinggi dalam jangka panjang, rata-rata 17,98% dalam 10 tahun terakhir.

Dengan adanya reksadana, berinvestasi di saham menjadi sangat mudah. Perencanaan investasi masa depan menjadi sangat mungkin dilakukan walau dengan dana investasi yang relatif kecil. Namun, memang, memanfaatkan saham untuk perencanaan investasi harus dilakukan dalam jangka panjang, demi mengurangi risiko fluktuasi harga saham.

Walau tak perlu menjadi pengusaha, sebagai investor pemilik perusahaan, Anda tetap perlu "berjiwa" pengusaha. Mau dan bersedia "jatuh bangun" dan "sabar" mengikuti fluktuasi harga demi meraih kesuksesan jangka panjang, layaknya seorang pengusaha.