: WIB    —   
indikator  I  

Rupiah tembus Rp 13.000, kok, IHSG naik terus?

Rupiah tembus Rp 13.000, kok, IHSG naik terus?
Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Twitter: @RencanaTrading

Satu hal yang menjadi pertanyaan banyak orang, ketika rupiah menyentuh Rp 13.000 per dollar AS, mengapa IHSG malah menguat hingga di atas level psikologis 5.500? Saya mencoba melihat grafik dari aliran dana asing yang terjadi sejak akhir 2013.

Banyak yang skeptis, IHSG naik karena pemodal asing yang terperangkap, kembali masuk ke bursa. Mereka masuk di Desember 2013 saat kurs Rp 9.000-an per dollar. Rata-rata beli mereka, saat nilai tukar di Rp 10.000-an. Setelah posisi jual di September 2014Januari 2015, mereka juga tidak bisa keluar (mengonversi posisi dalam dollar) karena masih rugi. Mereka tak ada pilihan lain, tetap memegang rupiah, masuk (posisi beli) lagi ke saham Indonesia.

Dugaan itu bisa saja benar. Aliran dana asing belum kembali ke level tertinggi 8 September 2014, saat net buy Rp 46,01 triliun. Setelah mencapai level terendah 21 Januari 2015 di Rp 26,9 triliun, aliran dana asing hingga Jumat pekan lalu cuma Rp 14,47 triliun. Total jenderal, dana asing hanya kembali Rp 41,36 triliun. Dengan posisi pemodal asing lebih rendah dari level tertinggi, bisa jadi mereka adalah dana asing yang terlanjur terperangkap dalam rupiah.

Kalau dana asing tak bisa melewati Rp 46,01 triliun, dugaan itu bisa saja benar. Tapi, saya lebih suka memandang dari sudut pandang lain. Fund manager asing paling suka dengan turn around story, yakni kondisi yang cenderung memburuk, berubah menjadi membaik.

Timing akumulasi saham, bukan ketika laba bersih terus menurun. Tapi ketika kondisi terburuk sudah berlalu dan laba bersih mulai naik. Timing membeli saham misalnya bukan ketika harga dalam tren turun, tapi ketika titik terburuk terlewati dan harga mulai bergerak menanjak, bergerak naik. Hal itulah yang sedang mereka lihat pada perekonomian Indonesia.

Di kuartal IV- 2014, pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik ke 5,01%. Harapan pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik, terlihat semakin kuat. Faisal Basri dalam outlook ekonomi di acara J-Club Expo, menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I- 2015 5,3%-5,4%. Tahun ini, ia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi bisa 6%. Perkiraan pertumbuhan ekonomi kita sudah melewati masa terburuk, memicu pemodal asing rajin melakukan posisi beli.

Dan perekonomian dunia terjadi perang mata uang (currency war) agar ekspor mereka, bisa lebih kompetitif. Currency war berawal dari langkah The Fed yang mulai mengembalikan suku bunga ke level normal. Ini setelah krisis 2007-2008 memaksa AS meletakkan suku bunga di 0,25% dalam quantitative easing (QE). Dengan suku bunga dollar naik sesuai tapering , bank sentral berbagai negara "sengaja" melemahkan mata uang, agar ekspor kompetitif. Ekspor meningkat, ekonomi berjalan, lapangan kerja tersedia dan seterusnya.

Pelaku pasar memandang, langkah Bank Indonesia (BI) menurunkan BI rate sebagai posisi yang lebih mengedepankan pertumbuhan ekonomi, dibanding posisi rupiah yang kuat.

Perbedaan investor asing dan lokal, sering berada pada sudut pandang waktu (time horizon) investasi. Pemodal lokal biasanya bingung akan hal jangka pendek, sehingga melupakan tujuan investasi sebenarnya: pertumbuhan aset di jangka panjang. Itu sebabnya, pemodal lokal lebih bingung dengan rupiah di Rp 13.000 dibanding hal lain.

Asing konsisten: melihat turn around story, ke depan, pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik lagi. Ini memicu mereka melakukan aksi beli. Perbedaan terlihat, kok. Saham-saham konstruksi yang biasanya mainan pemodal lokal, stagnan.

Kalau melihat grafik aliran dana asing yang sudah Rp 41,36 triliun, kita akan melihat apakah asing benar-benar masuk ke bursa kita, melewati Rp 46,01 triliun atau mereka hanya sekadar memanfaatkan dana yang ada, karena sudah terlanjur berada dalam rupiah.

Kalau saya lebih cenderung m skenario turn around story. Asing masuk, karena masa terburuk pertumbuhan ekonomi Indonesia berlalu. Soal rupiah, selama tidak ada kepanikan, rupiah tidak bergerak dalam volatilitas tinggi, tidak perlu khawatir. Toh pelemahan mata uang adalah fenomena global. Harapannya, nilai tukar membaik, seiring pertumbuhan ekonomi dan terkendalinya neraca perdagangan.

Jadi, Anda hanya akan termangu dan menunggu karena kurs sudah Rp 13.000? Sebaiknya jangan. Nanti kalau pertumbuhan ekonomi kuartal I-2015 tinggi, harga saham sudah lebih tinggi lagi, Anda terlambat, ketika memutuskan masuk. Happy trading, semoga barokah.

 

 

 


Close [X]