: WIB    —   
indikator  I  

Perubahan berkelanjutan

Perubahan berkelanjutan
Pengamat manajemen dan kepemimpinan

Akhir tahun lalu media massa menyoroti penutupan beberapa taman budaya dan pusat studi kebudayaan yang tersebar di segenap tanah air kita. Salah satu yang mendatangkan banyak komentar dan keprihatinan adalah penutupan Yayasan Karta Pustaka, pusat kebudayaan Indonesia-Belanda di Kota Yogyakarta.

Sekitar 10.000 judul buku koleksi milik yayasan pun dilego, demi penggalangan dana. Dana itu untuk mencukupi ongkos pisah para karyawan yayasan yang sudah mengabdi selama sekian lama.

Banyak orang, terutama mereka yang pernah menikmati karya-karya pustaka dan pentas budaya di sana, merasa kehilangan yayasan yang berdiri sejak tahun 1967 tersebut. Bahkan, beberapa pengamat dan pelaku seni budaya menunjukkan kekecewaan terhadap penutupan beberapa taman dan pusat studi kebudayaan. Bagi mereka, bangsa yang berbudaya adalah bangsa yang tak hanya bisa membangun, namun terutama juga menjaga dan merawat karya-karya budaya. Lebih jauh, bahkan membangunnya kembali dalam bentuk karya budaya yang lebih maju, hebat, dan mulia.

Konsep trilogi peradaban: membangun, memelihara dan membangun kembali, sesungguhnya terkandung pula dalam ajaran-ajaran spiritualitas sejak masa lampau. Misalnya saja, di dalam ajaran Hinduisme, kita mengenal tiga kekuatan Sang Hyang Widhi yang disebut juga Trimurti, dan direpresentasikan oleh tiga dewa utama, yakni Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Brahma adalah dewa pencipta, yang membuat sesuatu eksis pada awalnya. Sementara itu, Wisnu adalah dewa pemelihara, yang menjaga dan merawat sesuatu agar tetap ada dan berkembang. Dan terakhir, Dewa Siwa adalah dewa pelebur, yang melebur segala sesuatu yang memang pantas untuk dilebur, agar kelak dapat diciptakan kembali dengan bentuk dan keadaan yang lebih baik.

Tiga fungsi kehidupan inilah, yakni mencipta, memelihara, dan melebur untuk penciptaan baru, yang membangun peradaban manusia dari masa ke masa, ke arah yang lebih baik dan mulia.

Lalu, apa hubungannya dengan bisnis? Sebagian dari kita pasti pernah mendengar pepatah yang berbunyi: wealth does not pass three generations. Intinya, jarang sekali sebuah perusahaan keluarga yang bisa eksis, bertahan, dan bertumbuh melampaui tiga generasi. Mengapa?

Seperti guyonan yang lazim kita dengar, umumnya yang terjadi adalah generasi pertama dengan susah payah membangun, generasi kedua dengan nyaman menikmati, dan generasi ketiga dengan tanpa beban menghancurkannya. Alih-alih mendatangkan bentuk organisasi yang lebih baik dan kuat, tiga tahapan generasional tersebut justru berujung kepada kehancuran organisasi itu sendiri.

Di sinilah letak relevansi keberlangsungan sebuah organisasi bisnis dengan strategi peradaban manusia. Organisasi dengan orientasi komersial sekalipun, membutuhkan topangan peradaban, demi kelangsungan dan pertumbuhannya.

 

Trilogi peradaban

Teori change management memperkenalkan konsep change in continuity, yakni melakukan perubahan dalam konteks keberlangsungan suatu organisasi. Pada hakikatnya, change in continuity merupakan konsep perubahan yang dilakukan dalam kerangka trilogi fungsi peradaban di atas, yakni membangun, memelihara, dan membangun kembali.

Terlihat sederhana, namun seringkali agenda perubahan dilakukan secara parsial tanpa memperhatikan ketiga konteks tersebut secara keseluruhan. Tak mengherankan bila kita menyaksikan ada sosok yang ahli dalam membangun, namun tak pandai merawat dan menjaga apa yang dibangunnya.

Selain itu, ada yang sangat tekun dan kaku memelihara apa yang sudah ada, namun tak terbuka untuk melebur dan membangunnya kembali. Tak jarang pula, ada yang berusaha menciptakan kreasi baru, dengan serta-merta mengabaikan kreasi lama yang pernah ada.

Godaan terbesar seseorang yang baru menduduki kursi kepemimpinan adalah dorongan untuk melakukan perubahan, secepat dan sesegera mungkin. Bagaimanapun, secara alamiah, manusia selalu memiliki naluri untuk menciptakan warisan (legacy) bagi organisasinya. Jelas ini sebuah niat yang baik.

Persoalan muncul ke permukaan saat seorang pemimpin melakukan perubahan hanya sekadar demi perubahan itu sendiri (change for the sake of change). Bahkan, perubahan dilakukan tanpa mengaitkan dengan konteks masa lalu, juga tidak menautkannya dengan visi masa depan.

Kalau sudah demikian, bisa saja terjadi, apa yang baru selesai dibangun, seketika itu juga dibongkar lagi tanpa sempat dimanfaatkan dan dipelihara. Atau juga, segera mengambil inisiatif untuk membangun kembali, namun tanpa bersungguh-sungguh memanfaatkan dan menyempurnakan apa yang sudah ada.

Pada akhirnya, change in continuity adalah proses perubahan yang dilakukan dalam dinamika pertumbuhan, yang sekaligus mengandung elemen-elemen, yaitu membangun, memelihara dan membangun kembali. Artinya, keberlangsungan dan pertumbuhan organisasi itu jauh lebih penting dari proses perubahan itu sendiri.

Jadi, kalau ingin melakukan perubahan, pastikan bahwa perubahan tersebut untuk pertumbuhan organisasi yang lebih baik, bukan dilakukan di atas sikap gagah-gagahan dan ego pribadi seorang pemimpin.

 


Close [X]