: WIB    —   
indikator  I  

Cicilan investasi dan alokasi aset

Cicilan investasi dan alokasi aset
Senior Advisor PT BNP ParibasInvestment Partners

Salah satu hal penting ketika kita membuat perencanaan investasi, selain menetapkan tujuan, besarnya dana yang dibutuhkan dan jangka waktu kapan tujuan itu ingin dicapai, adalah membuat keputusan "alokasi aset". Alokasi aset adalah menentukan pembagian investasi ke dua atau lebih instrumen investasi.

Penentuan alokasi aset akan memberikan indikasi tingkat imbal hasil dari investasi yang kita harapkan dan dapat digunakan untuk menentukan berapa "cicilan investasi" yang perlu kita lakukan setiap bulan.

Contoh, jika ingin mengumpulkan modal persiapan pensiun senilai Rp 1 miliar, 20 tahun dari sekarang, berapakah "cicilan investasi" per bulan yang harus disiapkan?

Dengan kalkulator finansial, pertanyaan itu dapat dijawab jika kita memasukkan data indikasi imbal hasil investasi jangka panjang yang kita harapkan. Seperti layaknya menentukan cicilan kredit pemilikan rumah (KPR), besarnya bunga pinjaman akan menentukan besarnya cicilan per bulan.

Untuk contoh di atas, jika rata-rata imbal hasil investasinya 4,8% per tahun dengan asumsi berinvestasi hanya di deposito maka cicilan per bulan sekitar Rp 2,5 juta, dengan total cicilan Rp 595 juta untuk mencapai Rp 1 miliar di akhir tahun ke-20. Jika rata-rata imbal hasil investasinya sebesar 12% per tahun, untuk mencapai Rp 1 miliar, cicilan investasi perbulannya sekitar Rp 1 juta, dengan total cicilan Rp 240 juta, selama 20 tahun. Lebih ringan cicilannya bukan?

Bagaimana mencapai rata-rata imbal hasil investasi sebesar 12% per tahun? Jelas tidak mungkin jika kita hanya mau berinvestasi 100% di deposito. Kita perlu mempertimbangkan dan membentuk portofolio saham dan obligasi dengan komposisi alokasi aset tertentu. Untuk bisa menentukan alokasi aset, kita perlu memprediksi perkiraan imbal hasil investasi saham dan obligasi.

Misal dalam jangka panjang estimasi rata-rata per tahun imbal hasil saham dan obligasi masing-masing 16 % dan 7 % (setelah pajak), maka alokasi investasi masing-masing dapat dihitung dengan formula berikut: (16% x alokasi saham)+(7% x alokasi obligasi)=12%.

Dengan formula di atas didapat 56% alokasi saham dan 44% alokasi obligasi. Inilah alokasi portofolio investasi yang perlu kita jalankan.

Perlu juga kita sadari bahwa angka-angka di atas merupakan ilustrasi untuk suatu perencanaan bagaimana menentukan alokasi aset, bukan suatu jaminan atau kepastian yang akan terjadi.


Close [X]