: WIB    —   
indikator  I  

Tangan kanan memberi, kiri...

Tangan kanan memberi, kiri...
Pengamat manajemen dan kepemimpinan

Saya jarang sekali bertemu dengan sosok seperti ini. Masih muda, kaya raya, sukses mengelola bisnis warisan keluarga, penuh perhatian kepada segenap karyawan, dan satu lagi... berjiwa sosial.

Bahkan, menurut saya, lebih dari sekadar kepekaan sosial, orang muda ini menunjukkan sikap bela-rasa kepada sesama. Bahasa keren untuk orang seperti itu adalah compassion.

Saat bertemu dengan orang itu, ia menceritakan kisah jatuh-bangunnya melakukan turnaround demi membangkitkan bisnis warisan orangtua, yang oleh banyak orang dikategorikan sebagai sunset-business. Bisnis yang nyaris tenggelam tersebut akhirnya bisa diselamatkan, bahkan dibangkitkan dan ditumbuhkan lebih jauh. Pabrik yang dulu dikelola secara tradisional mulai ditata secara modern. Begitu pula, mesin-mesin tua sukses direjuvenasi.

Saat uraian perkara bisnis rampung, sosok muda ini pun dengan antusias mengalihkan wacana diskusi ke topik non-bisnis. Dengan penuh semangat, ia menceritakan model aktivitas corporate social responsibilities (CSR) yang sedang dibangunnya. Tanpa bermaksud untuk pamer diri, saya diberi tahu perkembangan besaran investasi dan jenis aktivitas CSR yang dibangun oleh perusahaannya.

Lalu, dia menutup dengan satu kalimat yang menginspirasi saya untuk menuangkan tulisan ini. Begini bunyinya: Kita datang ke muka bumi dengan tidak membawa apa-apa, demikian pula nanti kita pun akan kembali ke haribaan pertiwi tanpa membawa apa-apa. Seketika saya menangkap pesan yang ingin disampaikannya, yakni memberikan kembali apa yang dimiliki bagi kemaslahatan sebanyak-banyaknya orang.

Sesungguhnya, apa yang dikisahkan dan dilakukan oleh sosok di atas bukanlah cerita baru. Dia menjadi unik, karena sudah membangun kesadaran mulia tersebut sejak usia yang begitu belia, saat kebanyakan rekan sebayanya masih bercita-cita ambisius dan berpikir individualistik.

Kita seringkali menyebut orang-orang seperti ini sebagai filantropis, yakni mereka yang secara pribadi memiliki prakarsa untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan bersama. Entah itu dilakukan lewat aktivitas di sektor pendidikan, kesehatan, penelitian, kebudayaan dan sebagainya.

Di dunia, banyak filantropis yang mempunyai nama besar dan meninggalkan warisan amal hingga saat ini. Sebut saja, Andrew Carnegie, miliarder baja asal Amerika Serikat, yang menyumbangkan donasi sekitar US$ 350 juta (atau setara US$ 7 miliar saat ini) tepat pada awal abad ke-20. Dana itu untuk pembangunan fasilitas-fasilitas publik seperti sekolah dan perpustakaan. Salah satu bangunan terkenal yang lahir dari donasi Carnegie adalah Carnegie Hall di kota New York.

Nama lain yang populer di seantero dunia adalah John D. Rockefeller, yang bergerak di banyak bidang sosial dan pendidikan serta mendirikan Rockefeller Foundation. Dan, yang paling kontemporer, tentu saja taipan Bill Gates. Bersama istrinya, ia membentuk Bill and Melinda Gates Foundation, dengan sasaran meningkatkan pelayanan kesehatan dan pengentasan kemiskinan di seluruh dunia.

Menariknya, yayasan tersebut tidak hanya mengelola uang amal yang disumbangkan oleh keluarga Gates semata. Namun juga dikumpulkan dari orang-orang kaya dunia lainnya, termasuk Warren Buffett.

 

Tidak narsis

Di Indonesia sendiri, yayasan dan aksi filantropis serupa juga sudah mulai marak bermunculan. Beberapa tokoh usaha, seperti Dato Sri Tahir, Irwan Hidayat, dan T.P. Rachmat, adalah sosok-sosok yang cukup antusias dalam menekuni kegiatan filantropis.

Cita-cita besar untuk ikut menyehatkan dan menyejahterakan segenap rakyat Indonesia telah mendorong mereka untuk rela membagikan sebagian rezeki dan harta pribadinya masing-masing. Semakin banyak orang yang terpanggil untuk memberi, tentu semakin besar pula kesempatan untuk memperbaiki dan membangun negeri ini.

Namun, guru saya berpesan agar kita tetap mawas diri saat memberi. Katanya: tak jarang orang memberi, namun sesungguhnya membawa pamrih. Dia menyebut filantropis seperti ini sebagai pemberi yang narsis.

Seperti kita ketahui, kata narsis dikutip dari nama Narcissus, seorang putra dewa dalam mitologi Yunani yang begitu tampan, rupawan, sekaligus juga angkuh dan sombong. Dalam sebuah perjalanan, Narcissus menjumpai kolam yang bening dan ingin meneguk air di dalamnya untuk melepaskan dahaga.

Tak dinyana, saat di bibir kolam, ia melihat sosok yang begitu menarik dan penuh pesona. Semakin lama ia melihat, semakin dalam ia jatuh cinta. Narcissus bahkan rela berhari-hari dan bermalam-malam, menghabiskan waktu untuk menatap wajah di permukaan air, yang ternyata adalah pantulan wajahnya sendiri.

Aktivitas memberi (to give) semestinya ditujukan kepada kepentingan dan kebaikan orang lain. Dengan demikian, kegiatan memberi juga tidak semestinya dibajak untuk hal-hal yang bersifat narsistik, entah itu untuk kebanggaan diri, promosi pribadi, bahkan juga harapan balas budi. Persoalannya, seringkali hasrat narsistik itu hadir secara diam-diam dan samar-samar dalam relung pikiran kita mengikuti naluri asli manusia.

Saya akhirnya mahfum, jika jauh-jauh hari petuah bijak sudah mengajarkan kepada kita bahwa tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu tahu....

 


Close [X]