Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Skema Ponzi yang terus menelan korban

Skema Ponzi yang terus menelan korban
Pengamat Pasar Modal dan Pasar Uang

Penipuan berkedok investasi dengan kerugian triliunan rupiah dan korban ribuan orang selalu saja terjadi di negeri ini. Belum hilang dari ingatan kita akan kasus PT Sarana Perdana Indoglobal dan PT Wahana Bersama Globalindo, kini sudah muncul lagi kasus Koperasi Langit Biru (KLB), Danagraha Futures, serta Auworldwide.

Lebih dari 100.000 orang tergiur dengan produk KLB yang menjanjikan return 10% per minggu. KLB  pun menggaet ratusan miliar dari mereka, sementara Danagraha meraup lebih dari Rp 1 triliun. Masih ada Auworldwide yang lebih tidak masuk akal lagi karena menawarkan keuntungan 2,5% hingga 4% setiap harinya.

Wahai para investor pemimpi yang terjebak dalam money game, tahukah Anda kalau uang sebesar Rp 10 juta dengan return 10% per minggu yang terus direinvestasikan akan menjadi Rp 1,42 miliar dalam setahun dan menjadi Rp 28,7 triliun (2,87 juta kali lipat) dalam tiga tahun?

Jika saja Anda mampu berpikir rasional dan mengerti sedikit saja mengenai keuangan, Anda akan sadar bahwa tidak ada produk investasi yang mampu memberikan return sampai ratusan persen per tahun terus-menerus untuk jumlah berapa pun. Jika memang benar ada produk keuangan seperti itu, siapkan diri Anda menjadi 10 orang terkaya Indonesia memiliki dana puluhan triliunan rupiah tiga tahun dari sekarang hanya dengan bermodalkan Rp 10 juta saat ini.    

Penawaran produk investasi dengan return fantastis seperti ini sejatinya sudah kuno. Skema  ini didokumentasikan untuk pertama kali pada 1919 ketika Carlo Ponzi, imigran asal Italia, mendirikan perusahaan bernama the Security Exchange Company.

Melalui perusahaan ini, ia menjual surat promes (promissory notes) berbunga 50% dalam 90 hari. Jumlah dana yang berhasil dihimpunnya mencapai US$ 1 juta per minggu, suatu jumlah yang teramat besar pada saat itu, hingga para pegawainya tak cukup untuk menangani transaksi sebesar itu. Hanya dalam tempo beberapa minggu, Ponzi menjadi orang terkaya. Istrinya dimanjakan dengan intan berlian dan rumah besar dengan 20 kamar. Kejayaan Ponzi tentunya tidak bisa berlangsung lama.

Hasil penjualan surat utang itu ternyata tidak ditanamkannya kembali tetapi dipakainya untuk membayar bunga sebesar 50% itu. Pada 26 Juli 1920, skema penipuan ini berakhir karena dana yang harus dikeluarkan untuk membayar bunga melampaui jumlah dana yang diterimanya. Sejak saat itu, penipuan dengan kedok produk investasi seperti ini disebut skema Ponzi.

Sampai sekarang kejahatan jenis ini masih saja terjadi, termasuk di negara-negara maju seperti Amerika dengan Mega Skandal Madoff. Bedanya, kini produk-produk yang ditawarkan keren-keren istilahnya. Kombinasi investasi di pasar modal, pasar uang, emas, tambang, valuta asing, dan bursa komoditas di banyak negara sehingga berkesan canggih dan bonafide.

Para korban skema Ponzi mengaku tertarik ikut berinvestasi karena merasa kenal baik dengan petugas yang menawarkan, yang umumnya sangat memikat. Setiap tahun ada saja korban produk baru penipuan berkedok investasi seperti ini. Entah mengapa masyarakat kita begitu mudah dibodohi. Dukun atau 'orang pintar' yang mampu melipatgandakan uang dalam waktu singkat selalu kedatangan tamu.

Di tengah kehidupan yang begitu sulit dan mengimpit, tak sedikit orang yang ingin mengambil jalan pintas. Mereka ingin cepat kaya dan ingin membeli atau memiliki sesuatu dengan cara mudah. Akibatnya, banyak langkah tidak rasional yang diambil untuk memperoleh apa yang diinginkan.

Investor perlu selalu berpikir rasional dan mampu mengendalikan rasa tamak. Ingatlah bahwa if something sounds too good to be true, it is often indeed too good to be true.

Banyak orang bilang, "Semakin berumur, seseorang semakin bijaksana." Tetapi menurut saya, yang benar adalah "Growing older is natural, but growing wiser is a choice." Buat yang melek keuangan dan cukup bijak, mengenali produk investasi yang menipu adalah relatif mudah.

Sewaktu masih di sekolah dulu, anak-anak kerap diajari sebuah falsafah bijak: pengalaman adalah guru terbaik. Saya kemudian menyempurnakan peribahasa itu menjadi: pengalaman orang lain adalah guru terbaik. Perbedaan antara keduanya adalah jika pengalaman adalah guru terbaik berarti kita harus mengalami banyak kesusahan dan pengorbanan seperti rugi dulu atau tidak naik kelas dulu sebelum dapat untung atau naik kelas. Jika sampai mengalami kasus penipuan dan penggelapan dana, dana hasil jerih payah Anda bekerja selama bertahun-tahun bisa hilang dalam sekejap.

Orang pandai belajar dari kesalahan sendiri, tetapi yang lebih pandai akan belajar dari kesalahan orang lain. Jangan terkecoh dengan izin perusahaan yang umumnya hanya berupa surat ijin usaha perdagangan (SIUP) umum dan bukan izin menghimpun uang yang dikeluarkan otoritas berwenang. Anda masih belum mau belajar dari pengalaman orang lain?