: WIB    —   
indikator  I  

Investasi berdosa lebih menguntungkan

Investasi berdosa lebih menguntungkan
Center For Finance And Investment Research Prasetiya Mulya Business School

Masyarakat atau investor memiliki alternatif berinvestasi pada saham berdosa alias sinful stock. Investopedia mendefiniskan sinful stock sebagai saham perusahaan yang terasosiasi atau terlibat langsung dengan aktivitas yang tak etis atau tak bermoral.

Tentu perlu digarisbawahi bahwa hal mana yang termasuk tak etis atau tak bermoral kadang bersifat tidak universal. Ada hal yang masuk dalam daerah abu-abu (grey area). Namun, beberapa sektor industri yang sering dimasukkan dalam kategori berdosa adalah judi, alkohol, rokok, seks dan pertahanan.

Di sisi lain, masyarakat atau investor bisa mengawasi maupun mendorong perusahaan dalam hal etika dan penerapan ESG (environmental, social dan corporate governance). Salah satu caranya adalah menerapkan konsep Socially Responsible Investment (SRI), sebuah konsep investasi yang mempunyai tanggung jawab sosial. Sebuah investasi dianggap socially responsible dilihat dari produk/jasa yang ditawarkan dan cara berbisnis sebuah perusahaan.

Socially responsible investor menyukai perusahaan yang menjunjung tinggi good corporate governance dan hak asasi manusia, bersahabat dengan lingkungan, memperhatikan komunitas lokal dan keselamatan produk serta memiliki praktik bisnis yang berkomitmen pada kelangsungan hidup perusahaan. Perusahaan yang praktik bisnisnya merusak lingkungan dan menyusahkan komunitas lokal, produknya merusak masyarakat serta dikelola dengan prinsip ketidak-jujuran bakal tak mendapat tempat. Intinya, social responsible investor hanya mau berinvestasi pada perusahaan yang punya hati dan perbuatan yang bersih dan mulia.

Jika imbal hasil menjadi satu-satunya pertimbangan dalam memilih saham, sebaiknya investor memilih saham SRI atau saham berdosa? Mari kita simak hasil riset yang dilakukan oleh peneliti London Business School, Professor Elroy Dimson, Paul Marsh dan Mike Staunton yang dimuat di The Credit Suisse Global Investment Returns Yearbook 2015. Riset ini membandingkan kinerja reksadana saham etis dan berdosa. Reksadana saham etis dan memperhatikan isu ESG diwakili oleh The Vanguard FTSE Social Index Fund, sedangkan reksadana saham berdosa diwakili oleh The Vice Fund (baru-baru ini berganti nama menjadi The Barrier Fund).

Riset dengan periode pengamatan selama 14 tahun (2002-2014) memperlihatkan bahwa Vice Fund memiliki kinerja yang lebih baik daripada Social Index Fund. Uang US$ 10.000 yang diinvestasikan di The Vice Fund pada 2002 telah berkembang menjadi US$ 33.655 pada 2014. Di periode yang sama, US$ 10.000 yang diinvestasikan di The Social Index Fund telah menjadi US$ 26.788. Perbedaan rata-rata imbal hasil tahunan kedua reksadana ini adalah 1,7%. Temuan lain, misalnya, selama 115 tahun terakhir, saham perusahaan rokok di Amerika Serikat memberikan imbal hasil 14,6%, jauh di atas rata-rata imbal hasil saham di AS yang besarnya 9,6%.

Hasil riset ini mengamini berbagai riset serupa di luar AS. Ambil contoh, sebuah studi oleh Hong dan Kacperczyk (2009) menemukan, selama periode 1962-2006, saham berdosa di berbagai negara memberikan rata-rata keuntungan lebih tinggi daripada imbal hasil indeks pasar.

Menurut Dan Ahrens, pengarang buku Investing in Vice: The Recession Proof Portfolio of Booze, Bets, Bombs and Butts, sinful stock berkinerja lebih baik karena perusahaan-perusahaan tersebut memiliki permintaan yang stabil untuk barang dan jasa mereka, tidak tergantung pada kondisi ekonomi. Perusahaan ini juga biasanya beroperasi secara global, cenderung memiliki profit margin yang tinggi serta memiliki barriers to entry yang tinggi. Yang lebih menarik, tim riset mengindikasikan bahwa semakin korup sebuah negara, semakin tinggi keuntungan yang dihasilkan oleh saham berdosa.

Selain itu, menurut teori Neglect Effect, investor yang peduli masalah etika dan moral berusaha menghindari untuk membeli saham berdosa. Namun ironisnya, tindakan investor untuk menghukum perusahaan ini malah bisa membuat tingkat keuntungan saham berdosa meningkat.

Pasalnya, tindakan mengabaikan saham berdosa membuat harga saham berdosa lebih rendah dari seharusnya (underpriced). Investor yang tidak peduli dengan aspek etika dan moral akan membeli saham ini dan menikmati untung yang tinggi.

Berdasarkan hasil-hasil riset, tampaknya investor yang sangat peduli etika dan moral saat memilih saham harus berkorban karena menikmati imbal hasil yang lebih rendah dibandingkan jika berinvestasi pada saham berdosa. Tak heran jika kemudian muncul kelompok investor yang lebih pragmatis. Mereka membeli saham tanpa peduli aspek etika dan moral.

Jika saham berdosa bisa memberikan keuntungan yang lebih besar, bukankah investor yang peduli masalah sosial bisa mendermakan sebagian keuntungannya bagi sesama?

 


Close [X]