Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Sang pembunuh tren bullish itu bernama bea meterai

Sang pembunuh tren bullish itu bernama bea meterai
Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Twitter: @RencanaTrading

Saya teringat kata bijak Sherlock Holmes: "When you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth". Saya teringat, karena bagi orang charting seperti Elliot Wave, biasanya pedoman itu yang dipakai. Tapi saya tak akan membahas Wave. Saya akan membahas mengapa pemodal asing terus melakukan tekanan jual.

Dari data grafik terlihat, aksi beli pemodal asing mengalami titik puncak pada 4-6 Maret dan kemudian aksi jual. Dari data yang kami peroleh, rata-rata aksi jual pemodal asing setiap hari sejak 9 Maret mencapai Rp 409,14 miliar. Bukan tekanan jual agresif. Biasanya net sell agresif di atas Rp 1 triliun.

Namun, tekanan jual cenderung dalam masa konsolidasi. Lebih parahnya lagi, konsolidasi pada kisaran sempit. IHSG flat pada kisaran 5.410 – 5.465, sejak 10 Maret - 25 Maret lalu.

Ada beberapa berita yang kami anggap penggerak pasar di awal Maret lalu. Pertama, tren turun Dow Jones Industrial (DJI), karena kekhawatiran pelaku pasar New York terkait kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga lebih cepat dibanding perkiraan sebelumnya. DJI terkoreksi, dari 18,288,63 di 2 Maret ke 17.635,39 pada 11 Maret. Setelah The Fed menyatakan, kenaikan bunga lebih perlahan dibanding perkiraan pasar, DJI terangkat, di 18.127,65 pada 20 Maret. Sementara aksi jual pemodal asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berlangsung. Sentimen DJI dan The Fed bukan biang kerok tekanan jual pemodal asing di BEI.

Kedua, pelemahan rupiah terhadap dollar AS yang menembus Rp 13.000, yang tidak pernah tersentuh lagi sejak 1999. Tapi, pelemahan rupiah bukan alasan tekanan jual. Asing konsisten melakukan tekanan jual sejak 9 Maret hingga akhir pekan lalu. Rupiah sempat menguat ke Rp 12.889 pada 24 Maret, tapi tekanan jual pemodal asing tetap berlangsung dengan stabil.

Ketiga, rencana pemerintah mengenakan bea meterai atas transaksi saham dan surat berharga sebesar 1%. Langkah sangat mengejutkan karena saat ini biaya transaksi di pasar modal umumnya 0,15% untuk posisi beli dan 0,25 % untuk posisi jual, sudah termasuk pajak penghasilan final dan bea transaksi bursa. Dengan bea materai, biaya transaksi menjadi 1,15% untuk beli, dan 1,25% untuk posisi jual. Jumlah luar biasa besar, terutama untuk yang melakukan transaksi jangka pendek.

Bukan tidak mungkin, pemodal asing yang sebagian melakukan transaksi pola trading, memutuskan melepas posisi, melakukan tekanan jual dan membunuh tren naik. Jika biaya transaksi sebesar itu, trader jangka pendek sangat sulit memperoleh keuntungan.

Nilai transaksi di pasar diperkirakan turun drastis. Sekuritas kecil banyak yang tutup. Jumlah pengangguran baru bisa ribuan, bahkan puluhan ribu orang. Belum dari sisi trader lokal yang memutuskan untuk berhenti melakukan transaksi.

Tapi, 26 Maret kemarin, Ditjen Pajak menyatakan, bea meterai transaksi saham hanya 0,1 persen. Namun, reaksi pasar sangat lamban. Tekanan jual pemodal asing tidak berkurang signifikan, bahkan kembali meningkat pada Jumat pekan lalu.

Di Februari kemarin, saya pernah menulis, pasar modal adalah pendukung Jokowi paling setia. Di tengah keriuhan politik dan ekonomi, pasar mencetak rekor baru di atas 5.500. Asing masuk. Pasar melihat, langkah pembangunan ekonomi dinilai tepat dan pertumbuhan ekonomi membaik di kuartal II.

Tapi, melihat grafik pergerakan IHSG, pertaruhan Jokowi sedang mencapai titik terakhir. Data pertumbuhan ekonomi kuartal I bakal menjadi penentu mengenai kelangsungan Pemerintahan Jokowi.

Tren turun kali ini sepertinya penentu tren jangka panjang. Jika support di 5.121 gagal bertahan, IHSG bakal berada di tren turun, potensi koreksi hingga 3.800–4.000 lagi. Dengan level support cukup dekat, data ekonomi yang buruk akan membuat IHSG di bawah support. Dan jika di bawah support, dengan potensi koreksi cukup dalam, sepertinya akan terjadi sesuatu yang besar.

Saya saat ini tetap bullish, percaya IHSG bisa mencapai 6.100 – 6.350 di tahun ini. Tapi juga realistis, kalau IHSG di bawah 5.121, saya harus bersiap menghadapi kemungkian terburuk. Happy trading, semoga barokah