: WIB    —   
indikator  I  

Observasi melalui film

Observasi melalui film
Kolumnis internasional, serial entrepreneur dan pengajar bisnis berbasis di California

Setiap film mempunyai makna, baik berbentuk film fiksi dokumenter dan jenis film lainnya. Namun jelas ada perbedaan besar antara film fiksi dengan film dokumenter.

Film fiksi termasuk film-film yang didasari atau diilhami oleh kisahkisah nyata. Karena, fiksionalisasi suatu peristiwa sangat erat hubungannya dengan dramatisasi dan romantisasi.

Film dokumenter yang diproduksi oleh para dokumentaris dan jurnalis semestinya mengutamakan objektivitas terlepas dari untur subjektivitas dari para pencipta yang selalu ada. Misalnya penampilan latar belakang dan pengalaman hidupnya.

Tugas kita sebagai penikmat film adalah mengamati bagaimana film mewakili suatu peradaban. Namun , tentu saja juga tidak pernah luput dari unsur "fiksionalisasi" yang "menjanggalkan" suatu fakta. Yang saya maksud "fakta" di sini adalah kenyataan sebenarnya, bukan "fakta terlihat" alias fakta yang sudah masuk ke dalam persepsi.

Dalam menikmati film, daya observasi kita akan visualisasi yang terekam oleh benak ditentukan juga dengan informasi yang membentuk kerangka berpikir. Mereka yang mampu secara objektif menceriterakan kembali hasil observasi adegan-adegan dan background setting suatu film ini termasuk langka.

Asumsi pertama yang perlu dicamkan adalah: film merupakan dramatisasi dan romantisasi. Terkadang kesedihan dan kegalauan luar biasa bahkan kekejian bisa digambar dengan sinematografi yang indah dan sedap di mata. Perlu kita ingat, gambaran di dunia nyata tentu tidak seperti itu.

Misalnya tokoh kolumnis Carrie Bradshaw dalam film seri televisi Sex and the City mempunyai beberapa kejanggalan. Dikisahkan bahwa ia hanya bekerja sebagai kolumnis lepas The New York Star. Dengan asumsi satu kolom terdiri dari 1.000 kata dan setiap kata ia dibayar US$ 3, yang sudah merupakan angka fantastis bagi seorang kolumnis lepas, penghasilannya per bulan US$ 3.000 untuk kolom bulanan atau US$ 12.000 untuk tulisan kolom mingguan.

Dengan asumsi penghasilan ini dipotong dengan pajak sebesar 35%, medicare tax, social security tax, NY state tax, dan lainnya, bisa jadi penghasilan per bulan yang dibawa pulang hanya tinggal US$ 1.500 untuk kolom bulanan atau US$ 6.000 untuk kolom mingguan.

Cukupkah dengan dana sebesar US$ 6.000 per bulan untuk hidup di wilayah mewah seperti Manhattan? Jawabannya tentu tidak!

Sebagai gambaran, uang sewa per bulan di Manhattan Upper East Side bisa mencapai US$ 5.000 atau bahkan lebih. Sedangkan biaya makan US$ 500 per bulan.

Tidak hanya itu beban yang harus ditanggung untuk hidup di wilayah mewah ini. Masih harus ditambah dengan biaya listrik, air, sampah, asuransi kesehatan, asuransi jiwa, transportasi, entertainmen, rokok tiga pak per hari, makan di luar, fashion terbaru, dan sepatu Manolo Blahnik yang sepasang bisa mencapai US$ 600 ke atas, maka minimal pengeluaran Carrie semestinya mencapai US$ 10.000 per bulan.

Dan ia masih belum berkeluarga saat itu. Apabila skenario menceritakan bahwa ia memiliki seorang anak, misalnya, perlu ditambahkan setidaknya US$ 2.500 per bulan dalam anggaran belanja di New York City yang serba mahal.

Sayangnya, di Indonesia, banyak pemirsa yang masih "percaya" buta akan persepsi yang dibentuk oleh film-film fiksi. Studi kasus Carrie Bradshaw di atas ini sesungguhnya masih yang "sangat kasat mata" dan "kasar". Coba perhatikan film-film yang "sulit dihitung" dalam dollar?

Terkadang saya tertawa ketika digambarkan seseorang yang sederhana dan berasal dari keluarga bersahaja. Tanpa punya uang warisan yang disimpan dalam trust fund account, yang bergaya hidup cukup tinggi.

Ada juga, iklim alias suhu di suatu kota sering kali menjadi "faktor kejanggalan" suatu film. Mustahil seorang perempuan cantik mengenakan bikini di jalan raya San Francisco yang terkenal dingin dan berangin. Suhu "sedang" di kota San Francisco mencapai 15 sampai 20 Celsius. Bisa kita bayangkan betapa dinginnya kondisi tubuh jika mengenakan pakaian tipis dan terbuka.

Observasi film sebaiknya dilakukan dengan hati-hati dengan mengenali berbagai fakta kehidupan, lebih dari sekadar mengenali kultur belaka. Karena itu, jangan cepat "termakan" gambaran-gambaran di dalam film.

Apalagi untuk mengenal suatu kultur dalam konteks bisnis. Ambil saja manfaat yang masuk akal dan baik secara universal. Detil lainnya memerlukan observasi partisipatoris. Selamat berpikir dan menonton film dengan lebih kritis.


Close [X]