Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Inovasi yang bermanfaat

Inovasi yang bermanfaat
Pemerhati Manajemen dan Kepemimpinan

Sudah menjadi rahasia umum, banyak hasil penelitian ilmiah di kampus-kampus ataupun balai riset ternama yang akhirnya mangkrak di laboratorium. Penelitian-penelitian tersebut gagal melangkah lebih jauh, entah itu untuk diaplikasikan oleh masyarakat luas ataupun dimanfaatkan oleh industri.

Para peneliti yang sudah bersusah-payah memikirkan ide penelitian, merumuskan metodologi riset, serta dengan tekun mengikuti proses penelitian tersebut, akhirnya menjadi lesu darah menghadapi kenyataan seperti ini. Betapa tidak sepadannya imbalan yang diterima atas sebuah perjuangan riset yang panjang! Sebaliknya, industri juga tak bisa mengulurkan tangan lebih jauh, karena memang merasa tak mampu menemukan manfaat nyata yang bisa dipetik dari hasil penelitian tersebut.

Itulah salah satu sebab yang memunculkan gagasan link and match, sekaligus juga alasan pemerintah kita saat ini menggabungkan kedua lembaga, yakni pendidikan tinggi dan riset menjadi satu kementerian tersendiri.

Ada perbedaan yang tajam antara invensi (invention) dan inovasi (innovation). Membandingkan proses invensi dan inovasi sama halnya membandingkan seorang Thomas Alva Edison dan Steve Jobs.

Thomas Edison adalah seorang inventor besar, yang melahirkan karya-karya seperti mesin telegraf, gramofon, dan lampu pijar, yang sebelumnya tidak ada di muka bumi. Ia yang membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada atawa from nothing to something.

Sementara Jobs adalah seorang inovator ulung, yang walaupun belum tentu mampu menemukan (invent) sesuatu, namun secara cerdas menghadirkan manfaat atau nilai tambah dari suatu hasil penemuan. Istilah sederhananya, membuat from something to something valuable.

Perkenankan saya mencuplik satu kisah klasik bagaimana Jobs secara brilian memanfaatkan penemuan pihak lain.

Kisah ini dituangkan oleh Malcolm Gladwell dalam artikelnya yang berjudul Creation Myth di harian The New Yorker, pada 16 Mei 2011 lalu.

Akhir 1979, Jobs yang masih berusia 24 tahun kala itu, mendapat kesempatan berkunjung ke Xerox Palo Alto Research Center (Xerox PARC) di Silicon Valley. Ini adalah pusat penelitian teknologi informasi tercanggih pada zaman itu. Di sana, para insinyur dan programmer komputer terhebat di dunia berkumpul dan melakukan riset. Jobs betul-betul menikmati kunjungannya yang berlangsung selama beberapa jam.

Singkat cerita, di akhir kunjungan, Jobs berdiri tepat di depan Xerox Alto, sebuah perangkat komputer pribadi yang sangat dibanggakan oleh PARC. Larry Tesler, insinyur pemandu dari PARC, melakukan demonstrasi di depan Xerox Alto. Ia menggerakkan kursor menjelajahi layar dengan bantuan alat bernama mouse.

Jobs tercengang karena pada saat itu satu-satunya cara untuk mengoperasikan komputer PC konvensional adalah dengan mengetikkan perintah alias command di atas papan ketik (keyboard). Sementara itu, Tesler hanya mengklik salah satu ikon yang ada di layar komputer untuk membuka dan menutup window, ataupun berpindah dari tugas (aplikasi) yang satu ke tugas lainnya.

Tak bisa menutupi rasa kagumnya, Jobs pun meloncat kegirangan sambil berteriak: Mengapa kalian tidak melakukan apa pun terhadap penemuan ini? Ini adalah penemuan terbaik, yang sungguh-sungguh revolusioner!

 

Nilai tambah invensi

Sekembali dari kunjungan tersebut, Jobs segera menemui Dean Hovey, temannya yang mendirikan perusahaan industrial-design IDEO. Ia meminta Hovey merancang mouse yang bisa berfungsi baik, efisien, sekaligus tahan lama.

Pesan Jobs kepada Hovey sederhana saja. Jika mouse Xerox berharga 300 dollar Amerika Serikat (AS) dan bisa rusak dalam waktu dua minggu, Jobs ingin mouse yang harganya hanya 15 dollar AS namun sanggup bertahan bertahun-tahun.

Dan, itulah sejarah awal berkembangnya perangkat bernama mouse di dalam dunia komputer seperti yang kita kenal selama ini. Mouse atau tetikus sendiri ditemukan oleh ilmuwan komputer bernama Douglas Engelbert dan dikembangkan oleh Xerox PARC.

Namun, di tangan Steve Jobs-lah perangkat ini dimanfaatkan dan dipasarkan secara luas. Jobs memang bukan orang yang menemukan (invensi) mouse, namun lebih dari itu, dialah sosok yang justru berhasil memanfaatkan dan memberikan nilai tambah bagi penemuan tersebut.

Secara sederhana, kita dapat merumuskan bahwa inovasi = invensi + komersialisasi. Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa invensi adalah sebuah proses inovasi yang belum usai. Atau sebaliknya, inovasi merupakan suatu invensi yang berhasil dikomersialisasikan dengan baik. Itu seperti Jobs, yang sukses menciptakan nilai tambah terhadap invensi mouse yang ditemukan oleh Douglas Engelbert dan Xerox PARC.

Keuletan Jobs menjual nilai tambah sebuah invensi kepada pasar, sekaligus juga ketajaman Jobs mencium kebutuhan pasar dan selanjutnya mampu menerjemahkannya ke dalam sebuah produk yang nyata, itulah yang membuat Jobs hadir sebagai seorang inovator ulung.

Hal itulah yang mungkin harus kita lakukan terhadap hasil-hasil penelitian yang saat ini masih mangkrak di laboratorium perguruan tinggi ataupun balai penelitian.

Di pusat-pusat penelitian tersebut, kita sudah menciptakan sesuatu from nothing to something. Namun, tantangan terbesar justru ada pada menjadikan sesuatu from something to something valuable.