Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Gemar investasi sejak muda

Gemar investasi sejak muda
Senior Advisor PT BNP ParibasInvestment Partners

Apa kira-kira hal yang digemari anak muda dan pekerja muda pada kisaran umur 18 tahun hingga 35 tahun? Berapa banyak populasi penabung di bank dengan kisaran umur di atas? Mungkinkah jika populasi penabung pada kisaran umur di atas menjadi "sasaran" untuk diedukasi agar gemar berinvestasi?

Pertanyaan di atas cukup mengusik saya, karena seharusnya, kelompok usia itu menjadi prioritas dalam edukasi finansial agar mereka terbiasa mengelola uang atau penghasilan dengan bijak, sehingga mereka punya kemampuan mempersiapkan kebutuhan masa depan dengan berinvestasi. Bayangkan, jika populasi kelompok di atas, yang orangtuanya cukup mampu dan para pekerja yang sudah berpenghasilan, mampu dan mau menyisihkan Rp 500.000 per bulan untuk berinvestasi, katakanlah ada 10 juta orang, maka setiap bulan akan terkumpul dana investasi Rp 5 triliun atau Rp 60 triliun per tahun.

Kenapa perlu kampanye investasi untuk anak muda? Pertama, karena kesadaran berinvestasi perlu digalakkan dengan menyadarkan mereka bahwa kebutuhan yang harus dibiayai bukan hanya kebutuhan saat ini, tetapi juga kebutuhan masa depan. Orangtua yang mampu harus mau mendidik sekaligus "mendanai" putra-putri untuk mulai belajar berinvestasi.

Kedua, dalam konteks pengelolaan keuangan, perilaku dan gaya hidup seseorang akan sangat dipengaruhi kebiasaan yang dilakukan sejak muda. Jika masa ini diisi kebiasaan dan gaya hidup konsumtif, sulit untuk mengubah pola konsumsi dan gaya hidup di masa berikutnya.

Ketiga, harus sudah mulai disadarkan bahwa jika ingin sejahtera di masa tua, pasca pensiun atau ketika seseorang tidak lagi bisa produktif, persiapan finansial tidak bisa dilakukan menjelang usia 50-an, tetapi butuh waktu paling tidak 20 tahun atau lebih untuk mempersiapkannya.

Lalu, bagaimana memulai kampanye gemar berinvestasi? Gerakan ini harus dilakukan secara terkoordinasi dan berkelanjutan. OJK tentu bisa menjadi lokomotif gerakan ini yang sudah dimulai dengan adanya Komisioner OJK yang membidangi edukasi dan perlindungan konsumen.

Berbagai program dan kampanye telah mulai dilakukan dan gerakan ini perlu didukung semua pelaku industri dan pihak terkait, termasuk Kementerian Pendidikan, melalui jalur kurikulum sekolah maupun ekstrakurikuler. Tanpa dukungan banyak pihak, gerakan ini sulit diharapkan bisa berhasil.