: WIB    —   
indikator  I  

The Beatles hampir tidak ada

The Beatles hampir tidak ada
Kolumnis internasional serial entrepreneur dan pengajar bisnis berbasis di California

Anda pasti kenal siapa itu The Beatles. Band paling terkenal di dunia yang terdiri dari para anak muda asal Inggris yang jaya di tahun 1960-an. Band ini beranggotakan John Lennon, Paul McCartney, Ringo Starr, George Harrison, Pete Best, dan Stuart Sutcliffe. John dan Paul adalah penyanyi utama yang suaranya masih sering berkumandang di tempat-tempat publik.

Bisakah Anda bayangkan dunia tanpa The Beatles? Tiada lagu-lagu terkenal seperti Hey Jude, Imagine, dan Let It Be. Betapa sunyinya dunia ini.

Mari kita sedikit menengok ke belakang, tepatnya pada bulan Januari 1962 yang dingin. Band anak muda ini beraudisi di Decca Records, North London. Setelah menyanyikan 15 lagu, mereka ditolak dengan kalimat ini: The Beatles have no future in show business.

Wow. Dahsyat benar vonisnya. Ternyata salah besar. The Beatles memang bukan band yang baik. The Beatles adalah band jenius yang luar biasa baik. Lantas, mengapa Decca Records tidak bisa mengenali sebuah kelompok band yang terbaik dari yang baik?

Menurut Profesor Psikologi di Cornell University David A. Dunning, manusia dengan kemampuan rata-rata mempunyai keterbatasan dalam mengenali kompetensi mereka, terutama yang memiliki kemampuan luar biasa.

Coba Anda pikirkan, seseorang dengan kemampuan terbatas mengenai batu permata, apakah bisa mengenali kualitas intan berlian asli dengan yang buatan manusia (man-made diamond yang dikenal sebagai HPHT diamond or CVD diamond)? Tentu tidak. Dengan kata lain, seseorang yang tidak tahu, akan tidak tahu bahwa ia tidak tahu.

Dunning melakukan eksperimen mengenai estimasi diri. Ternyata, sekitar 40 % dari total responden di survei itu menganggap diri mereka termasuk 5% tercerdas dalam populasi. Sementara itu, responden yang sama juga menganggap remeh para kolega mereka. Padahal beberapa di antara sampel kolega mereka ada yang termasuk kategori jenius.

Dalam masyarakat, mereka yang luar biasa bertalenta alias jenius sering kali malah diberi label agak gila. Bahkan produk-produk temuan baru di masanya seperti telepon, radio, mobil, dan televisi pernah sangat diremehkan oleh para pakar.

Pendiri FedEx Fred Smith pernah mempresentasikan ide bisnis one night delivery service kepada profesor manajemen di Yale Amerika Serikat. Namun persentasi itu hanya diberikan nilai C saja. Apa alasan sang profesor? Tidak feasible.

Contoh lain, seorang Chief Executive Officer (CEO) Digital Equipment Corp Ken Olson pada tahun 1977 pernah berpendapat, bahwa tidak akan ada yang mau beli personal computer untuk digunakan di rumah. Kini kita baru mengetahui, betapa ngawur pendapat mereka.

Pendiri Y-Combinator dan esais bisnis Paul Graham di Silicon Valley juga menyatakan hal yang sama. Dengan kesadaran ini, ia malah dengan jeli mencari startup-startup luar biasa yang tersingkirkan seperti AirBnB dan DropBox yang kini sudah bernilai miliaran dollar Amerika Serikat.

Berbagai startup yang sebelumnya dipandang remeh dan agak gila seperti Uber, karena hanya bertindak sebagai konsolidator yang mempertemukan para pengemudi dengan para penumpang belaka, sepintas tampak mustahil untuk berhasil. Bukankah setiap kota sudah punya transportasi publik? Untuk apa aplikasi pemanggil pengemudi asing untuk menjemput kita? Ternyata dunia menunjukkan bahwa ada pasar untuk ini.

Kelebihan para jenius tersebut adalah kemampuan mereka untuk mempertanyakan status quo. Mereka juga mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi acuan berbagai hipotesis. Bagaimana apabila pertanyaannya sendiri salah atau bisa diganti dengan pertanyaan dari sudut lain?

Albert Einstein pernah menjawab pertanyaan tentang perbedaan dirinya dengan orang pada umumnya. Jawabnya, orang lain akan berhenti setelah menemukan satu jarum di dalam tumpukan jerami. Saya akan terus mencari setiap kemungkinan jarum yang ada di dalam tumpukan jerami tersebut.

Dengan kata lain, seorang yang tergolong tidak jenius biasanya berhenti begitu telah menemukan sesuatu yang dia anggap sebagai jawaban. Padahal, bisa saja jawaban tersebut hanya satu dari berbagai jawaban yang ada alias bisa saja ada lebih dari satu jawaban.

Jadi, bagaimana kita bisa mengenali kejeniusan seseorang? Pertama, jangan berprasangka bahwa yang berbeda itu salah atau buruk. Kedua, lihatlah apa yang tidak terlihat. Gunakan pikiran, bukan hanya mata dan telinga saja.

 


Close [X]