Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Inflasi menahan laju indeks

Inflasi menahan laju indeks
Pengamat Pasar Modal dan Pasar Uang

Setelah hanya bertambah 3,8% di tahun lalu, laju inflasi kali ini bisa lebih tinggi daripada target pemerintah. Rally harga minyak di pasar dunia, mendorong proyeksi laju inflasi, tahun ini hingga, minimal, 7%.

Dampak inflasi tinggi, perencanaan keuangan perlu dihitung ulang. Penabung di bank bisa dipastikan mendapatkan return riil negatif atas simpanannya. Yang paling penting, menurut saya, valuasi semua aset, baik riil maupun finansial, menjadi berubah.

Pemegang obligasi berbunga tetap, misalnya, harus menerima kenyataan harga pasar obligasinya akan turun. Jika harga obligasi berbunga tetap mengalami koreksi negatif karena berhubungan terbalik dengan inflasi, bagaimana dengan harga saham di bursa? Apakah investor saham juga mengalami nasib yang sama seperti investor obligasi?

Inflasi akan menyebabkan biaya produksi naik sebesar rata-rata laju inflasi. Harga BBM industri adalah harga non-subsidi, yang sesuai dengan harga di pasar global. Harga BBM jenis itu telah naik sejak tahun lalu, dan, akan naik lebih tinggi lagi sepanjang tahun ini.

Jika harga jual dan omzet penjualan relatif tetap, peningkatan biaya produksi, tentunya, berimbas terhadap penurunan laba bersih per saham (EPS) emiten. Ketika omzet penjualannya turun, mengikuti penurunan daya beli, emiten berarti menanggung pukulan berganda. Situasi itu sangat mungkin dialami emiten yang menyasar pasar kelas menengah bawah, paling tidak, untuk jangka pendek.

Itu sebabnya, EPS sebagian perusahaan di saat inflasi tinggi, akan merosot. Dengan menggunakan pendekatan price multiple, EPS yang terpuruk ini, pada akhirnya, ikut menggerus harga wajar saham, jika PER tetap.

Kenyataannya, saat inflasi melesat, perubahan hitungan PER menjadi sesuatu yang wajar. Seringnya, perubahan PER yang terjadi akan memperparah kejatuhan harga saham.

Saat inflasi menanjak, bunga bebas risiko, tentu akan naik. Saat itu, kebanyakan perusahaan menderita penurunan pertumbuhan laba. Pengaruh kenaikan bunga bebas risiko dan melambatnya pertumbuhan laba emiten akan membuat PER dihargai rendah. EPS yang terkoreksi diperparah dengan PER yang juga tertekan menyebabkan harga wajar saham, melandai. Jangan lupa, harga wajar adalah hasil kali PER dan EPS.

Jika saja penurunan inflasi kita di sekitar 4%, atau lebih rendah lagi seperti tahun lalu, adalah benar-benar struktural dan sustainable untuk tahun-tahun mendatang, hitungan saya PER wajar BEI di akhir tahun adalah 16-17. Angka itu mempertimbangkan premi risiko yang menurun sejalan dengan peningkatan rating Indonesia.

Sayang, era inflasi rendah tidak bertahan lama. Saya tidak yakin investor, bersedia menghargai  saham di BEI dengan PER di atas 15. Dengan PER sekitar 14-15, saya prediksi, IHSG tidak akan melesat tinggi ke area 4.500.

Inflasi dobel digit akan berimbas negatif terhadap harga dan return saham. Kenaikan IHSG akan tersendat, di saat laju inflasi tinggi.

Contohnya, PER rata-rata tidak tertimbang bursa kita di akhir 2006 dan 2007 masing-masing 14,70 dan 17,88, dengan return pasar (IHSG) sebesar 55,3% dan 52,1%, karena rendahnya inflasi dalam dua tahun itu.

Sementara di 2005, saat inflasi mencapai 17,1%, PER bursa adalah 12,07, sedang return pasar hanya 16,2%. Return sebesar ini di tahun 2005 relatif rendah karena return di 2004 dan 2006 masing-masing 44,5% dan 55,3%. Tahun 2008 ketika inflasi melonjak hingga 11% dan pecahnya krisis finansial global, IHSG bahkan anjlok -50,6% dengan PER 12,2.

Namun, kini inflasi hanya akan sekitar 8% sehingga skenario IHSG turun tajam seperti tahun 2008 tidak akan terjadi. Apalagi banyak emiten menunjukkan pertumbuhan EPS yang positif di tahun 2011.

Penurunan growth juga hanya terjadi pada sebagian kecil emiten. Dengan kondisi pasar seperti ini, memprediksi harga saham akan mengalami koreksi terlalu berlebihan. Yang lebih realistis adalah indeks akan konsolidasi, dan naik wajar sekitar belasan persen dari awal tahun, atau berkisar 4.200 hingga 4.300.

Skenario ini mungkin terjadi karena banyak emiten di bursa yang justru menikmati berkah dari kenaikan harga minyak, hasil tambang, dan komoditas.

Kita ketahui bersama, komoditas di negara ini menyumbang 26% dari nilai tambah agregat, 23% penerimaan negara, dan sekitar 18% dari nilai kapitalisasi pasar saham di BEI.

Sebagian emiten lain, tidak menderita penurunan penjualan karena produknya berorientasi ke kalangan menengah atas.