: WIB    —   
indikator  I  

Mempersoalkan buku keuangan impor di Indonesia

Mempersoalkan buku keuangan impor di Indonesia
Staf Pengajar FEB-UI dan Pengamat Pasar Modal

Apa beda bahasa Inggris di Singapura, Filipina, Malaysia, dan Indonesia? Di Singapura, bahasa Inggris menjadi bahasa utama, di Filipina dan Malaysia menjadi bahasa kedua. Di tiga negara ini, hampir semua warga bisa berbicara bahasa Inggris. Di Indonesia, Inggris masih jadi bahasa asing. Selain faktor ekonomi yang lebih baik, Malaysia memandang rendah kita karena faktor bahasa ini.

Dengan harapan bahasa Inggris minimal menjadi bahasa kedua atau bahasa pertama di kehidupan sang buah hati, banyak orang tua di sini bersedia membayar ribuan dollar Amerika Serikat (AS) setahun untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah internasional. Dengan menguasai bahasa Inggris, seseorang dipastikan memahami buku bermutu, termasuk yang berhubungan dengan ekonomi, keuangan, dan investasi.

Apakah buku teks bahasa Inggris lebih baik daripada karya penulis kita? Di bidang ekonomi dan investasi, belum tentu.

Ini karena buku-buku keuangan dari luar tidak sepenuhnya relevan di sini. Banyak perbedaan antara negara maju seperti AS - dengan kapitalisasi pasar saham US$ 26,3 triliun, memiliki 5.248 emiten dari dua bursa - dengan Indonesia, dengan 510 emiten dan total kapitalisasi hanya 1,6%-nya.

Di pasar tenaga kerja, misalnya, AS mengenal tunjangan sosial untuk para penganggur. Di negara kita, tidak ada. Di sana isu corporate governance menjadi penting. Di sini, pemilik merampok perusahaannya dan merugikan investor publik. Jika AS mempunyai sistem keuangan berbasis pasar modal atau market based, sistem keuangan negara kita berbasis bank (bank based).

Dua alternatif pembiayaan utama korporasi di AS, saham dan obligasi, kurang relevan di sini. Hanya sekitar 510 korporasi di sini yang mempunyai akses ke pasar saham dan sekitar 100 ke obligasi. Perusahaan lain mengandalkan utang bank, multifinance dan tambahan modal atau pinjaman pemilik. Jumlah emiten Indonesia di bawah Thailand (613), Malaysia (905) dan Singapura (775), dari 45.057 saham di dunia.

Konsekuensi sedikitnya korporasi yang memiliki akses ke pasar modal adalah tipisnya kapitalisasi pasar kita dan sedikitnya investor lokal yang menanamkan dana di saham dan obligasi, baik langsung maupun melalui reksadana.

Akhir tahun lalu, kapitalisasi pasar saham kita hanya US$ 422,1 miliar, kalah dari Thailand (US$ 430,4 miliar), Malaysia (US$ 459 miliar), dan Singapura (US$752,8 miliar). Sangat kecil dibanding kapitalisasi pasar saham global, yang menembus US$ 63,5 triliun.

Jumlah investor saham dan reksadana di Indonesia kurang dari setengah juta orang, sangat jauh dibandingkan dengan 150 juta rekening bank. Dari jumlah dana, uang milik orang Indonesia di pasar modal kurang dari seperempat dana pihak ketiga di perbankan yang hampir menembus Rp 4.000 triliun.

Pasar keuangan AS dan Indonesia juga berbeda dalam mekanisme perdagangan saham, penghitungan indeks, inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan variasi produk.

Membaca buku keuangan dan investasi Amerika, kita harus hati-hati dengan asumsi yang digunakan. Sebagian besar buku asing mengatakan, seorang investor saham sukses jika dia dapat melipatgandakan nilai investasinya dalam 5 tahun. Dengan menggunakan Aturan 72, kinerja investasi seperti ini hanya memerlukan return tahunan 14,4%. Untuk negara seperti AS, dengan rata-rata inflasi tahunan 2,5% sangat bagus. Kriteria ini tidak berlaku untuk investor Indonesia yang dua tahun terakhir inflasi tahunan di 8,4%. Return tahunan 14,7% dari saham tak terlalu menarik dibanding risikonya.

Produk keuangan dan investasi di buku-buku itu sering tak ada padanannya di sini. Contohnya hedge fund, American Depository Receipt (ADR), country fund, international fund, dan unit investment trust. Untungnya, kita memiliki reksadana sejak 1996 lalu, delapan ETF, reksadana penyertaan terbatas (RDPT), kontrak pengelolaan terbatas, dan Dana Investasi Real Estat (DIRE atau REIT).

Demikian juga sekuritas derivatif yang sejak 1990-an sudah diajarkan di perguruan tinggi kita. Tapi pasarnya sudah mati. Dengan seabrek perbedaan, relevansi buku-buku keuangan dan investasi AS patut dipertanyakan.

 


Close [X]