Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Menjadi Gates atau Buffett?

Menjadi Gates atau Buffett?
Pengamat manajemen dan kepemimpinan

Semua orang pasti mengenal dua nama pesohor ini, yakni Bill Gates dan Warren Buffett, yang senantiasa masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia. Dengan kekayaannya masing-masing, mereka bahkan bisa membeli sebuah kota. Redfin Research Center menuliskan bahwa dengan nilai kekayaan sebesar US$ 77,5 miliar, pendiri Microsoft, Bill Gates, bisa membeli semua hunian yang ada di kota Boston Massachusetts (Amerika Serikat) sejumlah 114.212 rumah, kondominium, dan juga townhouse. Sementara itu, pemilik perusahaan investasi Berkshire Hathaway, Warren Buffett, dengan jumlah harta sebesar US$ 63,5 miliar, mampu menguasai semua, yakni 280.214 bangunan tempat tinggal di kota Charlotte North Carolina.

Meski sama-sama kaya, dua tokoh ini datang dari jalur yang sama sekali berbeda. Gates menjadi kaya raya lewat perusahaan peranti lunak komputer terkemuka yang bernama Microsoft. Bersama rekannya, Paul Allen, sejak 4 April 1975, Gates mendirikan, membangun dan membesarkan Microsoft menjadi salah satu perusahaan terbesar dunia, yang pada akhir tahun 2013 mempekerjakan sekitar 127.000-an karyawan serta mencetak nilai penjualan sekitar US$ 78 miliar dan keuntungan bersih US$ 22 miliar. Boleh dikatakan kekayaan Gates secara dominan disumbangkan oleh perusahaan berlogo jendela terbang tersebut.

Sementara itu, Buffet punya cerita yang berbeda. Ia menjadi salah satu mogul dunia lewat perusahaan bertajuk Berkshire Hathaway. Ini merupakan perusahaan induk yang menaungi begitu banyak anak perusahaan yang datang dari berbagai sektor bisnis yang tak berkait sama sekali. Ada anak perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan eceran, peralatan rumah tangga, ensiklopedia, penjualan berlian, asuransi, bank, hingga penerbitan media massa cetak.Kelihaian Buffett dalam mengidentifikasi, membeli dan mengelola saham dari begitu banyak perusahaan telah mengantarkan Berkshire Hathaway sebagai salah satu institusi investasi terbesar di dunia. Nilai penjualannya pada  2013 sekitar US$ 180 miliar. Adapun nilai keuntungan bersihnya mencapai US$ 19 miliar.

Dalam konteks investasi bisnis, dikenal ada dua kutub pendekatan, yang sekaligus juga menjadi pembeda antara kelompok investor yang satu dan yang lainnya. Yang pertama disebut sebagai investor strategis (strategic investor), yakni seseorang atau entitas bisnis yang tak sekadar menempatkan sumber dananya pada sebuah perusahaan atau peluang investasi, namun juga terlibat secara aktif dalam pengelolaan bisnis secara operasional. Mereka secara aktif mengontribusikan waktu, tenaga, dan sumber daya lainnya demi pengembangan portofolio investasi yang telah dibelinya.

Kelompok kedua disebut juga sebagai investor keuangan (financial investor). Kelompok ini akan membeli saham atau menempatkan dananya pada sebuah perusahaan. Pertama-tama dan terutama untuk tujuan mendapatkan keuntungan yang maksimal, baik itu dari pembagian dividen ataupun dari kenaikan harga saham. Dua pilihan investor mengacu kepada pembagian di atas, kita bisa mengatakan bahwa Gates adalah salah satu representasi dari strategic investor yang hebat, sementara Buffett adalah wakil dari financial investor yang brilian.

Mari kita coba sedikit menelisik lebih jauh latar belakang pemikiran kedua tokoh superjenius dan mahakaya tersebut. Konon, Buffett sedari kecil sudah bermimpi menjadi orang kaya. Ia tidak pernah meragukan sedikit pun tentang mimpinya, seperti anak-anak negeri Paman Sam yang mengadopsi mimpi besar American Dream. Di dalam biografinya, Buffet mengatakan, I always knew I was going to be rich. I don't think I ever doubted it for a minute. Ia membuktikan omongan tersebut sejak umurnya masih belia, yakni enam tahun, saat menjadi tukang antar koran di Omaha, Nebraska, dan tetap berlanjut hingga sekarang menjadi orang kaya dunia.

Bagaimana dengan Gates? Ternyata, saat awal mendirikan Microsoft bersama sohibnya Paul Allen, Gates mempunyai cita-cita yang unik, yang melebihi kepentingan diri pribadinya sendiri, yakni, a computer on every desk in every home. Ternyata, cita-cita itu tak berhenti sebagai mimpi di siang bolong. Gates bekerja keras untuk mewujudkan cita-citanya dengan membangun aplikasi komputer yang canggih, terbarukan, namun sekaligus juga semakin bersahabat (user-friendly). Saat ini, miliaran manusia di muka bumi memegang komputer pribadi di tangannya.

Alangkah sangat besar dampak yang diciptakan oleh perangkat informatika tersebut bagi keseharian kehidupan manusia. Walaupun pada tahun 2000 Gates sudah lengser dari peran aktif sebagai CEO, dan sejak Februari 2014 juga telah meninggalkan kursi chairman di perusahaannya, orang tetap tidak bisa memisahkan antara dirinya dan perusahaan yang didirikannya. Gates bisa saja tak lagi mengurusi detail operasi bisnisnya, namun produk Microsoft yang diciptakannya telah menjadi bagian dari kehidupan manusia modern. Dapat dikatakan bahwa lebih dari sekadar menciptakan kekayaan bagi dirinya, Gates secara nyata ikut membangun peradaban pada zamannya.

Jadi, mau pilih yang mana, menjadi Bill Gates atau Warren Buffett? Tergantung kemampuan dan selera pembaca saja.