Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Peluang gempa di bursa saham

Peluang gempa di bursa saham
Center For Finance and Investment Research Prasetiya Mulya Business School

Senin 27 April 2015, gempa terjadi di bursa saham, sekitar 3,5% skala ritcher. IHSG terjun 190 poin, dari 5.435 ke 5.245. Gempa susulan 2 hari kemudian. IHSG sempat menyentuh 5.015, terjun 227 poin. Untung, IHSG rebound dan tutup di 5.105. Esoknya, IHSG di 5.086. Kurang dari sepekan, IHSG turun 349 poin atau 6,42%.

Gempa 27 April yang terbesar ke-15 sejak 2010. Gempa lebih dahsyat di 22 September 2011 (minus 8,88%). Di 2011 mencatat volatilitas IHSG tinggi. Agustus-September, IHSG 5 kali turun di atas 3% per hari.

Saya menganalisis perubahan IHSG 4 Januari 2010-30 April 2015. Di periode ini, dari 1.143 hari perdagangan, terjadi 13 kali penurunan IHSG 3%-4%. Probabilitas kejadiannya 1%, artinya dalam 100 hari perdagangan, berpeluang sekali terjadi penurunan IHSG 3%-4%.

IHSG juga pernah mengalami kenaikan tajam dalam sehari. Peluangnya mirip peluang penurunan tajam. Misalnya kenaikan IHSG 3%-4%, peluang kejadiannya 1%. IHSG juga pernah sekali naik 8%-9%. Distribusi perubahan harian IHSG mengikuti distribusi normal, rata-rata perubahan 0,06% . Artinya, investor atau trader saham tak hanya berani menikmati untung besar, tapi juga harus berani menghadapi penurunan tajam. Bagaimana jika pengamatan diperpanjang, misalnya sejak 1 Juni 1997? Memasukan tahun krisis 1998 dan 2008, rata-rata perubahan harian tetap (0,06%). Tapi volatilitas meningkat, deviasi standar naik dari 1,17% menjadi 1,67%. Peluang IHSG turun 3%-4% menjadi 1,71% dari 1%.

Tajamnya penurunan harga saham jauh lebih heboh dari IHSG naik tajam. Ini dijelaskan dengan prospect theory Daniel Kahneman, investor takut rugi daripada berani untung (aversion to loss). Setiap koreksi tajam, investor khawatir. Apakah koreksi sehat atau akan terjadi penurunan lebih besar lagi, sehingga mengarah ke tsunami finansial, seperti 1998 atau 2008?

Peluang tsunami finansial kecil, tapi bukan tak mungkin. Mengutip buku Black Swan dari Nassim Taleb, tsunami finansial itu highly improbable but not impossible. Dari masa lalu, investor mengetahui probabilitas IHSG turun sekian persen, tapi sulit menerka kapan. Nah, lebih baik menyiapkan strategi menghadapi kejadian buruk yang akan terjadi.