: WIB    —   
indikator  I  

Strategi memilih batu dan pasir

Strategi memilih batu dan pasir
Kolumnis internasional, berbasis di California dan aktif di blog JennieXue.com

Setiap bisnis memerlukan strategi yang bekerja dengan baik. Ruang lingkup strategi itu bisa dimulai dari organisasi hingga teritorial. Selain itu, setiap unit usaha perlu dirancang dengan baik agar bisa menggeser batu daripada hanya memindahkan pasir.

Istilah "rock and sand" ini digunakan oleh Michael Synk, konsultan bisnis penulis buku Rock and Sand: A Practical Insight to Business Growth.

Tujuan akhir dari suatu strategi bisnis adalah meningkatkan profit dan memastikan bisnis terus bertumbuh. Dengan cara inilah sebuah bisnis bisa bertahan dalam kondisi ekonomi makro seperti apapun. Tentu ini adalah goal alias tujuan, yang bisa saja dalam pelaksanaannya akan mengalami guncangan oleh keadaan eksternal maupun internal.

Kembali ke business plan semula sebagai titik awal. Revisi business plan dan menjadikan blueprint yang terus-menerus diperbaiki, sambil tetap mempertahankan kerangka dasar. Marketing plan merupakan bagian business plan yang memberikan nafas bagi bisnis. Karena itu, setiap revisi semestinya mempunyai hasil yang bis dikuantifikasikan atau diukur.

Sebagai seorang pemimpin perusahaan, tugas Anda adalah mengenali strategi yang paling sesuai untuk diterapkan. Untuk itu, desain dan pengembangan strategi perlu dilakukan dengan seksama dan berdasarkan data point akurat.

Prinsip yang dicetuskan oleh Gazelles Growth Company dan Michael Synk: Jika Anda tidak menggeser batu (sesuatu yang besar dan bermakna) setiap hari, minggu, bulan, kuartal, dan tahun, berarti Anda tetap berdiri tanpa bergerak. Karena itu geserlah batu setiap hari.

Upaya menggeser batu setiap hari ini, memerlukan lebih dari sekadar knowing atau mengetahui dan understanding alias memahami. Dalam kondisi ini Anda membutuhkan execution alias eksekusi.

Karena itu antara strategi dan eksekusi ada suatu gap (jeda atau celah) yang perlu dijembatani agar bisa mencapai tujuan alias goal.

Mulailah dengan membedakan antara batu dan pasir. Yang termasuk kategori batu adalah aktivitas-aktivitas yang secara langsung menambah bottom line alias profit perusahaan. Ada tiga skenario "batu" dan "pasir" ini. Pertama, memindahkan pasir saja namun tidak perlu menggeser batu. Kedua, menggeser batu, namun tidak memindahkan pasir. Ketiga, memindahkan pasir dan menggeser batu. Nah dalam situasi ini yang kita bidik adalah skenario yang ketiga.

Memindahkan pasir tanpa menggeser batu artinya mengerjakan hal-hal rutin yang "harus" dijalankan baik ketika ada "batu" atau tidak. Menggeser batu namun tidak memindahkan pasir, artinya melakukan hal-hal besar yang penting bagi penambahan profit, namun gagal menjalankan administratif dan manajerial yang mampu mengulang profit besar di masa depan. Memindahkan pasir dan menggeser batu dengan baik merupakan ideal yang dituju.

Lantas, apa yang termasuk kategori "batu"? Produk-produk baru, membidik pasar baru, anggota tim baru yang membawa pembaruan, upgrade teknologi, perbaikan proses, dll. Intinya adalah hal-hal yang membawa bottom line ke menjadi lebih baik. Business development dan sales termasuk kategori ini.

Bukan berarti divisi administratif tidak mendapat tempat. Kehadiran "pasir" sangat penting dalam melancarkan pergeseran batu. Keharmonisan dan sinergi keduanya merupakan kunci sukses bisnis-bisnis luar biasa yang mampu bertahan hingga beberapa generasi.

Tahap berikutnya adalah memilih "batu" yang tepat untuk dijadikan fokus pada saat ini. Fokuslah pada core competencies bisnis dan short and long-term targets yang ingin dicapai. Selain itu penting juga dengan janji merek (brand promise) yang selama ini menjadi navigasi. Pastikan semua target ini bisa diukur secara detil, namun tidak micromanaging.

Untuk mencapai target per hari, per minggu, per bulan, per kuartal, dan per tahun, apa saja yang diperlukan? Jelas semua membutuhkan batu dan pasir. Dan pasir yang sangat baik kualitasnya akan mampu menggeser batu sebesar apapun.

"Menggeser batu" dengan sukses perlu diulang secara tepat dan cepat sehingga tidak kehilangan momentum. Momentum sendiri bisa berasal dari pasar alias tren maupun dari internal perusahaan. Misalnya semangat dan fokus kerja tim inti yang perlu terus-menerus dibangkitkan.

Selain aktivitas (task), tentu workflow perlu dioptimalkan dengan lebih dari sekedar peta. Perlu inisiatifinisiatif baru dari berbagai arah. Selamat menggeser batu dan memindahkan pasir setiap hari. Kuncinya: revisi berulang dan bersemangat dalam mencapai target.

 


Close [X]