: WIB    —   
indikator  I  

Growth zone dan resistensi

Growth zone dan resistensi
Pemerhati manajemen dan kepemimpinan

Dalam sebuah diskusi, beberapa teman menyatakan kepeduliannya terhadap perkembangan negeri kita tercinta. Saat Joko Widodo (Jokowi) terpilih sebagai pucuk pimpinan pemerintahan, harapan publik melambung seketika ke langit. Jargon perubahan bertajuk revolusi mental seolah-olah menyihir pikiran banyak orang, sekaligus menumbuhkan optimisme yang besar dan tekad yang kuat. Tak heran, majalah bergengsi dunia, TIME, pun kala itu rela memasang wajah Jokowi di halaman sampul dengan tulisan besar New Hope alias Harapan Baru.

Sekarang, beberapa bulan setelah Jokowi dan Jusuf Kalla (JK) menduduki singgasana pemerintahan, publik mulai tersadarkan, ternyata tak mudah beranjak dari kelembaman atawa status quo. Roda ekonomi berputar tak sekencang yang diharapkan. Sama halnya pula penegakan hukum tak berjalan ke arah sebagaimana mestinya. Praksis politik juga tak bergeser dari kebiasaan-kebiasaan lama, seperti halnya dinamika sosial-kemasyarakatan yang tidak bisa dikatakan semakin berbudaya. Sebagian rakyat pun mulai masygul berpikir, apakah masih pantas untuk meletakkan harapan di tempat yang tinggi?

Bagi para penggiat manajemen perubahan (change management), kondisi yang terjadi saat ini bukanlah hal aneh. Di dalam buku teks mana pun sudah disampaikan, perubahan bukanlah suatu mimpi yang akan berjalan secara otomatis menuju destinasi dengan kakinya sendiri. Perubahan pada dasarnya adalah sebuah usaha yang mesti disiapkan, ditata, dan dikelola dengan seksama, jika memang hendak mendatangkan hasil yang diharapkan. Dan, jelas itu tidak mudah. Bahkan, pakar change management dari Harvard Business School John Kotter berujar Change is something easy to talk about, but hard to work on. Ada beberapa argumentasi, mengapa sulit mengelola agenda perubahan, apalagi perubahan di lingkup kolektif, semisal organisasi, perusahaan, juga negara. Minimal ada dua alasan yang membuat kita gagapbahkan lebih buruk lagi: resistenterhadap agenda perubahan.

Pertama, karena pada dasarnya manusia suka dengan kondisi yang stabil, menentu atau certain, dan juga bisa diramalkan atawa predictable. Manusia semenjak masih dalam rahim kandungan sang ibu sudah dikondisikan untuk terbiasa dengan suasana yang hangat dan terkendali alias nyaman.

Sebaliknya pula, lingkungan sekitar pun seringkali menasehati sang ibu hamil untuk merawat si jabang bayi sebaik dan seaman mungkin, serta menjauhkan diri dari goncangan fisik dan psikologis, sekecil apa pun itu. Karena itu, kita mengenal istilah comfort zone, yang menunjukkan kerinduan manusiawi seseorang untuk hidup dan tinggal dalam kenyamanan.


Menaklukkan resistensi

Kedua, karena pada dasarnya pihak-pihak lama, entah itu sosok, kebiasaan, dan pola pikir, tak sudi untuk hilang dari panggung eksistensinya begitu saja. Orang bule mengatakan the old never goes quietly. Artinya, jangan berharap kebiasaan-kebiasaan lama kita hilang begitu saja, ataupun juga pola-pikir yang lama terbarui secara sukarela. Sama halnya dalam konteks kedudukan, sosok-sosok lama pun tak akan ikhlas begitu saja meninggalkan gelanggang untuk digantikan oleh orang-orang baru berikutnya.

Inilah esensi wacana status quo yang seringkali kita dengar dalam kancah sosial-politik. Saat ramai-ramai orang bersikap dan bertindak tanduk laksana iklan zaman dulu (jadul) sebuah produk furnitur, kalau sudah duduk, lupa berdiri!.

Sesungguhnya, persoalan terbesar dalam agenda change management muncul bukan kala kita menjalani proses perubahan tersebut, melainkan ketika menaklukan resistensi di saat awal. Pakar manajemen Malcolm Gladwel menyebutkan, momen yang menjadi titik tolak perubahan tersebut sebagai tipping point, yakni saat agenda perubahan mendapatkan moment of truth-nya.

Ini mirip dengan pepatah bijak yang mengingatkan kita bahwa dalam menempuh sebuah perjalanan, yang tersulit adalah saat kita akan mengayunkan langkah pertama. Jika langkah pertama berhasil diayunkan, maka ia akan menjadi modal besar untuk mempercepat dan mengungkit langkah-langkah selanjutnya.

Pertanyaan bagi kita semua, bagaimana cara menaklukkan resistensi alami di dalam diri kita terhadap angin perubahan. Untuk urusan yang satu ini, seorang rekan punya tip yang unik. Katanya, resistensi itu ada di kepala (baca: benak manusia). Maka, menaklukkannya pun harus lewat kepala juga.

Mengubah cara-pandang atawa paradigma adalah pintu masuk untuk mengubah hal-hal lainnya. Perubahan cara pandang laksana tipping point, yang bisa meluncurkan roda perubahan ke tingkat yang bahkan tak kita duga pada awalnya. Dan, sang kawan pun menutup petuahnya dengan satu kalimat sederhana, there is no growth in comfort zone, and there is no comfort in growth zone.


Close [X]