: WIB    —   
indikator  I  

Keterampilan mendengar

Keterampilan mendengar
Pemerhati manajemen dan kepemimpinan

Alkisah, ada cerita tentang satu pasangan yang berakhir derita karena sebuah ketidaktahuan. Si suami harus pergi berperang, dan ia meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Tiga tahun kemudian, ketika ia dibebastugaskan dari dinas ketentaraan, istrinya datang ke gerbang desa untuk menyambut kepulangannya. Ia membawa serta anak laki-laki mereka yang lahir tanpa pendampingan sang ayah.

Ketika pasangan muda tersebut bertemu, mereka tidak bisa menahan tangis, tentunya tangisan kebahagiaan. Mereka ingin berterimakasih kepada para leluhur yang telah melindungi mereka, sehingga masih dipertemukan kembali. Pria muda itu meminta istrinya pergi ke pasar untuk membeli buah-buahan, bunga, dan sesaji persembahan lainnya untuk diletakkan di altar sembahyang para leluhur mereka.

Ketika si istri sedang berbelanja, ayah muda tersebut meminta anak laki-lakinya untuk memanggilnya Ayah. Tapi, si bocah menolak. Tuan, Anda bukan ayah saya! Ayah saya biasa datang pada malam hari, dan ibu akan berbicara dengannya dan menangis. Ketika ibu duduk, ayah juga duduk. Ketika ibu berbaring, ayah pun ikut berbaring, kata si bocah.

Setelah mendengar celoteh itu, hati ayah tersebut seketika berubah menjadi sekeras batu. Gusar dan memendam amarah. Saat istrinya kembali dari pasar, pemuda itu bahkan tidak sudi melihat wajahnya. Ia mempersembahkan buah, bunga, dan dupa kepada leluhur, bersujud dan langsung menggulung tikar sembahyang. Ia tak mengizinkan istrinya untuk melakukan hal yang sama. Ia percaya, istrinya tidak layak untuk hadir di hadapan para leluhurnya.

Pemuda tersebut kemudian keluar rumah dan menghabiskan waktu untuk minum-minum dan berjalan tak karuan di seputar desa. Sang istri tak mengerti, mengapa suaminya bersikap seperti itu. Dan akhirnya, setelah tiga hari berlalu, sang istri pun tak tahan lagi. Ia pergi ke bibir sungai kemudian melompat ke dalamnya.

Malam harinya, setelah upacara duka, ketika si ayah muda menyalakan lampu minyak, bocah laki-lakinya sontak berteriak, Itu dia, ayahku!. Ia menunjuk bayangan ayahnya di dinding dan berkata, Ayah saya biasa datang setiap malam seperti ini, dan ibu akan berbicara kepadanya dan menangis pilu. Seketika itu juga, ayah muda itu mengerti, namun semua sudah menjadi sangat terlambat.

Pembaca, ini adalah kisah klasik dari Vietnam yang dilukiskan dengan syahdu oleh seorang Mahaguru Zen ternama Thich Nhat Hanh, dalam bukunya Teachings on Love (2012). Pesan utama yang ingin disampaikan dalam kisah di atas adalah, acapkali kegagalan dalam berkomunikasi bisa menyebabkan akibat yang teramat fatal. Karena tidak bertanya dan berbicara satu sama lainnya, sang suami dan istri di atas hanya bisa saling menduga dan berprasangka. Lazimnya, dugaan cenderung berisi hal-hal negatif dan prasangka dipenuhi dengan pikiran-pikiran buruk.

Lebih jauh, Nhat Hanh mengatakan, komunikasi yang sejati akan mendatangkan pengertian (understanding) yang merupakan sumber relasi yang harmonis. Tidak pernah dalam sejarah umat manusia, kita memiliki begitu banyak perangkat komunikasi televisi, radio, telepon, faksimili, surat elektronik, internet, dan sebagainya. Tapi yang terjadi, justru orang merasa sendirian dan tak dipahami dengan baik oleh orang-orang di sekitarnya. Begitu banyak saluran media yang memungkinkan kita untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan akurat, namun pada kenyataannya justru gosip, rumor, dan sensasi yang berkembang dengan cepat.


Memahami orang lain
Banyak sekolah dan pelatihan manajemen mengajarkan keterampilan dan cara berkomunikasi. Biasa disebut juga sebagai communication skill. Sayang, pelatihan komunikasi tersebut lebih banyak tertuju kepada urusan berbicara. Peserta diajarkan bagaimana cara berbicara yang sistematis, jelas, dan bisa meyakinkan orang lain. Peserta juga diajak untuk menata intonasi suara, kecepatan wicara, hingga bahasa tubuh yang ditampilkan.

Dan pada kenyataannya, pelatihan komunikasi sejenis ini tidak selalu menghasilkan relasi yang lebih baik dan harmonis. Mengapa? Karena proses komunikasi yang utuh mensyaratkan adanya pengertian bersama (mutual understanding) antara pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Mendiang Stephen Covey dalam buku larisnya The 7 Habits of Highly Effective People menegaskan, sebelum seseorang meminta orang lain memahami dirinya, yang bersangkutan harus terlebih dahulu memahami orang lain. Bahkan, Covey menegaskan, perilaku seek first to understand, then to be understood sebagai salah satu kebiasaan orang-orang yang hidupnya efektif dan produktif.

Pada kenyataannya, keterampilan yang bisa meningkatkan kemampuan kita untuk memahami orang lain secara baik bukanlah keterampilan berbicara, melainkan keterampilan mendengarkan. Dengan mendengarkan secara baik, kita diajak untuk mengerti pikiran dan menyelami perasaan orang lain. Saat masing-masing bisa memahami pikiran dan perasaannya, mutual understanding pun akan lahir dengan sendirinya.

Namun lagi-lagi sayangnya, kita lebih terlatih untuk urusan berbicara. Saatnya kita meningkatkan kemampuan komunikasi kita, dengan menempa keterampilan mendengarkan.


Close [X]