: WIB    —   
indikator  I  

Membangun tempat kerja multikultur

Membangun tempat kerja multikultur
Kolumnis internasional serial entrepreneur, pengajar bisnis berbasis di California, aktif di blog JennieXue.com

Globalisasi merambah ke mana-mana. Kini semakin tidak jelas negara dan kultur apa yang lebih dominan di suatu organisasi, baik perusahaan maupun institusi lainnya.

Di Lenovo dan Huawei yang notabene adalah perusahaan yang didirikan di Tiongkok atau China Daratan, kultur yang dominan adalah kultur Silicon Valley yang inovatif dan transparan. Di Pepsi Co, Chief Executive Officer (CEO) Indra Nooyi membawa kultur India egaliter yang keibuan namun sangat peka multikultur. Dengan kepekaan akan kompleksitas India, Nooyi telah siap untuk bertempur di berbagai negara dengan panca indra ekstratajam.

Kolega dan partner kerja Anda mungkin juga berasal dari berbagai negara. Belum lagi partner bisnis dan klien yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Hampir semua produk yang kita pakai sehari-hari mempunyai elemen global, alias berasal dari negara lain.

Laptop yang Anda pakai, bisa jadi dirakit di San Jose, Amerika Serikat. Namun komponen-komponennya bisa berasal dari Taiwan, Jepang, Korea, dan China. Belum lagi smartphone yang didesain di Qualcomm San Diego namun diproduksi di Shenzhen.

Facebook yang Anda kunjungi setiap beberapa menit sekali didesain di Boston oleh seorang Yahudi Amerika. Mi instan sarapan Anda mungkin dibuat di Surabaya, namun gandumnya berasal dari mancanegara.

Melek multikultur dan peka akan berbagai permutasi kultur semestinya merupakan default state seseorang. Dan seseorang yang sukses dalam arti sesungguhnya (tidak hanya material), biasanya mempunyai aset kultural yang baik.

Fondasi paling dasar suatu kultur adalah sistem nilai alias standar baik dan buruk sesuatu. Semakin kita mengenali sistem ini dan menerapkannya dengan semangat saling pengertian dan empati, maka akan semakin berhasil proses interaksi.

Misalnya membunyikan klakson di jalan raya dianggap biasa di Indonesia. Namun di negara-negara maju, ini kurang baik karena mengganggu konsentrasi, kecuali apabila sangat mendesak.

Lalu menaikkan kaki ke kursi di kala istirahat dipandang biasa di negara-negara barat, namun di Indonesia ini adalah hal tabu dan tidak sopan. Terlambat setengah jam di Indonesia adalah biasa dan bisa dimengerti, karena satu dan lain hal. Namun di negara maju ini merupakan insult alias hinaan terhadap pihak yang menunggu.

Yang perlu kita perhatikan dalam proses interaksi multikultural secara jangka panjang baik dengan kolega, partner bisnis, maupun klien adalah kurva masa belajar alias learning curve. Berikutnya adalah fase adaptasi atau adaptation phase.

Menurut Charlotte Wittenkamp, seorang pakar psikologi multikultur di Los Altos, Silicon Valley, ada empat fase kurva masa belajar. Pertama,the unknown unknowns (tidak tahu apa yang tidak diketahui); Kedua,the known unknowns (tahu akan apa yang tidak diketahui); Ketiga, the known knowns (tahu apa yang diketahui); Keempat, the unknown knowns (tidak tahu apa yang diketahui).

Kenali sampai di mana pengenalan dan pengetahuan Anda akan suatu kultur yang bisa dianalisa dalam bentuk satu insiden, pertemuan, interaksi, dan fenomena.

Fase adaptasi ada empat: fase bulan madu (honeymoon); krisis; penyembuhan (recovery); dan penyesuaian (adjustment). Di masa bulan madu, semua perbedaan terlihat indah dan nyaman. Opposite attract alias segala hal yang terbalik dari kita itu menarik masih menjawab kuriositas akan hal-hal baru.

Di masa krisis, Anda akan menyadari bahwa perbedaan-perbedaan itu membingungkan dan menyebabkan kesalahpahaman bahkan krisis. Di masa itu, Anda merindukan kembali kultur asal karena di sana Anda bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu mengira-ngira arti sebenarnya.

Di masa recovery, Anda melihat bahwa dua kultur tersebut sama-sama baik, hanya berbeda. Di fase penyesuaian, Anda bisa melihat dengan jernih bahwa "begitulah di sini" dan Anda ikuti aturan main dalam kultur baru tanpa terbebani.

Adaptasi kultural sementara, seperti masa training dalam periode tertentu atau menimba ilmu sebagai mahasiswa pascasarjana, tidak mempersiapkan Anda untuk bertahan secara jangka panjang di kultur baru. Di bawah sadar, Anda tidak akan mencuci kultur asal, namun hanya menganggap kultur baru sebagai hal yang harus dilakukan sementara.

Tip bagi para multikulturalis akan berpendapat; Jadilah manusia universal yang menghargai dan mempraktikkan kebaikan hati, ketulusan, harmoni, egaliter, dan otoritas intelek.

 


Close [X]