Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Bijak saat hantu badai melanda bursa

Bijak saat hantu badai melanda bursa
Center For Finance and Investment Research Prasetiya Mulya Business School

Harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang merana. Tak heran jika pertanyaan yang masuk ke mailbox saya bernada pesimistis.

Saya coba menyajikan sebuah pertanyaan yang mewakili mayoritas pikiran para investor saham. “Saya investor saham berwawasan jangka panjang. Saya khawatir dengan kondisi ekonomi Indonesia. Apakah krisis moneter tahun 1998 akan terulang? Apakah sebaiknya saya lepas terlebih dahulu saham saya?”

Inilah jawaban saya. Kita semua prihatin dengan kondisi ekonomi saat ini. Data kuartal pertama menunjukkan angka pertumbuhan ekonomi yang mencapai 4,7% jauh di bawah target sekitar 5,7%. Bahkan laba bersih produsen mie instan terbesar drop hingga 37%.

Masalah defisit neraca transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah yang melemah masih menghantui pelaku bisnis kita. Semua maklum bahwa mayoritas produk yang kita konsumsi berbau dollar Amerika Serikat (AS).

Mulai dari mobil hingga mi instan. Celakanya, situasi ekonomi global dan lemahnya harga komoditi minyak bisa menyebabkan mata uang dollar AS semakin perkasa.

Lemahnya harga komoditas global juga memicu perekonomian kita semakin pusing karena komoditas mendominasi ekspor kita.

Selain itu, realisasi belanja pemerintah agak terhambat karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan baru disahkan pertengahan bulan Februari, setelahnya perlu mengikuti proses tender dan lainnya yang baru selesai dua hingga tiga bulan.

Apakah kita sedang menuju kejatuhan harga saham secara masif (market crash) seperti tahun 1998 silam? Ada dua pertimbangan yang membuat kita mempunyai harapan bahwa mimpi buruk tersebut tidak akan terjadi.

Pertama, optimisme pemerintah. Secara jangka pendek, investor menunggu hasil kerja tim ekonomi pemerintah. Harus ada quick win untuk menenangkan investor. Apakah ekonomi bisa membaik di kuartal II ini? Peran pemerintah sangat menentukan hal ini.

Tentunya kita berharap, optimisme Presiden Joko Widodo bahwa ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh di kisaran 5,3% sampai 5,7% pada tahun 2015 dan bahkan akan tumbuh sekitar 6% pada tahun 2016, bisa direalisasikan. Kita berharap, pemerintah punya sense of urgency dan kompetensi untuk membuat kebijakan ekonomi secara “cepat dan tepat”.

Kedua, kondisi politik domestik dan ekonomi global yang cukup stabil. Yang membuat rumit masalah adalah harga saham tidak hanya terpengaruh kondisi ekonomi. Faktor lain, seperti stabilitas politik dan faktor ekonomi global, terutama kebijakan moneter (suku bunga) di AS. Maklum, Indeks harga Saham gabungan (IHSG) masih sensitif terhadap dana investor asing yang lalu lalang di BEI. Selain itu, investor asing masih menjadi referensi pengambilan keputusan para investor domestik.

Belajar dari krisis moneter 1998, kita tahu betapa pentingnya menjadi kestabilan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Tahun 1998, mayoritas korporasi bertumbangan.

Salah satu faktor yang dianggap bisa menjaga nilai rupiah adalah jumlah cadangan devisa. Data terakhir (akhir April 2015) mengindikasikan jumlah cadangan devisa kita sebesar US$ 110,9 miliar, cukup untuk membayar impor dan utang Indonesia selama enam bulan.

Bandingkan dengan cadangan devisa saat terjadi krisis moneter 1998 yang hanya tinggal US$ 14,4 miliar. Namun mesti dicatat bahwa utang korporasi - baik BUMN maupun swasta- cukup besar, yakni US$ 162 miliar dan hampir separuh utang tersebut tidak dilindung nilai (hedging).

Kondisi politik saat ini juga jauh lebih stabil dibandingkan dengan tahun 1998. Kekhawatiran bahwa Amerika Serikat akan menaikkan suku bungan masih berlanjut.

Para ahli ekonomi meramalkan bahwa September 2015, Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga AS karena, yakin ekonomi AS sudah cukup sehat. Namun berita terakhir (per 4 Juni 2015) mengindikasikan bahwa Dana Moneter Internasional alias International Monetary Funds (IMF) mendesak Federal Reserve menunggu hingga tahun 2016 sebelum memutuskan untuk menikkan suku bunga. IMF berpendapat, kondisi ekonomi AS belum cukup sehat untuk Fed menaikkan suku bunga pada tahun ini.

Lalu apakah investor saham harus melepas saham yang sudah dimilikinya? Memang masih ada peluang bahwa harga saham akan turun lagi hingga akhir tahun 2015. Bahkan mayoritas analisis saham sibuk merevisi target IHSG akhir 2015 mereka dari level 5.500 hingga 6.200 menjadi hanya 4.500 hingga 5.000. Ini merupakan revisi yang cukup menohok.

Menurut saya, sangat tergantung pada saham apa yang dipegang investor dan apakah investor berada pada posisi “in the money” (sudah untung). Saham di sektor defensif, seperti jasa keuangan, barang konsumsi, jasa komunikasi, farmasi dan utilitas adalah saham yang lebih tahan banting. Saham ini biasanya mengalami penurunan yang lebih kecil, namun cepat balik arah saat sentimen negatif berlalu.

Tentu sayang jika kita harus melepas saham yang kita yakini bagus pada harga sedang turun, apalagi kalau harus jual rugi. Ingat, investasi adalah kiat merealiasi cuan secara jangka panjang.

Akhirnya, ketidakpastian memang menakutkan banyak orang. Tapi bagi orang bijak, ketidakpastian menawarkan peluang.