Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Siapa bilang arbitrase tak berisiko?

Siapa bilang arbitrase tak berisiko?
Pengamat Pasar Modal dan Pasar Uang

Ada tiga tipe investor dalam pasar keuangan yakni hedger, spekulan, dan arbitrager. Hedger menggemari deposito, ORI, dan sukuk ritel. Spekulan yang berjiwa hedger, menyukai reksadana atau diversifikasi langsung dalam saham-saham likuid dan berkapitalisasi besar.

Spekulan menyukai risiko. Dia memilih tidak diversifikasi dan membeli saham-saham berkapitalisasi kecil atau tidak likuid.

Terakhir, kita mengenal arbitrager yaitu tipe investor yang paling lihai meraih return tinggi dengan risiko rendah. Investor kelompok ini mengklaim dirinya mampu mengeksploitasi setiap kesempatan arbitrage di pasar.

Arbitrager beroperasi di dua pasar berbeda. Contoh kesempatan arbitrase (arbitrage) di pasar uang adalah jika ada dua money changer yang memasang harga beli-jual dollar Amerika (USD) yang berbeda, misalkan Rp 9.120-Rp 9.150 dan Rp 9.180-Rp 9.210 pada saat yang sama.

Dengan membeli semua dollar dari pedagang valuta asing pertama dan langsung menjualnya ke pedagang kedua, keuntungan

Rp 30 per dolar akan masuk kantong investor tanpa risiko sama sekali. Arbitrager di atas bahkan tak perlu menyediakan modal transaksi itu karena dana akan mengalir dari pedagang kedua ke pedagang pertama. Ia hanya mengambil keuntungan saja.

Arbitrage dalam pasar uang yang lebih kompleks terjadi saat ada tiga atau lebih mata uang yang diperdagangkan pada kurs yang tidak pas seperti di pasar AUD/USD, AUD/JPY, dan USD/JPY, misalnya. Manakala dollar Australia (AUD) atau yen Jepang (JPY) atau USD dihargai tidak wajar, arbitrager akan masuk.

Pada prakteknya, kesempatan arbitrase seperti di atas sangat jarang atau hampir tidak mungkin terjadi. Kalaupun ada, cukup satu orang arbitrager untuk mengoreksi mispricing yang terjadi. Dalam hitungan detik, tidak ada lagi kesempatan arbitrase.

Di pasar saham, kesempatan arbitrase hadir saat sebuah saham diperdagangkan di dua bursa yang berbeda (dual listing), misalkan di BEI dan New York Stock Exchange (NYSE). Secara teoretis, harga saham di dua bursa itu tak berbeda signifikan. Misalkan saham TLKM di BEI dibeli pada harga Rp 7.700 dan di NYSE dapat dijual Rp 7.900 sedangkan total biaya transaksi beli dan jual asumsikan 1%. Pada perbedaan harga (mispricing) sebesar ini, investor yang punya akses ke dua bursa itu akan membeli saham TLKM di BEI sebanyak mungkin dan langsung menjualnya di NYSE.

Aksi ini akan terus berlangsung sampai perbedaan harga di dua pasar itu tidak cukup besar lagi untuk menutupi biaya transaksi. Harga TLKM di BEI akan naik dan di NYSE akan turun.

Pada awalnya, literatur investasi mengatakan kesempatan arbitrase selalu memberikan keuntungan dan tanpa risiko. Namun, Shleifer dan Vishny dalam artikelnya The Limits to Arbitrage di Journal of Finance (1997) mengingatkan arbitrase juga mengandung risiko.

Saham yang nilainya jauh melebihi harganya (undervalued) dapat berlangsung lama tanpa banyak investor lain yang menyadari. Repotnya, investor yang menggunakan fasilitas margin atau mengelola dana nasabah sering tak mampu menunggu lama menyaksikan konvergensi harga saham menuju nilainya ini. Sebelum penyesuaian mispricing, sangat mungkin nasabahnya sudah melakukan redemption sehingga harus menjual sahamnya itu. Keuntungan pun tidak jadi diraih.

Pelajaran paling menarik dari kasus arbitrase dialami hedge fund Long Term Capital Management (LTCM) di Amerika Serikat. Dikelola oleh dua orang pemenang Nobel ekonomi plus seorang ahli arbitrase obligasi, LTCM mengklaim institusinya sebagai arbitrager sejati. Karena menghasilkan return spektakuler periode 1994-1997, tahun 1997 LTCM sukses menghimpun dana lebih dari US$ 7 miliar. Lalu datanglah tahun 1998 yang menghancurkan semuanya.

Saat itu LTCM mengamati perjanjian antara Royal Dutch dan Shell. Keduanya bersepakat membagi semua arus kas yang dihasilkan dua perusahaan ini dalam proporsi 60:40. Sebesar 60% untuk Royal Dutch yang sahamnya diperdagangkan di London Stock Exchange dan 40% untuk Shell yang sahamnya tercatat di NYSE.

Berdasarkan perjanjian ini, secara teori, nilai pasar Royal Dutch mestinya 1,5 kali nilai Shell. Menariknya, harga pasar kedua saham itu tidak memenuhi paritas ini.

Saham Shell terdiskon 18% relatif dari nilai paritasnya. Ketika diskon ini semakin besar, LTCM mengambil posisi long (beli) Shell dan short (jual) Royal Dutch untuk mengantisipasi keuntungan dari mispricing ini.

Yang terjadi, diskon harga terus melebar dan dalam satu hari saja yaitu tanggal 21 Agustus 1998, LTCM merugi US$ 553 juta. Pada 23 September 1998, LTCM pun harus di-bailout dengan dana talangan US$ 3,6 miliar untuk mengambil alih 90% kepemilikan LTCM.

Kesempatan arbitrase dalam saham ternyata tidak sepenuhnya bebas risiko. Anda masih percaya ada arbitrager sejati?