Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Make living vs make life

Make living vs make life
Pemerhati manajemen dan kepemimpinan

Tentang generasi Y, yakni generasi yang lahir setelah tahun 1980-an, sudah banyak dibahas. Intinya, generasi Y adalah sebuah generasi (pekerja) baru yang hadir dengan karakter yang sangat berbeda dengan generasi generasi sebelumnya. Wajar saja, karena mereka juga lahir, dibesarkan dalam kondisi dan konteks yang sangat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya.

Minimal ada tiga hal yang menjadi pembeda konteks generasi Y, yakni mereka lahir dari: pertama, kondisi ekonomi yang relatif lebih mapan. Kedua, situasi politik yang lebih stabil. Dan terutama ketiga, dinamika perkembangan teknologi yang jauh lebih canggih.

Dengan latar belakang seperti itu, tidaklah mengherankan jika generasi Y tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, bahkan cenderung individualistik. Seorang rekan yang menangani perkara rekrutmen berujar, ada pergeseran preferensi pekerjaan bagi generasi ini. Profesi-profesi mainstream, semisal insinyur, dokter, dan ekonom, mulai disaingi oleh pekerjaan-pekerjaan yang relatif anyar, seperti desainer, jurnalis, dan juga pekerja kreatif.

Secara guyon, sang teman juga berujar, jika hingga tahun 1990-an masih banyak lulusan perguruan tinggi yang mencari pekerjaan dengan niat make living (menciptakan penghidupan dan penghasilan), maka saat ini banyak yang memburu karya dengan intensi make life (menemukan kehidupan yang sesungguhnya). Indikasinya, dalam konteks make living, pada saat wawancara kerja akan banyak muncul diskusi yang terkait dengan gaji, benefit, dan stabilitas pekerjaan atawa perusahaan. Sebaliknya, dalam konteks make life akan hadir pertanyaan dan diskusi, misalnya, passion, suasana kerja, dan perkembangan karir/organisasi di masa depan.

Harap dimaklumi, make life tak selalu lebih baik dan lebih tinggi daripada make living ataupun sebaliknya. Mengapa? Jika seseorang hanya make life bagi dirinya sendiri, bukankah itu sifat individualistik yang sekadar mementingkan dirinya sendiri. Sebaliknya, jika seseorang mampu make living bagi banyak orang, bukankah itu sifat mulia yang semestinya dimiliki manusia di Bumi?

Saya teringat dengan William Soeryadjaja, seorang pengusaha besar yang mendirikan organisasi bernama Astra International, salah satu perusahaan konglomerasi terbesar di Indonesia. Lebih dari seorang pedagang bahkan pengusaha, beliau pada dasarnya adalah seorang industrialis yang bercita-cita membangun ekosistem industri, khususnya industri otomotif di Indonesia. Bagi seorang industrialis, lebih dari sekadar menangguk untung atau membangun raksasa bisnis, menjadi bagian aktif dalam dinamika dan pertumbuhan ekonomi negara jauh lebih penting.

William sedari awal sudah menetapkan tujuan pendirian organisasi Astra, yakni to prosper with the nation atawa sejahtera bersama bangsa. Dan, itu ditunjukkannya dengan membangun bisnis yang bisa memakmurkan bangsanya, yang salah satunya dengan menciptakan lapangan kerja sebanyak mungkin kepada masyarakat Indonesia. Begawan ekonomi dan lingkungan Emil Salim bahkan menyebut William sebagai sosok yang bekerja untuk menciptakan pekerjaan.

Dalam bukunya, The Coming Jobs War (2011), Jim Cliffton, pimpinan perusahaan polling ternama Gallup, menegaskan, di masa mendatang dunia butuh lebih banyak lagi sosok-sosok seperti William. Bagi Cliffton, pemimpin sebuah bangsa, negara, juga kota harus memfokuskan ikhtiarnya dalam upaya menciptakan pekerjaan.

Dalam studi yang dilakukan Gallup, dari tujuh miliar penduduk di Bumi, ada lima miliar yang berusia di atas 15 tahun. Dari lima miliar tersebut, tiga miliar orang menyampaikan kepada Gallup bahwa mereka bekerja atau ingin bekerja. Kebanyakan membutuhkan pekerjaan formal yang bersifat penuh-waktu atau full-time.


Sumber eksistensi

Persoalannya, saat ini di seluruh dunia hanya tersedia sekitar 1,2 miliar pekerjaan formal penuh waktu. Dengan demikian, ada kekurangan 1,8 miliar pekerjaan formal yang baik di muka planet ini. Angka yang hampir setara dengan seperempat jumlah manusia di Bumi, yang tentu berpotensi menimbulkan instabilitas bangsa dan tekanan sosial yang tinggi.

Bagi Cliffton, suatu bangsa tak akan mampu membangun kesejahteraan rakyat dan nasib warganya tanpa menciptakan pekerjaan. Bagaimanapun juga pekerjaan adalah salah satu sumber eksistensi dan martabat manusia. Apalagi, jika pekerjaan yang dihadirkan adalah pekerjaan yang baik, yang tak sekadar mendatangkan gaji dan penghasilan, namun bisa menciptakan kesempatan bertumbuh, perasaan bermakna, bahkan ikhtiar aktualisasi diri.

Akhir kata, menjadi tantangan kita bersama untuk menciptakan generasi muda yang tak hanya berpikir make life bagi dirinya sendiri, tapi bisa make living bagi orang lain. Akan lebih baik lagi, jika bisa make life bagi banyak orang.