Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Jadikan pasar pelayan Anda

Jadikan pasar pelayan Anda
Staf pengajar FEUI dan pengamat pasar modal

Perekonomian Indonesia dua tahun terakhir akan dicatat sebagai tahun-tahun sulit. Siapa yang menyangka nilai tukar yang pernah serendah Rp 8.500 per dollar AS di Agustus 2011 kini berada di level Rp 13.300-an dan sulit turun di bawah Rp 13.000.

Pertumbuhan ekonomi yang masih rata-rata 6,3% per tahun selama 2010-2012 dan sempat 6,5% pada 2011 terperosok ke 4,7% pada triwulan pertama tahun ini. Empat daerah yang menjadi basis produksi migas malah mengalami pertumbuhan ekonomi negatif yaitu Aceh, Riau, Kalimantan Timur dan Papua Barat. Inflasi pun jauh dari menggembirakan karena di angka 8,4% per tahun pada 2013 dan 2014, jauh dari target BI 4% + 1%.

Dengan tiga indikator utama perekonomian begitu buruk, sewajarnya kita memang tak dapat berharap terlalu banyak. “Tidak ada super solution,” kata Menteri Keuangan belum lama ini. Masih belum cukup dengan tiga indikator itu, silakan lihat juga statistik ekspor kita yang merosot dari US$ 203,5 miliar di 2011 menjadi hanya US$ 64,7 miliar dalam lima bulan pertama tahun ini atau US$ 155,3 miliar jika disetahunkan.

Ini semua menunjukkan sangat tergantungnya perekonomian kita pada harga komoditas yang permintaan globalnya terus menurun seiring melambatnya perekonomian negara penyerap komoditas terbesar dunia yaitu China. Negara dengan PDB terbesar kedua ini kini hanya dapat bertumbuh di bawah 7% setelah sebelumnya selama tiga dekade menikmati pertumbuhan rata-rata 9%-10%. Belum lagi jika kita memasukkan faktor lambatnya penyerapan belanja modal dalam APBN yang sejarahnya selalu seret di tahun pertama pemerintahan baru.

Dampaknya, pesimisme merebak ke banyak sektor. Industri properti dan otomotif menjadi yang paling terpukul. Industri semen yang awalnya diprediksi melesat kena imbasnya, dan industri makanan sekelas Indofood juga ikut mengalami penurunan pandapatan dan laba bersih. Investor tidak begitu yakin berita buruk sudah keluar semuanya. Bahwa situasi lebih buruk masih akan menghadang di kemudian hari merasuki banyak investor di pasar modal kita terutama di pasar saham.

Tahun lalu investor susah mengharapkan return tinggi dari investasi dalam properti. Tahun ini, sebelum berita investor asing dapat membeli dan memiliki properti, banyak investor lebih realistis lagi yaitu harus siap menjual rugi atau hanya break-even atas investasi properti yang dibelinya satu-dua tahun terakhir. Tanyakan soal ini kepada mereka yang ingin menjual rumah atau apartemennya bulan-bulan ini karena butuh likuiditas. Untuk statistik otomotif, hingga April lalu, penjualan sepeda motor turun 26% yoy.

Baik ketika kondisi pasar begitu terpuruk maupun saat bursa berjaya, investor mestinya menyadari prinsip berinvestasi dalam semua aset, baik riil maupun finansial sebenarnya sama yaitu buy low and sell high dan buy what you know and know what you buy. Soal prinsip pertama, jangan percaya begitu saja anjuran para pakar, pialang atau penasihat investasi untuk buy high and sell higher. Jika harga sudah ketinggian, opsi yang tersedia untuk investor sering hanya buy high but sell low.

Seseorang bersedia membeli tanah, rumah, properti atau usaha tertentu karena memandang nilainya melebihi harga yang dibayarkan. Mereka percaya bisa menjualnya pada harga lebih tinggi di kemudian hari. Demikian juga ketika seorang investor membeli saham, ORI, SUN, obligasi korporasi dan ETF.

Prinsip ini tak berbeda di mana pun seseorang berinvestasi dan tidak juga lekang oleh waktu. Yang dilakukan investor cerdas sesungguhnya juga mencari aset yang nilainya (value) lebih besar daripada harganya (price). Perbedaan antara harga dan nilai itu seperti perbedaan antara cost dan worth. Definisi sederhana istilah-istilah itu, harga adalah sesuatu yang kita bayar (cost) sedangkan nilai adalah sesuatu yang kita peroleh (worth).

Masalahnya, tak seperti harga yang ada di depan kita, nilai aset itu unobservable. Tak ada formula pasti untuk menghitung nilai ini dan kita hanya mampu mengestimasinya. Sama seperti harga, nilai juga dapat berubah jika terjadi perubahan drastis sentimen investor, seperti terjadi belakangan ini. Namun, nilai mestinya tak sevolatil harga yang dapat berubah dari menit ke menit tanpa ada perubahan fundamental sama sekali.

Untuk prinsip kedua, kita perlu belajar dari Peter Lynch, mantan manajer reksadana terbesar di AS yang dijuluki manajer investasi nomor wahid di dunia oleh majalah Time. Menurut dia, pohon dikenal dari buahnya, perusahaan yang baik juga dikenal dari produknya. Tak sulit menemukan perusahaan yang bagus karena produk bagus ada di sekitar kita.

Soal investasi saham, ada baiknya Anda juga mendengarkan ajaran Warren Buffett, ”Make the market your servant, not your guide. The market, like the Lord, helps those who help themselves. The market is there only as a reference point to see if anybody is offering to do something foolish. The dumbest reason in the world to buy a stock is because it’s going up and to sell a stock because it’s going down.

Jadi, menurut Buffett, pasar akan selalu melayani dan membantu mereka yang cerdas.