: WIB    —   
indikator  I  

Lebaran effect di Bursa Efek Indonesia

Lebaran effect di Bursa Efek Indonesia
Center For Finance and Investment Research Prasetiya Mulya Business School

Lupakan sejenak kecemasan akan melemahnya ekonomi Indonesia atau krisis keuangan Yunani. Lebaran tinggal beberapa hari. Sebuah pertanyaan menggelitik dari trader saham masuk ke mailbox saya, Sebaiknya saya membeli saham menjelang atau sesudah Lebaran?

Lebaran mempengaruhi semua sendi kehidupan kita, terutama di bidang ekonomi. Dalam jangka pendek, Lebaran mempengaruhi mood (suasana hati) trader saham. Jadi, sangat mungkin peristiwa Lebaran berdampak terhadap pergerakan harga saham.

Saya kemudian meneliti apakah pergerakan harga saham sehari sebelum dan hari pertama setelah libur Hari Raya Idul Fitri terkait dengan perubahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak awal tahun hingga sehari menjelang libur Lebaran di Bursa Efek Indonesia. Saya meneliti imbal hasil harian IHSG periode tahun 2003 hingga tahun 2014. Hasilnya bisa Anda lihat pada tabel di artikel ini.

Pada tahun 2003 misalnya, imbal hasil harian pada 23 Desember -hari terakhir sebelum bursa libur Lebaran- adalah sekitar 0,73%. Imbal hasil harian pada 29 Desember -hari pertama seusai libur Lebaran- adalah 2,01%.

Sejak awal tahun 2003 hingga hari terakhir menjelang libur Idul Fitri, IHSG sudah naik dari 423 menjadi 674 atau melesat 59,34%. Artinya harga saham cenderung naik sejak awal hari terakhir sebelum bursa libur Lebaran, dan terus naik di hari pertama setelah bursa libur Lebaran.

Dari pengamatan dengan periode waktu 12 tahun terakhir tersebut terlihat, hanya dua tahun IHSG melemah sejak awak tahun hingga menjelang libur Lebaran. Tahun 2005 terjadi penurunan sebesar 9,61% dan tahun 2008 terjadi penurunan sebesar 32,68%.

Di tahun-tahun lain IHSG selalu mengalami kenaikan dari awal tahun hingga menjelang libur Lebaran. Yang mencolok adalah di tahun 2003, terjadi kenaikan IHSG sebesar 59,34% dan tahun 2009 melesat hingga 77,2%.

Tahun 2008, bursa mengalami penurunan kinerja yang sangat tajam. Menjelang Lebaran, IHSG turun hingga 1.844, dari level 2.739 di awal tahun.

Sentimen negatif menjelang dan sesudah libur Lebaran seperti yang terjadi pada tahun 2005 berulang. Imbal hasil harian sehari sebelum bursa libur Lebaran adalah negatif 0,73%. Setelah bursa dibuka kembali setelah libur, IHSG turun hingga 10% dalam sehari! Kedua angka ini lebih rendah daripada rata-rata imbal hasil harian di 2008 yang negatif 0,2%.

Kebalikan dari tahun 2008, di tahun 2009 IHSG naik tinggi dari 1.377 di awal tahun menjadi 2.440 menjelang Hari Raya. Imbal hasil sehari sebelum dan hari pertama sesudah bursa libur Lebaran adalah 0,72% dan 0,48%, lebih tinggi daripada rata-rata imbal hasil di tahun 2009 yang sebesar 0,26%.

Artinya, jika bursa sedang bullish (terhitung dari awal tahun hingga menjelang Lebaran), strategi membeli saham di awal hari terakhir sebelum bursa libur Idul Fitri dan menjual di hari pertama setelah bursa libur Lebaran menjanjikan cuan.

Berdasarkan pengamatan selama 12 tahun terlihat bahwa jika bursa sedang bearish (dari awal tahun hingga menjelang Lebaran), IHSG sehari sebelum dan sesudah libur Idul Fitri selalu turun. Dengan pengecualian pada tahun 2011 dan tahun 2014, IHSG selalu naik ketika bursa saham sedang bullish.

Bisa disimpulkan bahwa ada kecenderungan pada saat bursa bullish, menjelang dan sesudah Lebaran harga saham cenderung naik. Namun di saat bursa bearish, yang terjadi justru sebaliknya.

Fenomena ini bisa dijelaskan dari kaca mata teori behavioral finance. Mood (suasana hati) trader atau investor saham mempengaruhi perilaku transaksi mereka. Ada kemungkinan peristiwa besar seperti Lebaran memperkuat mood trader/investor.

Saat bursa sedang bullish, trader atau investor semakin bersemangat mengoleksi saham. Tapi begitu bursa bearish, trader atau investor saham semakin pesimistis dan melepas saham yang mereka pegang.

Nah, bagaimana aroma ketupat Lebaran di bursa tahun ini, yang sudah mengalami penurunan IHSG sebesar 4,9% sejak awal tahun?


Close [X]