: WIB    —   
indikator  I  

Knowledge economy dan kapasitas individu

Knowledge economy dan kapasitas individu
Kolumnis internasional serial entrepreneur, pengajar bisnis berbasis di California, aktif di blog JennieXue.com

Sukses sebuah tim, tak bisa lepas dari kualitas individu yang ada didalamnya. Kini kita telah berada di dalam ekonomi pengetahuan (knowledge economy atau KE). KE ditandai dengan maraknya industri yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, sains, hak atas kekayaan intelektual, dan riset. Perlu kita catat, yng terpenting dalam jajaran kapital industri-industri tersebut adalah kapital sumber daya manusia (SDM), alias individu.

Individu-individu dengan predikat “paling” sangat dibutuhkan, karena tanpa mereka, tidak akan ada ide-ide jenius yang diperlukan sebagai motor penggerak dan pengisi akun bank.

Dalam KE, kapasitas individu merupakan kapital dan tantangan luar biasa untuk selalu dipertahankan dan terus diperbaiki. Integrasi manajemen SDM merupakan kebutuhan yang urgen bagi organisasi.

Bayangkan, bisnis yang mengandalkan aset intelektual, namun tidak mempunyai SDM berkualitas super di belakangnya. Bagaimana jadinya? Hampir bisa dipastikan bisnis ini akan gagal untuk bertahan lama.

Kuncinya adalah karakter yang baik dan sesuai dengan pekerjaan. Karena kompetensi bisa dibina dan dilatih.

Produktivitas dan kualitas performance juga bisa dilatih dengan bantuan coach atau mentor. Untuk mempertahankan individu yang sesuai karakter dan kompetensinya, manajemen perlu menjalankan gaya komunikasi dan interaksi serta pembangunan spirit moral yang tepat.

Manajemen kapasitas individu idealnya berdasarkan satu prinsip sederhana yakni kebahagiaan atawwa happiness. Pakar Psikologi Positif Mihaly Csikszentmihalyi mempopulerkan konsep “flow” alias “mengalir,” di mana kondisi psikis terbaik seseorang ketika mengerjakan sesuatu. Kondisi ini memungkinkan antara kemampuan atau skil dan kesempatan atawa opportunity bertemu di satu titik, sehingga aliran terjadi secara organik.

Sebagai seorang profesional Anda perlu menyadari bahwa inti dari sukses dalam bidang apa pun adalah rasa bahagia dan ketenangan bahwa hal-hal dasar ada dalam jangkauan kapasitas, termasuk kemampuan dalam mengatasi masalah. Jadi, aktivitas-aktivitas dipilih yang memberikan tambahan rasa bahagia dan ketenangan.

Sebagai manajer, Anda punya kewajiban untuk melestarikan positivitas dalam tim dan anggota tim. Tujuan akhirnya tentu saja sebagai “kurator aset intelektual” yang berada di dalam aset SDM. Bagaimana? Menjaga kebahagiaan dan ketenangan dengan positivitas.

Seorang pemimpin yang baik memiliki cukup karisma untuk didengarkan dan kesabaran untuk mendengarkan. Ini kedengarannya klise, namun cukup sulit untuk dijalankan. Anda perlu mengenal anggota tim sehingga mempunyai informasi latar belakang yang cukup untuk memprediksi kapasitas mereka.

Selain komunikasi positif, Anda perlu mengenali kapasitas individu di dalam tim, baik tim kecil maupun keseluruhan perusahaan yang dipandang sebagai “tim besar.” Beberapa indikator yang bisa dipakai. Pertama, apakah ia fokus akan gol atau aktivitas? Kedua, apakah ia lebih banyak memberikan masukan ketika proses berlangsung atau setelah selesai?

Ketiga, apakah ia lebih sering mengambil keputusan sendiri atau menunggu instruksi? Empat, apakah ia mengikuti instruksi secara penuh atau berimprovisasi dengan cara-cara sendiri? Kelima, apakah ia lebih mendengarkan opini orang lain atau mencari fakta dan informasi instruksional yang netral? Keenam, apakah ia berorientasi di masa lalu, kini atau masa depan?

Setiap individu mempunyai fokus yang berbeda. Atau bahkan tanpa fokus sama sekali. Apabila anggota tim Anda tampak tidak berkonsentrasi saat menjalankan tugas tertentu, atau saat mengerjakan beberapa hal sekaligus, lalu tampak gelisah, bisa jadi malah ia adalah seseorang yang mempunyai kesulitan klinis untuk fokus alias mempunyai kondisi ADD atau ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder).

Idealnya, setiap anggota tim bisa untuk berfokus pada tujuan yang sama dengan kualitas fokus yang sama-sama excellent. Dengan input SDM alias kualitas intelektual dan kualitas ketenangan dan kebahagiaan diri yang kurang lebih setara, maka output kerja mestinya sangat memuaskan.

Kesimpulannya adalah knowledge economy membutuhkan knowledge worker berkualitas tinggi yang dibina dalam lingkungan positif dan kondusif untuk peningkatan kapasitas individu. Bagaimana dengan kualitas individu di tim Anda?


Close [X]