: WIB    —   
indikator  I  

Menanti hadiah Lebaran dari RI-1 dan BEI-1

Menanti hadiah Lebaran dari RI-1 dan BEI-1
Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Twitter: @RencanaTrading

 Lebaran sebentar lagi. Bagi para pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI), Ramadan kali ini benar-benar spesial. Kalau soal pemodal asing yang melakukan tekanan jual sebelum Ramadan dan perdagangan saham yang sepi selama bulan puasa, itu sama dengan yang terjadi beberapa tahun terakhir. Bedanya, kali ini kita disambut krisis utang Yunani dan crash (kejatuhan harga yang tajam) Bursa Shanghai.

Dengan kondisi kurang begitu kondusif, wajar kalangan pasar modal menantikan "hadiah Lebaran" dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Di tengah sulitnya cari duit, profit hari-hari terakhir sebelum Lebaran, tidak cukup. Kondisi pasar sepi, harga saham sulit bergerak dengan volatilitas tinggi. Pasar membutuhkan sentimen positif yang memicu harga saham naik hingga Lebaran dan setelah libur Lebaran.

Hadiah Pertama, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal II-2015 yang bagus. Rakyat memilih Jokowi karena percaya beliau bisa membawa kondisi ekonomi ke arah lebih baik; membawa pertumbuhan ekonomi ke level lebih tinggi. Kepercayaan ini belum didapat dalam dua kali pengumuman angka pertumbuhan ekonomi selama Presiden Jokowi menjabat.

Oke lah pada pengumuman pertama, pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2014 masih limpahan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Rakyat, termasuk investor bisa memaklumi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2015 melambat karena faktor siklus anggaran yang tak pernah bisa dibetulkan Pemerintahan SBY.

Namun pada pertumbuhan ekonomi kuartal II-2015 yang akan diumumkan awal Agustus nanti, sepertinya pelaku pasar tidak memiliki rasa maaf atau sabar seperti sebelumnya. Rakyat perlu bukti, apa yang dilakukan pemerintah di jalan yang benar. Bukti tak cukup dengan acara-acara seremonial, tapi juga data atau angka yang mendukung, pemerintah di jalan yang benar.

Sejauh ini, pasar kebingungan setelah pernyataan-pernyataan positif Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia (BI) di awal Juli, berbalik menjadi pernyataan-pernyataan negatif setelah Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi beberapa waktu lalu. Untung tidak terjadi reaksi berlebihan dari pasar. Pelaku pasar masih menunggu pengumuman data ekonomi dan perkembangan isu global.

Hadiah kedua, reshuffle kabinet, terutama tim ekonomi dan menteri-menteri terkait variabel ekonomi. Pasar berharap reshuffle setelah lambatnya pertumbuhan ekonomi dua kuartal terakhir, masih dikombinasikan komunikasi buruk yang meneror pasar. Harga saham bisa jatuh akibat kebijakan dan pernyataan yang disalahartikan dan mudah diinterpretasikan negatif..

Pasar menebak-nebak dan beraksi siapa yang akan menjadi Tim Ekonomi. Pasar beraksi positif siapapun Tim Ekonomi, selama pasar melihat sebagai sosok yang mendorong perubahan dan pertumbuhan ekonomi. Pasar bereaksi negatif jika muka-muka lama yang tidak berprestasi tetap bercokol di kabinet. Pasar juga bereaksi negatif jika Presiden Jokowi terlalu mudah diatur dalam memilih menteri.

Hadiah ketiga, bom waktu harga premium dan solar. Kebijakan harga BBM pemerintah membingungkan. Sejak April lalu, pemerintah kembali membuat harga premium dan solar sesuai mekanisme pasar. Niatnya baik: agar lebih mudah mengendalikan inflasi selama Ramadan hingga Lebaran. Namun, ini menjadi bom waktu karena harga minyak internasional terus naik. Kenaikan itu membuka peluang terjadinya lompatan harga ketika pemerintah kembali melakukan penghitungan harga premium dan solar ke mekanisme pasar.

Mengurangi terjadinya ledakan harga pada harga premium dan solar bisa dilakukan dengan berbagai cara. Seperti memberikan dollar dalam kurs yang ditetapkan (fixed) ke Pertamina untuk keperluan pembelian BBM.

Hadiah keempat, perbaikan kebijakan fraksi harga. Hadiah Lebaran terakhir ini dari Pak Tito Sulistio, Direktur Utama baru PT BEI. Maklum, kebijakan fraksi harga tahun 2014 yang sejak masa sosialisasi ditentang berbagai kalangan, hasilnya sesuai perkiraan: berkurangnya aktivitas perdagangan, kaburnya investor ritel lama dan rata-rata total nilai transaksi harian bursa dua tahun terakhir selalu gagal memenuhi target. Perbaikan kebijakan ini sangat mendesak, terutama ketika kondisi pasar lesu seperti sekarang.

BEI sebaiknya juga memperhatikan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap fraksi harga. Segmen pasar pemodal ritel lokal yang biasanya menggemari saham lapis kedua, yang sebagian besar di bawah Rp 2.000, sebaiknya tetap berada dalam zona "1 poin untung", seperti pada fraksi yang lama. Sehingga scalper traders (trader yang cenderung puas dengan keuntungan tipis) kembali memiliki ruang melakukan aksi.

Namun, untuk saham-saham blue chips, yang di atas Rp 2.000, BEI diharapkan memenuhi permintaan fund manager yang lebih mementingkan terjadinya price discovery seperti aturan fraksi 2014. Terkait penetapan fraksi ini, BEI diharapkan memperhatikan penetapan bea meterai transaksi saham. Saya tidak setuju, karena mengurangi kue bagi pihak yang berkepentingan.

Tapi saya masih berharap, fraksi harga yang ditetapkan ke depan, kepentingan BEI (melalui levy), perusahaan sekuritas (fee), dan pemerintah (melalui bea meterai) dan pemodal (melalui capital gain) bisa terbagi seimbang dari pergerakan harga sebesar 1 poin. Saya sudah berhitung, dengan fraksi harga yang lama, BEI, pemerintah, sekuritas, dan investor bisa berbagi keuntungan secara cukup seimbang. .

Dengan semua hadiah di atas, saya menatap masa depan dengan galau. Dengan ketidakpastian dalam dan luar negeri, pemodal sebaiknya berhati-hati. Jika angka pertumbuhan ekonomi kuartal II-2015 bagus, angka pertumbuhan tahunan bisa meningkat di atas 4,8%. Saya melihat peluang IHSG kembali mencetak rekor sebelum akhir tahun.

Tapi, jika pertumbuhan ekonomi di bawah 4,7%, para pemodal bisa putus harapan terhadap Pemerintahan Jokowi ini. Semoga saja tidak.

 


Close [X]