Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Likuiditas, likuiditas, dan likuiditas

Likuiditas, likuiditas, dan likuiditas
Pengamat Pasar Modal dan Pasar Uang

Di mata investor, apa ukuran terpenting ketiga setelah return dan risiko? Apa yang membedakan aset finansial dari aset riil? Apa syarat utama agar pasar modal dapat berfungsi dengan baik?

Untuk ketiga pertanyaan tersebut, hanya diperlukan satu jawaban saja. Saya sengaja mengajukan ketiga pertanyaan tersebut untuk menekankan pentingnya likuiditas.

Dua kriteria utama investasi yaitu return dan risiko sudah sangat dikenal pelaku pasar. Investor pasar modal sangat familiar dengan hubungan erat antara keduanya. Indahnya dunia ini, reward datang bersama risiko.

Tidak bisa untung tanpa mengambil risiko. Ungkapan low risk, low return dan high risk, high return dipercaya berlaku dalam investasi apa pun.

Hanya investor sekelas Warren Buffet, Peter Lynch, dan segelintir investor piawai lain, yang mampu mematahkan kaidah utama investasi itu, serta menggantinya dengan low risk, but high return.

Menurut mereka, risiko itu timbul jika kita berinvestasi dalam aset atau perusahaan yang kita tidak paham betul fundamentalnya. Jika kita sudah tahu luar dalam mengenai suatu aset atau sebuah perusahaan, risiko itu relatif menjadi rendah.

Selain dua kriteria utama itu, karakteristik lain yang harus diperhatikan investor adalah likuiditas. Inilah keunggulan aset finansial atas aset riil.

Tanpa likuiditas, pasar modal menjadi tidak menarik dan kehilangan perannya sebagai sarana investasi sekaligus sumber pembiayaan. Mengenai pentingnya likuiditas, Handa dan Schwartz (1996) berpendapat, ”Investors want three things from the market: liquidity, liquidity, and liquidity.”

Mengingat begitu pentingnya likuiditas, mestinya ada satu pemahaman yang sama mengenai istilah ini yang diterima semua pihak. Kenyataannya, para pelaku pasar belum satu suara mengenai definisi likuiditas.

Investor dan regulator mengukurnya dari volume dan frekuensi transaksi. Semakin besar volume dan frekuensi transaksi, berarti semakin tinggi likuiditas.  Inilah kriteria yang digunakan BEI untuk menetapkan 45 saham terlikuid (LQ-45).

Kriteria lain yang juga sering dipakai adalah mudahnya suatu aset dicairkan menjadi kas saat dibutuhkan. Itu sesuai dengan asal kata likuiditas, yaitu likuid atau cairan.

Tentang keberagaman definisi likuiditas ini, O’Hara memandangnya sebagai sesuatu yang wajar. Dalam bukunya Market Microstructure Theory (1996), dia mengatakan kalau likuiditas itu seperti pornografi. Kita dapat merasakan keberadaan pornografi, tetapi tidak mudah untuk mendefinisikannya.

Demikian pula likuiditas aset finansial. Kita dapat merasakan aset A lebih likuid daripada aset B, tetapi sering sulit untuk mendefinisikan dan mengukurnya.

Menurut teori, suatu aset disebut likuid, jika ia dapat ditransaksikan dengan cepat dan biaya yang rendah, dalam jumlah besar, tanpa mempengaruhi harga.

Berdasarkan konsep ini, Larry Harris (2003) mengatakan likuiditas mempunyai empat dimensi yaitu immediacy, width, depth, dan resiliency.

Dimensi immediacy mengukur seberapa cepat kita dapat bertransaksi dalam aset itu. Jika kita selalu dapat melakukannya dengan segera, setiap kali kita menginginkan, kita mengatakan aset itu likuid.

Dimensi kedua, width atau breadth, melihat likuiditas dari biaya yang harus ditanggung untuk transaksi aset itu. Untuk properti, biaya-biaya itu adalah biaya notaris, BPHTB (transaksi beli), dan PPh (transaksi jual). Untuk valuta asing, biaya itu adalah selisih kurs jual dan kurs beli. Untuk saham, biaya transaksi meliputi ask-bid spread (selisih harga beli dan harga jual) dan komisi broker. Semakin kecil biaya transaksi sebuah aset, semakin likuid aset itu.

Saat ini, spread saham likuid di bursa kita bisa serendah 1/199 (10/1990 atau 25/4975) dan untuk komisi pembelian (penjualan), angkanya mulai dari 0,09% (0,19%) dari nilai transaksi. Karenanya, untuk transaksi dua arah (beli dan jual), biayanya hanya sekitar 0,6% − 0,7%. Sangat rendah dibandingkan dengan biaya transaksi beli-jual properti yang dapat mencapai 5%.

Dimensi ketiga adalah depth. Untuk saham, dimensi ini merujuk ke banyaknya order beli dan order jual yang ada di pasar. Semakin banyak order beli (jual), semakin mudah kita dapat melakukan aksi jual (beli), tanpa mempengaruhi harga, hingga semakin likuid saham itu.

Dimensi terakhir, resiliency, berhubungan dengan seberapa cepat harga aset dapat kembali ke tingkat sebelumnya, jika terjadi ketidakseimbangan aksi jual (beli) dalam jumlah besar. Jika harga suatu saham cepat kembali ke tingkat harga wajarnya seperti sebelumnya, saham itu dikatakan likuid.

Penggunaan empat dimensi likuiditas ini di BEI memang tidak akan banyak mengubah komposisi saham LQ-45. Tetapi, kini Anda paham perbedaan ukuran likuiditas dalam praktik dan secara konseptual.