: WIB    —   
indikator  I  

Peta jalan strategis

Peta jalan strategis
Pengamat manajemen dan kepemimpinan

Bayangkan suatu saat, dalam kesendirian, Anda diminta untuk pergi menuju suatu kota (lokasi) yang namanya baru Anda dengar, tanpa dibekali informasi petunjuk apa pun, termasuk peta jalan. Kebetulan Anda juga bukan seorang yang suka travelling, dan oleh karenanya naluri jalanannya tak terasah baik.

Mungkin, setelah dengan berbagai upaya dan cucuran keringat, Anda akhirnya bisa tiba di lokasi yang dimaksud. Namun, kemungkinan besar perjalanan yang Anda tempuh menjadi sangat tidak efisien. Perjalanan yang semestinya bisa ditempuh dalam waktu 5 jam, boleh jadi akan mengulur menjadi 10 jam. Selama perjalanan, sangat mungkin Anda sering tersesat alias salah jalan. Demikian juga akan terjadi trial and error alias mencoba sana-sini, dan ternyata keliru. Ujung-ujungnya, pasti banyak sumber daya (uang, tenaga, waktu) yang terbuang secara tak efektif. Hal serupa juga bisa terjadi dalam dunia organisasi atawa korporasi.

Banyak perusahaan yang merumuskan destinasinya dalam bentuk sasaran-sasaran strategis, yang biasa disebut sebagai vision (visi) atau long-term goals (sasaran jangka panjang). Rumusan itu dapat terbaca jelas dalam poster yang terpampang di ruang-ruang rapat, ataupun tertulis benderang di buku company-profile. Umumnya, ungkapan visioner itu berwujud kalimat-kalimat superlatif semisal to be the best... bla bla bla ataupun to be the most ...bla bla bla.... Atau bisa juga tertulis becoming dis dis dis ataupun achieving dis dis dis....

Persoalannya, apakah saat menentukan sasaran-sasaran strategis tersebut, perusahaan juga memikirkan (merumuskan) peta jalannya, yang akan menuntun langkah organisasi secara sistematis menuju pencapaian sasaran tersebut. Dalam ilmu manajemen, panduan perjalanan strategis ini disebut juga sebagai strategic roadmap. Per definisi, strategic roadmap dapat diartikan sebagai a visual plan that offers goals and strategies for the future of a business, organization or group. Dengan demikian, serupa dengan peta visual yang membantu seorang pengemudi mengarahkan rute perjalanannya kepada destinasi yang ingin dituju, strategic roadmap juga akan membantu organisasi untuk mengikuti jalur perjalanan yang mengantar kepada sasaran yang sudah ditetapkan.

Seorang rekan CEO yang memimpin perusahaan dengan rumusan visi organisasi yang mentereng, menjawab ringkas saat ditanya: apakah dia sudah memiliki strategic roadmap perusahaan. "Kumaha engke wae-lah," demikian tuturnya dalam bahasa Sunda. Artinya kurang lebih begini: Bagaimana nanti sajalah. Seorang sahabat bumi Pasundan pernah menjelaskan kepada saya bahwa istilah kumaha engke dan engke kumaha merupakan jargon filosofis yang hidup secara nyata dalam masyarakat Sunda. Kedua-duanya mempunyai kebenaran kontekstualnya sendiri-sendiri, tanpa perlu untuk membandingkan mana yang lebih baik/tepat antara satu dan yang lainnya. Kumaha engke (bagaimana nanti?) mencerminkan sikap pasrah seseorang dalam menantikan suatu (hasil), tatkala yang bersangkutan sudah berpikir dan bekerja keras sesuai dengan batas kemampuannya. Adapun engke kumaha (nanti bagaimana?) merefleksikan sikap antisipatif seseorang dalam merencanakan suatu agenda, sehingga apa yang direncanakan tak hanya sekadar sebuah impian kosong alias ngawur belaka.


Visi tanpa strategic roadmap
Saya menjadi masygul dengan jawaban kumaha engke sang CEO. Apakah itu mencerminkan kepasrahan yang dapat dipertanggung-jawabkan, karena merasa telah berpikir dan bekerja keras sebelumnya. Atau, sekadar menunjukkan bahwa yang bersangkutan tak memiliki minat atau usaha untuk melakukan perencanaan yang lebih jelas, perinci, dan terukur?

Ada dua kemungkinan yang dapat terjadi pada sebuah perusahaan yang memiliki visi, namun tak melengkapinya dengan strategic roadmap. Pertama, boleh jadi visi itu akan sekadar menggantung sebagai mimpi di siang bolong alias cita-cita tanpa dasar. Dapatlah disimpulkan bahwa memang sedari awal pemilik visi tersebut tak bersungguh-sungguh dengan isi visinya, apalagi berjuang keras untuk mewujudkannya.

Kedua, kalaupun visi tersebut adalah sungguh-sungguh refleksi dari cita-cita organisasi, maka perusahaan akan mengalami persoalan eksekusi yang serius. Akan banyak trial and error yang dialami, karena memang tak ada panduan jelas yang menuntun langkah bersama segenap elemen organisasi. Tapi, jangan pula berpikir bahwa strategic roadmap itu laksana resep mujarab yang bisa otomatis mengantar sebuah organisasi kepada cita-cita yang dituju. Ibarat peta, strategic roadmap hanya menunjukkan jalan yang mesti ditempuh untuk menuju destinasi. Apakah pada akhirnya bisa sampai di tujuan atau tidak, itu tergantung dari apakah langkah kaki diayunkan atau tidak.

Jadi, semuanya terpulang kepada eksekusi dari setiap rencana yang sudah tertera di strategic roadmap. Jika setelah dirumuskan dengan baik, strategic roadmap hanya berhenti dan tersimpan rapi di laci kantor, maka ia tak lebih dari sekadar berkas kerja belaka. Cita-cita memang diperlukan, peta jalan menuju cita-cita tersebut juga jelas dibutuhkan. Namun, pada akhirnya, yang paling menentukan adalah ketekunan dan konsistensi untuk mengayunkan langkah sesuai dengan rencana.


Close [X]