: WIB    —   
indikator  I  

Benar dulu, baru kaya

Benar dulu, baru kaya
Pemerhati manajemen dan kepemimpinan

Saya menyimak dengan serius perbincangan antara seorang ayah dan anaknya yang sedang menempuh kuliah di perguruan tinggi ternama. Kebetulan sang ayah adalah seorang sahabat karib. Percakapan itu diawali dengan celetukan sang anak yang mengatakan, "Pokoknya saya harus kaya! Dengan kekayaan, saya bisa melakukan banyak hal."

Entah apa yang ada di dalam benak sang anak mahasiswa tersebut, sehingga mulutnya bisa dengan mantap menyuarakan keinginannya untuk menjadi miliarder. Mendengar aspirasi tersebut, sang ayah terdiam sambil matanya menatap takzim ke wajah sang anak. Sempat memejamkan mata barang sejenak, sang ayah menjawab dengan nada berat, "Menjadi kaya? Ya, itu bagus adanya. Namun, sebelum menjadi kaya, pertama-tama kamu harus menjadi benar terlebih dahulu."

Mendengar jawaban sang ayah, anak muda itu pun bertanya heran, "Maksudnya?"

Ayah melanjutkan kembali, "Ya, tentunya kamu tidak menghendaki hidupmu seperti para pesohor kaya, yang kemudian tertangkap KPK karena melakukan korupsi, kecurangan, ataupun praktik kriminal lainnya. Mereka, yakni pengusaha X, pejabat Y, dan pengacara Z, adalah orang-orang kaya, bahkan superkaya, yang harus berhadapan dengan dakwaan ketidakbenaran yang akan ditimpakan kepada mereka." Perlahan-lahan sang anakpun mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan atas jawaban orangtuanya.

Saya begitu menikmati perbincangan tersebut, dengan sesekali tersenyum terhadap isi perbincangan yang tampak sederhana, tapi sesungguhnya sarat makna dan pembelajaran. Dalam hati saya berpikir, anak muda itu adalah representasi dari generasi muda masa kini. Lahir dari keluarga yang mapan, kuliah di perguruan tinggi ternama, bergaul di lingkungan pertemanan yang modern, bahkan seringkali juga kompetitif. Kompetitif dalam arti saling bersaing untuk menjadi yang ter. Terpintar di bangku kuliah, terhebat dalam kegiatan kemahasiswaan, dan terkeren dari sisi penampilan.

Kemapanan sosial ekonomi yang melatarbelakangi kehidupan mereka, sekaligus juga kompetisi di antara peer-group yang melingkupi keseharian mereka, telah menjadi prakondisi yang menggiring lahirnya pola pikir yang pragmatis dan instan. Keinginan menjadi kaya hanyalah salah satu bentuk konkret dari cita-cita pragmatisme tersebut.

Di dalam ilmu manajemen kinerja (performance-management), kita mengenal dua elemen yang seringkali dijadikan kriteria penilaian kinerja: hasil kerja dan proses kerja. Hasil kerja adalah apa atau berapa pencapaian akhir yang ditunjukkan oleh seseorang. Sementara proses kerja merupakan bagaimana cara pencapaian yang ditempuhnya. Kedua hal ini seolah-olah merupakan dua elemen yang berbeda dan terpisahkan, namun sesungguhnya tidak demikian halnya.


Manajemen proses

Dalam bukunya The Toyota Way (2004), Jeffrey K. Liker menyebutkan, ada 14 prinsip yang menjadikan Toyota sebagai perusahaan otomotif yang unggul. Prinsip yang kedelapan berbunyi: proses yang benar akan memberikan hasil yang benar. Toyota percaya, jika sebuah perusahaan mempunyai manajemen proses yang baik, hasilnya pasti akan baik pula secara jangka panjang.

Hanya, bisa saja sebuah perusahaan meraih hasil yang baik tanpa melewati proses yang baik. Tapi, untuk pernyataan ini, praktis tidak ada jaminan bahwa hasil baik bisa dipertahankan secara berkesinambungan. Hasil baiknya cenderung sesaat, dan boleh jadi bersifat keberuntungan semata.

Menurut Liker, dengan memiliki manajemen proses yang terstandardisasi baik dan tertata rapi serta benar, setidaknya ada lima manfaat yang bisa dipetik oleh sebuah perusahaan. Pertama, menghindari salah pengertian atau mispersepsi di antara karyawan. Kedua, memastikan adanya konsistensi implementasi sebuah proses. Ketiga, mempercepat proses pengambilan keputusan, karena data dan informasinya sudah tersedia. Keempat, mempermudah proses pengalihan tugas kepada pekerja pengganti, lantaran aturan mainnya sudah terdokumentasi. Kelima, menjadi pijakan dalam kegiatan perbaikan dan peningkatan di masa yang akan datang.

Yang lebih penting, dengan penataan proses yang benar (rapi, tertib, dan terstandardisasi baik), perusahaan akan berhasil membangun kultur perusahaan yang sehat secara berkesinambungan. Yang pada akhirnya, perusahaan menghasilkan produk yang unggul secara konsisten. Kalau sudah demikian, jangan heran kalau perusahaan seperti ini akan menjulang menjadi organisasi yang hebat dan kaya raya.

Bukankah apa yang berlaku bagi sebuah organisasi berlaku juga bagi kehidupan kita sebagai seorang individu. Toyota menjadi perusahaan yang sukses dan menguntungkan, karena mereka berhasil menata manajemen prosesnya dengan benar. Oleh karena itu, benarlah kata sang ayah tadi, sebelum menjadi kaya, kita harus menjadi benar terlebih dahulu.

 


Close [X]