Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Lindaweni dan semangat Indonesia

Lindaweni dan semangat Indonesia
Center For Finance and Investment Research Prasetiya Mulya Business School

Lindaweni? Who? Dia adalah atlet bulutangkis kita yang ikut berlaga di Kejuaraan Dunia Bulutangkis di Istora Senayan minggu lalu.

Lindaweni ikut kejuaraan ini karena dipilih PBSI mewakili Indonesia, bukan karena ranking dunianya yang hanya 29. Selama ini tunggal puteri Indonesia diremehkan karena kurang berprestasi. Punya teknik cukup bagus tapi mental bertanding payah, kurang percaya diri dan mudah menyerah.

Tak diunggulkan, Lindaweni malah membuat kejutan demi kejutan. Ia mengalahkan unggulan 13, 5 dan 4 untuk mencapai semifinal. Padahal sudah 20 tahun tunggal puteri Indonesia tak pernah mencapai semifinal.

Saat bertanding di perempat final, dia sudah tertinggal 15 lawan 20. Satu poin lagi dia membuat kesalahan, kalah. Tapi didukung 9.000 suporter di Istora, Lindaweni bertahan, membalikkan keadaan dan berhasil menang.

Di semifinal, cedera lutut Lindaweni kambuh. Namun ia menolak berhenti. Bak pejuang 1945 bersenjata bambu runcing, dia tetap bertempur hingga akhir pertandingan. Lawannya, ranking 2 dunia, akhirnya menang dengan susah payah. Tapi Lindaweni juga menang. Ia telah memenangkan hati semua penonton dan rakyat Indonesia.

"Dulu mental saya jatuh ketika lawan bermain bagus. Kini saya lebih percaya diri menghadapi lawan tangguh," kata Lindaweni. Ia telah mengalami revolusi mental, dari pesimistis menjadi optimistis. Dari mudah menyerah menjadi die hard.

Gerakan Revolusi Mental didengungkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat kampanye. "Indonesia butuh terobosan budaya politik untuk memberantas segala praktik buruk yang sudah terlalu lama dibiarkan tumbuh kembang sejak zaman Orde Baru sampai sekarang. Revolusi mental beda dengan revolusi fisik karena ia tidak memerlukan pertumpahan darah. Namun, usaha ini tetap memerlukan dukungan moral dan spiritual serta komitmen dalam diri seorang pemimpin--dan selayaknya setiap revolusi--diperlukan pengorbanan oleh masyarakat." (Kompas, 10/5/2014). Salah satu program Nawa Cita Jokowi adalah membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya. Program tersebut dilaksanakan melalui revolusi mental birokrasi dan seluruh komponen bangsa.

Setuju, Pak Jokowi! Indonesia bisa lebih cepat maju jika mental bobrok direvolusi. Mari kita mulai dari komitmen pemimpin. Pertama, mental korupsi harus direvolusi. Menurut Corruption Perception Index 2014, Indonesia berada di peringkat 107, kalah dengan Nigeria misalnya. Di ASEAN, Singapura (peringkat 7), Malaysia (50), Thailand (85) dan Filipina (85) berada di atas kita.

Kualitas tata kelola penyelenggaraan pemerintahan (public governance) berkorelasi positif dengan kualitas praktik tata kelola di tingkat korporasi. Dari survei kualitas corporate governance 100 emiten terbesar di enam negara ASEAN dari 2012 hingga 2014 yang didanai Asian Development Bank, Indonesia hanya menduduki peringkat 5, di atas Vietnam, tetapi di bawah Singapura, Thailand, Malaysia dan Filipina. Padahal survei McKinsey (2002) mengindikasikan investor internasional hanya bersedia menaruh dananya di negara dan korporasi yang memiliki tata-kelola baik.

Kedua, mental birokrasi harus direvolusi. Perubahan cara berpikir dan sikap dari birokrasi yang dilayani (priayi) menjadi melayani (pelayan). Dari birokrasi pasif dan malas menjadi pro aktif dan pekerja keras. Dari birokrasi boros dan kurang disiplin menjadi birokrasi yang efisien dan disiplin.

Belajar dari Singapura, revolusi mental oleh Lee Kuan Yew berhasil mengubah rakyat Singapura menjadi disiplin, menjunjung integritas, high achiever (kia su alias takut kalah) dan pekerja keras. Mental seperti ini ditanamkan sejak kecil lewat pendidikan formal maupun keluarga. Hasilnya, Singapura menjadi salah satu negara paling makmur di dunia.

Belajar dari Korea Selatan, revolusi mental telah membuat negara ini maju pesat, terutama di bidang ekonomi dan olahraga. Pendidikan jadi alat utama.

Park Hee Young dari Hankok University di seminar di UGM mengatakan, gerakan revolusi mental di Korea dimulai sejak 1960 dengan konsep Saemul Undong, yakni pembangunan bangsa dari desa. "Gerakan itu kami masukkan dalam konsep pendidikan nasional. Sehingga gerakan ini mampu mengubah mental orang Korea yang sebelumnya pesimistis dan berpikir negatif irasional, menjadi optimistis dan rasional positif," katanya.

Lee Kang-hyun, Presiden Korean Chamber of Commerce in Indonesia, mengatakan, ada empat prioritas buat orang Korea yang mesti dibela. Yakni negara, perusahaan, keluarga, dan diri sendiri. "Mungkin sekarang sedikit bergeser. Namun, orang Korea tetap bersedia mati untuk Negara." (Kompas.com).

Setelah kita merdeka 70 tahun, apakah kita tetap bersedia mati untuk Indonesia?