Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Privacy dan ruang sosial

Privacy dan ruang sosial
Pemerhati manajemen dan kepemimpinan

Sebuah stasiun televisi nasional menyiarkan kegiatan eksperimen sosial yang menarik. Topiknya klasik, tentang menyikapi persoalan tak kunjung usai di Jakarta: kemacetan. Ada tiga model angkutan (moda) transportasi yang diujicobakan untuk menempuh jarak dari Jalan Mahakam di Jakarta Selatan menuju kawasan Monas di Jakarta Pusat.

Seperti diketahui, rute tersebut tak boleh dilintasi oleh sepeda motor. Dan, eksperimen dilakukan pada jam pemberlakuan kebijakan three in one. Dengan demikian, tiga moda transportasi yang bisa digunakan adalah mobil pribadi, bus umum, serta sepeda.

Berangkat dari titik lokasi yang sama di Jalan Mahakam, pada akhirnya yang tiba terlebih dahulu di pelataran Monas secara berturut-turut adalah pemakai sepeda, bus umum, dan mobil pribadi. Masing-masing moda transportasi tentunya memiliki tantangan dan ceritanya sendiri-sendiri. Walaupun sampai lebih dulu, pengendara sepeda harus menikmati udara yang terpolusi, apalagi saat harus berhenti di belakang bajaj waktu menunggu di perempatan lampu lalu-lintas.

Sementara pengguna kendaraan umum mesti berdiri sesak berjejalan dengan penumpang lainnya, serta harus menempuh beberapa ruas perjalanannya dengan berjalan kaki. Terakhir, walaupun bisa duduk di ruang ber-AC yang sejuk disertai alunan lagu, pengguna mobil pribadi harus merelakan dirinya bermacet-macet ria sepanjang jalan, sambil mengeluarkan uang untuk joki three in one yang tidak sedikit jumlahnya.

Menggunakan pendekatan systematic problem solving and decision making, pelaksana eksperimen pun kemudian membedah ketiga moda transportasi tersebut, dan mencoba menemukan solusi moda transportasi terbaik di Kota Jakarta yang super-macet. Ada tiga elemen analisis yang dievaluasi atas masing-masing moda transportasi, yakni kenyamanan, biaya, dan kecepatan.

Jika melihat ketiga aspek tersebut, sesungguhnya sangat mirip dengan pisau analisis manajemen yang seringkali digunakan dalam praktik pemecahan masalah organisasi. Pisau analisis ini dikenal dengan istilah QCD, kependekan dari Quality, Cost, dan Delivery. Seperti yang sudah diduga, dengan menggunakan ketiga kriteria di atas, eksperimen sosial tersebut menyimpulkan bahwa moda transportasi yang paling efektif secara berturut-turut adalah: sepeda, kendaraan umum, dan mobil pribadi.

Sesungguhnya, tak ada yang mengejutkan dari hasil eksperimen itu. Banyak yang mahfum, bahwa sesungguhnya sepeda (juga sepeda motor) serta kendaraan umum adalah pilihan transportasi yang paling efisien dan efektif untuk membendung persoalan kemacetan. Masalahnya, walaupun banyak yang maklum dengan kesimpulan ini, mengapa banyak yang tetap tak mau beranjak dari kebiasaan membawa mobil pribadi?

Tentunya, ada banyak ragam jawaban atas pertanyaan tersebut. Mulai dari urusan transportasi publik yang kotor, tingkat polusi dan risiko kecelakaan tinggi yang mengancam pengendara sepeda (motor), hingga cuaca kota yang panas. Dan, satu alasan utama lainnya adalah privacy, yakni saat orang merasa tak diusik oleh orang lain dan bebas melakukan sesuatu menurut kehendak dirinya sendiri. Di tengah segenap komplikasi persoalan transportasi, hanya mobil pribadi yang bisa menyediakan kesempatan privacy secara maksimal.


Keseimbangan
Pada awal tahun 2000-an, berkembang konsep ruang kerja yang disebut open office alias kantor yang terbuka. Kebutuhan organisasi untuk meningkatkan semangat kolaborasi dan transparansi, telah memunculkan desain kantor yang terbuka, tak banyak sekat, dan bisa diakses dengan mudah. Tak heran, kita menemukan ruang seorang pimpinan atau pekerja senior yang membaur dengan anggota timnya, hanya saja dengan ukuran yang lebih luas dan posisi yang lebih nyaman. Kalaupun diberi sekat ruangan, bahan yang dipakai adalah partisi tembus pandang atawa kaca.

Konstruksi fisik seperti ini diharapkan akan membangun suasana psikologis yang lebih terbuka, interaktif, dan boundaryless. Open office memang ikut menciptakan interaksi yang lebih terbuka dan lintas-batas. Hanya, perlahan tapi pasti juga mulai menimbulkan persoalan lain. Studi terbaru pun menunjukkan, di tengah keinginan kerjasama dan keterbukaan, pada dasarnya seseorang tetap membutuhkan privacy. Sejatinya, manusia membutuhkan keseimbangan antara kerjasama dan kerja mandiri, berinteraksi dan refleksi, serta ruang sosial dan ruang pribadi.

Masalahnya, saat ini pengertian ruang sosial tak hanya mencakup dimensi fisikal, saat orang berada di tempat yang sama dan berbicara secara tatap muka. Perkembangan teknologi telah menghadirkan ruang sosial (chat room) secara virtual pula, yakni saat orang tetap bisa berinteraksi sekalipun ada di lokasi yang berbeda dan tak saling tatap muka. Dengan demikian, tidak mengherankan jika teknologi juga telah mendatangkan ancaman serius atas privacy seseorang.

Jika privacy secara fisik bisa dihadirkan dengan cara menyingkirkan diri dari kerumunan sosial, privacy secara virtual hanya bisa dimunculkan dengan cara mendisiplinkan diri dalam pemanfaatan teknologi.