Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Kapitalisme berkesadaran

Kapitalisme berkesadaran
Kolumnis internasional serial entrepreneur, pengajar bisnis berbasis di California, aktif di blog JennieXue.com

Kapitalisme adalah mesin pencetak uang yang jitu. Secara sistematis, konsumen dibuat tergiur pada berbagai produk. Dari research and development (R & D) hingga para professional marketers mempunyai satu gol: menjual sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat mungkin dan dengan biaya seminimal mungkin. Begitu membuka mata di pagi hari sampai menutup mata di malam hari, Anda terekspos dengan ribuan produk yang merangsang berbagai desakan hati untuk membeli.

Deskripsi seperti di atas memang masih sering digunakan, terutama di antara para pebisnis yang tidak memedulikan bagaimana keadaan dunia dan umat manusia dalam beberapa dekade di muka. Bagi para penganut Hayek dan Friedman, ini tidak terbayangkan karena bukankah tanggung jawab para pebisnis adalah terhadap para pemegang saham?

Co-founder raksasa retail produk organik John Mackey dan profesor Conscious Capitalism di Babson College Raj Sisodia dalam buku mereka Conscious Capitalism: Liberating the Heroic Spirit of Business berargumen, korporasi sangat berperan dalam membentuk dunia dan peradaban, termasuk segala bentuk kekurangan dan hal-hal negatif. Dan, di tangan korporasi pula perbaikan lingkungan dan berbagai masalah kemanusiaan bisa diatasi.

Program corporate social responsibility (CSR) bukan satu-satunya jalan. Perlu disadari bahwa CSR yang sesekali atau hanya sebagian kecil dari anggaran operasional tidak cukup untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan alam dan peradaban yang telah terjadi ratusan tahun. CSR yang sesungguhnya mempunyai dimensi jauh lebih dalam, yaitu segala sumber materi produksi, sumber daya manusia, dan properti tempat bekerja harus bebas dari berbagai bentuk tekanan terhadap sesama manusia, lingkungan, serta masa depan yang berkesinambungan.

Empat prinsip kapitalisme berkesadaran adalah: memiliki tujuan yang lebih besar, integrasi stakeholder, kepemimpinan berkesadaran, dan kesadaran akan kultur dan manajemen. Dengan kata lain, seorang pebisnis perlu mempunyai kesadaran bahwa setiap keputusan bisnisnya punya akibat positif dan negatif, baik jangka pendek maupun jangka panjang, bagi korporasi, stakeholder, dan seluruh peradaban manusia.

Seorang chief executive officer (CEO) korporasi perlu mempunyai kesadaran akan kemanusiaan yang jauh melebihi orang lain pada umumnya, baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Sehingga, ia mampu memimpin perusahaan untuk kebaikan dan perbaikan peradaban manusia.


Spirit heroik
Korporasi-korporasi raksasa yang bangkrut, seperti Enron, WorldCom, Kmart, dan Kodak, hanya berfokus pada keuntungan jangka pendek yang ditunjukkan oleh profit dalam pembukuan. Overleveraging di era pra- 2008 telah membawa kegagalan besar bagi Fannie Mae, Bear Sterns, Lehman Brothers, Countrywide, dan lainnya. Lobi-lobi Citigroup di Washington juga dikenal sangat berpengaruh terhadap kebijakan finansial Amerika Serikat (AS), termasuk resesi besar terakhir.

Sosialisme juga bukanlah satu-satunya jawaban dari kapitalisme. Konsep kapitalisme bisa dan harus direvisi. Dengan kapitalisme, kompetisi semestinya bisa berjalan secara positif, sepanjang berbagai insentif dan intelektualitas diinternalisasi. Dan, revisi dengan berbagai optimalisasi perlu ditekankan, seperti upah buruh sesuai biaya hidup wajar, welfare budget pemerintah, persentase partisipasi badan usaha milik negara (BUMN) dalam produk domestik nasional (PDB) nasional, penerapan pajak dengan golongan yang tepat, serta kontrol ketat terhadap industri keuangan dan perbankan.

Konsep kapitalisme tradisonal mengenal tiga elemen yaitu bisnis, planet, dan masyarakat (atau peradaban dalam istilah penulis) saling berpotongan. Jadi, ada bagian-bagian yang tidak overlap dan berdiri sendiri sehingga terjadi keganjilan serta menimbulkan friksi.

Dalam konsep kapitalisme berkesadaran alias conscious capitalism, tiga elemen tersebut berada dalam satu lingkaran utuh, di mana tidak ada batas lagi antara bisnis, planet, dan peradaban. Setiap keputusan bisnis berarti mengambil keputusan juga untuk planet dan peradaban. Tiga elemen ini dipertimbangkan secara sekaligus dan saat yang sama.

Bukanlah profit suatu bisnis bila menimbulkan social debt (utang sosial) maupun sampah lingkungan dan intelek bagi peradaban serta planet Bumi tercinta. Profit alias keuntungan harus mempunyai tiga dimensi, yaitu baik untuk bisnis, baik untuk planet, dan baik untuk peradaban manusia.

Sebuah bisnis tidak perlu mempunyai visi untuk menjadi pahlawan, namun kapitalisme berkesadaran secara otomatis menjadikan setiap bisnis berspirit heroik. Setiap bisnis dan pebisnis adalah caretaker alias penjaga lingkungan dan peradaban manusia. Sebab, tanpa peradaban yang berjalan baik, tidak ada konsumsi bagi bisnis yang membawa keuntungan finansial, bukan?