: WIB    —   
indikator  I  

Menunggu setan lewat

Menunggu setan lewat
Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Twitter: @RencanaTrading

Di tengah keriuhan jangkrik dan keremangan malam, seseorang mendekati Anda dan berkata, "Kalau Anda mau terus berjalan di jalan ini, di depan sana ada sebuah jembatan gelap. Di jembatan itu, ada setan gentayangan. Kalau mau selamat, Anda bisa menggunakan jasa saya. Saya tukang ojek berpengalaman. Ongkosnya cuma Rp 2 juta. Atau beli batu akik yang saya bawa, maharnya Rp 2 juta. Dengan akik ini, semua setan lari tunggang langgang. Atau ikut training analisis teknikal dengan pengajar Bapak Satrio Utomo hanya Rp 2 juta. Anda pasti akan selamat karena Pak Tommy ahli membaca pergerakan harga."

Mana yang Anda pilih? Jawaban nomor 3 pasti bukan pilihan Anda.

Begini, menjual dengan rasa takut dan menjual dengan menakut-nakuti, adalah salah satu cara yang belakangan ini sangat digemari di Indonesia. Di zaman semua media online berburu klik untuk mendapat pendapatan iklan, memancing pengunjung dengan menggunakan berita negatif atau bahkan menggunakan kebencian, lebih efektif menarik perhatian pembaca.

Kondisi menjadi kacau ketika hal tersebut masuk pasar modal. Kita harus mengakui harga saham bergerak berdasarkan informasi yang masuk. Ketika informasi mengalir sedemikan deras dan tidak ada batasan atau pembeda informasi salah dan benar, maka semua informasi terlihat benar dan terasa benar. Pemodal pun dengan mudah termakan informasi yang menyesatkan. Di sini mudah muncul kepanikan, keresahan dan putus asa.

Saringan sebenarnya ada, yaitu pengetahuan setiap pemodal. Tapi secara umum, kebanyakan orang sulit melakukan penyaringan informasi.

Bagaimana cara mengatasinya? Kalau bertanya kepada saya yang seorang analisis teknikal, jawaban saya bakal terasa sangat klise. Harga saham tak pernah bohong. Bagi Anda yang memutuskan transaksi dengan pola trading, Lakukan semua positioning dengan disiplin tinggi.

Apakah semua orang bisa melakukannya? Tentu tidak 100%. Sebagian besar terombang-ambing, bingung di tengah arus informasi. Jika otak Anda tidak mampu switch ke pola pandang pergerakan harga secara teknikal, kita harus menemukan cara lain.

Caranya, hadapi rasa takut dengan memahami sumbernya. Lantaran terkait informasi yang menggerakkan harga, maka kita harus memahami informasi yang paling penting dan sumber masalahannya.

Satu, The Fed akan menaikkan bunga. Dalam penyelesaian krisis Subprime Mortgage 008, The Fed mengambil kebijakan quantitative easing. The Fed memompakan dana murah ke pasar melalui pembelian kembali surat utang dan menurunkan bunga menjadi hampir 0%. Dengan langkah ini, dana murah melimpah ke penjuru dunia. Ekonomi Amerika yang diambang resesi mulai tumbuh.

Ketika perekonomian dianggap normal, The Fed ingin mengembalikan kondisi menjadi normal. Mulai Desember 2013, The Fed menghentikan gelontoran pembelian aset melalui program tapering.

Berikutnya The Fed ingin menaikkan suku bunga lagi. Nah, kenaikan ini lah yang dirasakan menjadi ancaman. Seluruh dana ditarik dari emerging market, termasuk Indonesia. Indeks saham jatuh, mata uang melemah.

Dua, krisis Shanghai. Ekonomi yang mandek, membuat dana mengalir ke mana-mana. Di China, dana mengalir ke bursa saham. Pemodal China yang berpendidikan rendah - sekitar 2/3 tidak lulus SMP- menyerbu pasar modal dan membuat indeks Shanghai naik lebih dari 50% pada semester I-2015. Apakah harga saham bisa naik terus menerus? Tentu tidak. Itu yang membuat indeks Shanghai jatuh.

Tiga, krisis yuan. langkah The Fed yang akan menaikkan suku bunga, memicu Bank Sentral China berusaha meningkatkan daya saing dengan melemahkan yuan. Devaluasi yuan ini menciptakan ketidakpastian di pasar modal.

Tapi, rasa takut itu akan hilang jika kejadian sudah lewat.

Ingatkah Anda isu tapering membuat IHSG jatuh tahun 2013? Dana asing keluar, IHSG jatuh. Tapi, saat tapering di Desember, dana asing malah berebut masuk lagi ke Indonesia? Kita bilang itu Jokowi Effect karena mengalirnya bersamaan dengan pemilu dan terkait elektabilitas Jokowi. Padahal, sebenarnya terkait kembalinya dana asing, karena pengaruh tapering ternyata tidak seseram prediksi.

Nah, karena sumber rasa takut adalah kenaikan bunga The Fed, kita hanya bisa menunggu sampai saat itu tiba. Kalau The Fed benar-benar menaikkan suku bunga 16 – 17 September nanti, krisis bisa selesai. Tapi, jika mundur ke Desember atau tahun depan, gawat. Ketidakpastian yang timbul akan sangat besar.

Terkait level IHSG mencapai titik terendah, saya tidak memiliki petunjuk jelas. Yang bisa cuma tebak support. Setelah support 4.800 gagal bertahan, saya memperkirakan support di 4.400-4.500. Kalau ditembus, saya perkirakan support di 4.200 – 4.300.

Dengan koreksi 530 poin atau 3,12% pada Jumat kemarin, support kemungkinan sulit bertahan. Kalau tembus, berikutnya 3.900 – 3.950. Jika masih gagal, tinggal support 3.837 yang merupakan support bullish tren jangka panjang. Dan kalau masih gagal, kita tunggu di mana tren turun ini berakhir.

Kita hanya bisa menunggu setan lewat. Semoga masalah ini tidak berlarut-larut dan membuka krisis baru lagi. Just follow the trend, because trend is your friend. Happy trading. Semoga barokah!


Close [X]