Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

The moment of truth

The moment of truth
Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Twitter: @RencanaTrading

Minggu ini, The Fed akan memutuskan apakah menaikkan suku bunga atau menundanya. Dalam Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16 - 17 September nanti, The Fed akan mengumumkan sebuah keputusan yang ditunggu seluruh komunitas finansial dunia. Pekan ini adalah "The Moment of Truth".

Banyak orang merasa takut dan khawatir. Di Indonesia, ketakutan ini muncul berdasarkan cerita bahwa pemodal asing akan menarik dananya dari Indonesia. Kalau Fed Rate naik, dana asing ditarik, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS jatuh. Itulah yang paling ditakutkan orang berduit di negeri ini. Itulah yang dianggap sebagai sebuah kepastian. Pasti terjadi.

Nilai tukar 'pasti' 15.000, pasti 16.000, pasti 17.000, bahkan pasti 20.000. Pelemahan tersebut pasti berpengaruh terhadap perbankan. Pasti berpengaruh terhadap perekonomian. Pola pikir yang pasti-pasti-pasti ini kemudian membuat orang takut.

Belum lagi dengan semua cerita tambahan yang mengikuti. Masalah yuan-lah, bursa Shanghai-lah, masalah Kiamat Finansial yang dikaitkan dengan cerita Shemitah (silakan Anda googling tentang topik yang satu ini, saya pernah share link YouTube-nya melalui akun twitter saya @rencanatrading). Siapa saja, pasti takut. Takut kehilangan uang, takut berkurang kekayaannya, takut miskin. Setan-setan bergentayangan.

Tidak usah orang yang punya duit, deh. Bank Indonesia saja sampai ketakutan sendiri. Sampai-sampai mereka belum berani juga melepaskan rem pertumbuhan ekonomi yang sudah difungsikan sejak lebih dari setahun lalu. Ekspor terjun bebas, impor terjun bebas. Aktivitas ekonomi berkurang drastis. Maunya, rupiah tidak melemah. Namun rupiah melemah juga.

Terkait dengan semua ini, saya punya cerita menarik. Anda pasti masih ingat tentang tapering. Itu, lo, saat The Fed mulai mengurangi kucuran dana ketika quantitative easing. Kala itu, semua orang takut jika tapering dilakukan, maka dana asing akan ditarik dari Indonesia, rupiah akan jatuh dan seterusnya. Kira-kira, kondisinya kurang lebih sama seperti sekarang.

Mari kita melihat gambar kurva aliran dana asing di pasar reguler untuk tahun 2011-2015 di bawah ini.

Mengartikan gambar itu tidak sulit. Ketika kurva bergerak turun, berarti pemodal asing di posisi jual, dana asing keluar dari Bursa Efek Indonesia. Sebaliknya ketika kurva naik, asing melakukan posisi beli. Ada empat titik pada gambar itu: titik A, B, C dan D. Pertanyaannya: Di manakah titik yang merupakan saat tapering itu dilakukan?

Coba Anda melihat skenario tapering yang saya sebutkan di atas. Tapering adalah keadaan di mana The Fed mengurangi kucuran dana pembelian kembali surat berharga. Dana akan mengalir keluar dari negara sedang berkembang.

Sekilas, kalau menjawab terburu-buru, Anda pasti akan memilih: Titik A adalah saat The Fed tapering. Mengapa? Karena pada titik A, level dana asing sedang tinggi. Kondisi ketika titik A sesuai dengan teori: asing akan melepas posisi besar-besaran, menarik dana. Level dana asing turun dari Rp 20 triliun, menjadi minus Rp 20 triliun. Asing 'buang barang' Rp 40 triliun. Pas kan?

Ternyata bukan. Jawabannya bukan di titik A. Titik A adalah ketika IHSG di titik puncak pada Mei dan kemudian asing mulai profit taking.

Oh, jawabannya pasti titik B!!! Di titik B itu kan terlihat sekali: Asing yang pintar sudah net sell dari plus Rp 20 triliun hingga titik nol. Titik B adalah saat dimana tapering diumumkan, terus pemodal asing yang masih pegang barang, melakukan cut loss. Lihat, level kepemilikiannya saja minus. Itu berarti asing melakukan posisi short.

Enak banget pemodal asing itu, sudah 350 tahun menjajah negara kita, pasar modal kita masih dipermainkan oleh posisi short yang mereka lakukan. Benar-benar tak berperikemanusiaan. Mari kita larang asing memiliki saham di bursa kita, karena mereka hanya bisa merusak!!! Hehehe, jika jawaban Anda seperti itu, Anda juga salah.

Dari garis waktu, kita bisa lihat bahwa titik B terjadi pada Mei 2013. Bulan Mei 2013 adalah saat di mana ada analis dari Morgan Stanley yang bilang Indonesia termasuk kategori negara yang 'bermasalah' ketika The Fed melakukan tapering. Report itu sebenarnya hanya memperburuk keadaan, bukan pemicu awal aliran dana asing keluar dari BEI.

Jika pertanyaannya: kapan tapering mulai dilakukan? Jika Anda googling mengenai tanggal tapering mulai dilakukan, Anda dengan mudah menemukan tapering dimulai pertengahan Desember 2013. Tapering mulai dilakukan di sekitar titik C.

Lo, Pak Tommy, mana mungkin tapering dimulai ketika titik C? Ketika itu, kita kan diberi gambaran kondisi sedemikian buruk sehingga asing pasti masih aksi jual. Padahal di gambar itu, titik C adalah dimulainya aliran dana asing yang sedemikian besar. Saking besarnya sampai level dana asing melebihi level yang ada ketika puncak IHSG di 2013. Ketika tapering mulai dilakukan, dana asing malah mengalir masuk. Lucu, toh? Aneh, toh? Tapi itu memang kenyataannya!!!

Berarti apakah ketika bunga The Fed naik, dana asing juga akan kembali??? Tentu saya tak mau bilang 'pasti begitu'. Apa yang terjadi setelah The Fed menaikkan bunga, saya tak tahu. Tapi, kalau kita main 'pasti... pasti.. dan pasti', kita bisa salah. Karena respon pasar tetap tak bisa diketahui secara pasti.

So, kalau Anda beranggapan jika The Fed menaikkan bunga, maka kita 'pasti' mengalami kiamat finansial, tolong pikir kembali. Kendalikanlah rasa takut Anda sehingga tetap bisa mengambil keputusan rasional. Namun, apakah kita kemudian harus optimistis ketika bursa regional merespon positif juga, kok, sepertinya juga tetap sulit dilakukan. Hari-hari ini kondisi psikologis pasar terlihat jelek.

Selain data ekonomi jelek, berita jelek, banyak orang yang menakut-nakuti, BI ketakutan sendiri, plus pemerintah juga tak banyak membantu. Presiden kemarin mengumumkan Paket Kebijakan September I. Paketnya, sih, bagus. Tapi sebelum pengumuman, Presiden juga menciptakan ketidakpastian dengan menyebut 'tingkat suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diturunkan menjadi 12%'.

Ini yang membuat saham perbankan terus dihajar, ditekan jual oleh pemodal asing dan lokal hingga Jumat sore kemarin.

Saya, sih, tetap tak tahu apakah The Fed akan menaikkan suku bunga pada 17 September nanti, atau masih menundanya. Saya juga tak tahu apakah IHSG pasca 17 September bisa meroket ke atas atau malah nyungsep, jatuh lagi, bikin new low lagi di bawah 4.111, di bawah 4.000.

Akan tetapi saya melihat peluang bursa regional (terutama indeks Dow Jones Industrial) akan bergerak naik menjelang pengumuman FOMC. Cuma ya gitu: apa bisa IHSG melanjutkan tren naik, memberikan sinyal positif dengan menembus resisten dari tren turun jangka menengah di 4.450 dengan saham perbankan terus bergerak turun?

Terlalu banyak ketidakpastian di depan. Akan tetapi, ketakutan hanya membuat Anda tak rasional dalam mengambil keputusan. Happy trading... Semoga barokah!!!