: WIB    —   
indikator  I  

Terpengaruh harga referensi

Terpengaruh harga referensi
Pengamat Pasar Modal dan Pasar Uang

Siapa bilang orang keuangan tidak akan salah dalam mengambil keputusan keuangan? Kesalahan itu bisa bermula dari jatuh cinta pada pandangan pertama pada sebuah rumah atau apartemen, hingga tergoda return menggiurkan. Sangat disayangkan, jika keputusan-keputusan penting finansial diambil berdasar pada insting  semata, dan mengabaikan kalkulasi. Bukan apa-apa, tindakan ini, kerap berharga mahal.

Untuk mengatasi blunder ini, diperlukan kemampuan untuk tidak terburu-buru bertransaksi. Walau menggemari ilmu hitung-menghitung uang karena berlatar belakang pendidikan matematika, akuntansi, dan keuangan, saya pernah rugi Rp 10 juta, beberapa tahun lalu, karena terburu-buru membayar uang muka apartemen yang tidak jadi saya beli.

Investor yang cerdas tidak akan terpancing dengan rayuan iklan atau mulut manis para tenaga penjual, bahwa harga akan naik minggu depan. Atau, harga bakal tumbuh 20% per tahun.

Dalam kasus rumah atau apartemen seken, investor yang berpengalaman tidak terpengaruh oleh klaim penjual tentang peminat lain yang sudah menawar di harga mahal. Investor yang lihai, tidak mau percaya begitu saja, jika dikatakan rumah sebelah, yang berukuran sama, baru-baru ini terjual di atas harga rumah yang sedang ditawarnya.

Kalaupun informasi itu benar, sangat mungkin rumah itu berbeda kualitas, atau umur. Bukankah berbohong itu lumrah dan mudah diucapkan oleh mereka yang punya niat tertentu, terutama, ketika sedang berdagang?

Untuk menghindari penyesalan, akibat melakukan transaksi yang tergesa-gesa, atau berdasarkan emosi daripada rasio, jatuh cintalah pada, paling sedikit, tiga pilihan apartemen atau apa pun yang sedang Anda minati. Inilah yang dianjurkan Max Bazerman dalam bukunya Smart Money Decisions (1999). Akan lebih baik lagi, jika Anda membandingkan harga-harga yang ditawarkan di iklan-iklan baris koran, untuk properti sejenis di daerah yang menjadi incaran Anda.

Dalam behavioral finance (BF), penjual yang menyebutkan ada orang lain sudah menawar propertinya pada harga tertentu, atau rumah tetangga telah terjual dengan harga lebih tinggi, adalah usaha membuat anchoring.

Akibat informasi itu, tidak sedikit calon pembeli yang terpengaruh. Menurut BF, sebagian besar orang cenderung mendasarkan estimasi atau penilaiannya pada informasi awal yang diterimanya atau pada nilai referensi tertentu (anchor). Lalu, melakukan penyesuaian menggunakan informasi dan persepsi yang diperolehnya.

Tidak ada masalah dengan cara itu, selama proses penyesuaian dapat berlangsung tuntas. Namun, bukti empiris menunjukkan, proses penyesuaian  sering tidak tuntas, tetapi melalui jalan pintas. Akibatnya, nilai referensi awal mendapat bobot besar.

Dalam eksperimennya, Tversky dan Kahneman (1974) bertanya ke sekelompok responden tentang persentase jumlah negara Afrika di PBB. Dua kelompok dibentuk untuk tujuan ini. Kepada tiap kelompok, diberikan satu angka acak, yang diperoleh dari hasil pemutaran wheel of fortune.

Kelompok pertama mendapat angka 10, dan kelompok kedua memperoleh 65. Di tahap pertama, ke kelompok pertama diajukan pertanyaan, apakah menurut mereka, persentase negara Afrika di PBB, di bawah atau di atas, angka 10%. Kepada kelompok kedua, pertanyaannya sama. Tetapi, angkanya diganti menjadi di bawah atau di atas 65%.

Di tahap berikut, responden diminta menyebut angka pasti persentasenya. Ternyata, rata-rata jawaban di kelompok pertama adalah 25%. Sementara rata-rata jawaban kelompok dua 45%. Ini menunjukkan, angka acak yang diberikan benar-benar dijadikan sebagai anchor, atau referensi, dalam menjawab pertanyaan.

Bias anchoring juga dialami investor di bursa saham. Hampir semua investor terus mengingat harga beli saham-saham dalam portofolionya. Keputusan untuk menjual sering didasarkan pada harga referensi ini. Investor lebih mudah dan cepat memutuskan untuk menjual sahamnya saat harga sahamnya ini sudah di atas harga belinya.

Harga referensi tidak selalu harga beli. Rekor harga tertinggi suatu saham sepanjang masa, atau di tahun ini, kerap menjadi harga referensi. Kedua harga ini umumnya terpampang di layar monitor perdagangan saham, atau di situs internet. Mengetahui harga tertinggi yang pernah dialami saham itu, banyak investor tidak bersedia cut loss.

Terakhir, harga terendah sebuah saham selama setahun terakhir atau seumur hidupnya, juga bisa menjadi harga referensi. Menggunakan referensi harga paling rendah, merupakan alasan seseorang tidak bersedia membeli saham incarannya di harga lain. Diteguhkan niatnya membeli saham itu pada harga terendahnya, atau bahkan lebih murah lagi, kalau mungkin.

Tunggu punya tunggu, sangat sering harga terendah itu tidak pernah terulang lagi. Si investor pun tidak pernah jadi membeli saham incarannya.


Close [X]