: WIB    —   
indikator  I  

Peran androgini dalam kreativitas

Peran androgini dalam kreativitas
Kolumnis internasional serial entrepreneur, pengajar bisnis berbasis di California, aktif di blog JennieXue.com

Anda ingin mengetahui kisah sukses seseorang? Coba mulai saat ini perhatikan lah orang-orang yang ada di sekitar Anda, terutama yang dianggap sebagai kategori orang sukses.

Yang pria biasanya mempunyai ketegasan, maskulin, namun juga mempunyai perhatian yang lembut. Sementara yang perempuan, mempunyai kelembutan, feminin, namun mempunyai ketegasan dalam setiap pengambilan keputusan.

Dengan kata lain, orang-orang sukses sering kali termasuk kategori androgini. Selain itu, untuk mencapai sukses, seseorang membutuhkan sebuah kreativitas yang di atas rata-rata.

Menurut profesor psikologi asal Hongaria yang kini mengajar di Claremont Graduate University Mihaly Csikszentmihalyi dalam bukunya Flow dan Creativity: The Psychology of Discovery and Invention, faktor androgini seseorang mempunyai peran besar untuk mendorong penggunaan kemampuan yang di atas rata-rata, terutama dalam mengarungi kehidupan mereka.

Yang dimaksud dengan kreativitas di sini mencakup empat tahap. Pertama, kemampuan menjalankan idealisme kreatif secara rutin sebagai bagian dari kognisi. Kedua, penggunaan memori atau ingatan dalam proses kreatif mereka.

Ketiga, korelasi antara kreativitas dengan kepekaan terhadap mental illness, seperti depresi dan insomnia. Dan keempat, jender dari pikiran dan daya pikir yang dekat dengan maskulinitas maupun femininitas.

Berdasarkan berbagi eksperimen psikologi yang dilakukan oleh berbagai universitas, kita bisa menyimpulkan bahwa perempuan yang lebih kreatif ketimbang rekan-rekan perempuan lainnya, biasanya mempunyai aspek maskulin yang lebih tinggi dari rata-rata. Artinya mereka lebih teguh dan tegas.

Sedangkan para pria yang lebih kreatif justru mempunyai femininitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan pria biasanya. Artinya mereka relatif lebih lembut dan pengertian ketimbang rata-rata pria pada umumnya.

Csikszentmihalyi mengingatkan bahwa seseorang yang mempunyai kepribadian androgini bukan berarti seseorang berorientasi homoseksual. Secara psiko-emosi, kemampuan androgini memungkin seseorang untuk fleksibel dalam menerapkan keras-lembut, asertif-submisif, aktif-pasif, kaku-sensitif, dan lurus-melingkar.

Singkat kata, seseorang dengan kreativitas tinggi yang memberikan peluang lebih besar untuk sukses dalam kehidupan mereka, termasuk dalam karier dan bisnis. Selain itu, biasanya mereka mempunyai kondisi psiko-emosi yang fleksibel. Ia juga mantap dalam menjalankan pilihan kondisi psiko-emosi tersebut untuk diterapkan dalam berbagai situasi.

Cobalah Anda melakukan observasi rekan-rekan sukses di sekitar Anda. Bagaimana para perempuan? Para pria? Pasti Anda akan menemukan kondisi psiko-emosi yang kompleks, tidak tipikal maskulin maupun feminin. Kondisi dan gaya psiko-emosi ini merupakan aset karakter yang tidak ternilai dalam perjalanan kehidupan.

Jadi, apakah sebaiknya Anda mempekerjakan mereka yang mempunyai kondisi dan gaya psiko-emosi androgini? Apabila kondisinya memang memungkinkan, mengapa tidak? Ini bisa dijumpai setelah agak cukup lama berinteraksi dan berkomunikasi. Perhatikan berbagai aspek karakter para kandidat.

Namun ini bukan berarti mereka yang berpenampilan maskulin total atau feminin total adalah para pecundang. Kita perlu ingat, penampilan tidak ada hubungannya langsung dengan hal ini.

Coba perhatikan penampilan Marissa Mayer dari Yahoo! yang bening dan feminin dengan rok lebarnya. Ia mempunyai kondisi psiko-emosi androgini yang langka.

Ia bisa dengan santai mengandung bayi pertamanya sambil bernegosiasi yang bernilai jutaan dollar Amerika Serikat. Ia mempunyai kapasitas feminin sebagai seorang ibu dan kapasitas maskulin sebagai seorang pengambil risiko dengan keputusan-keputusan besar.

Perhatikan juga Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang laki-laki namun peka akan kesulitan hidup rakyat kecil. Ia mampu mengambil keputusan-keputusan besar (maskulin) seperti menentukan arah pembangunan negara, namun juga mempunyai empati besar terhadap anak-anak dari keluarga papa dan tidak mempunyai dokumen kependudukan yang jelas. Ini merupakan cerminan kondisi psiko-emosi androgin.

Selain itu, kita perlu memperhatikan bahwa tipe ekstrovert dan introvert tidak punya korelasi langsung dengan psiko-emosi androgini. Karena, ekstroversi dan introversi berhubungan dengan sumber energi. Ekstroversi bersumber dari energi luar, sedangkan, introversi dari dalam. Jadi bukan masalah maskulin-feminin.

Seorang androgin bisa saja menjadi ekstrovert atau introvert. Masing-masing punya kekuatan tersendiri. Dan idealnya, introversi-ekstroversi juga mempunyai ekuilibrium sehingga saling melengkapi dalam satu individu. Nah kini bagaimana dengan kreativitas Anda?


Close [X]