: WIB    —   
indikator  I  

Belanja atau menabung?

Belanja atau menabung?
Pemerhati manajemen dan kepemimpinan

Beberapa bulan terakhir, di tengah kondisi ekonomi nasional yang melemah, Presiden rajin mendorong agar belanja pemerintah dipercepat dan serapan anggaran di daerah segera ditingkatkan. Di tengah kelesuan bisnis saat ini, belanja pemerintah diyakini menjadi faktor utama yang bisa ikut menggerakkan roda perekonomian domestik. Intinya, dana yang tersedia di kantong pemerintah mesti dibelanjakan secepat-cepatnya dan sebesar-besarnya, agar tercipta multipliers effect yang akan menggerakkan ekonomi rakyat.

Di tengah hiruk pikuk anjuran Presiden yang sedemikian gencar di berbagai media, tiba-tiba seorang remaja berkomentar singkat kepada saya. Katanya, Lo, di sekolah kita diajarkan pepatah hemat pangkal kaya. Juga dikatakan, rajin-rajinlah menabung agar kelak menjadi kaya. Kok, pemerintah malah mau belanja terus?. Dengan polos, katanya lebih lanjut, Memangnya kalau sudah jadi pemerintah baru boleh belanja, sementara kalau rakyat harus menabung?.

Komentar yang sederhana tapi mengusik saya untuk merenungkannya lebih lanjut. Saya teringat dengan broadcast tulisan yang saya terima beberapa waktu lalu dari seorang rekan, yang berisikan pemikiran Jagdish Bhagwati. Nama yang disebut ini adalah ekonom kelahiran India, yang saat ini sudah menjadi warga negara Amerika Serikat (AS) serta menjadi guru-besar ekonomi dan hukum di Columbia University.

Studi yang dilakukan Bhagwati menunjukkan, Jepang adalah negara yang telah banyak menabung. Mereka tak banyak berbelanja. Nilai ekspor Jepang juga jauh melebihi impornya. Surplus perdagangan mereka setiap tahun lebih dari US$ 100 miliar. Walaupun demikian, ekonomi Jepang saat ini dianggap lemah, bahkan bisa dikatakan menuju kolaps.

Sebaliknya, AS adalah negara yang rajin berbelanja dan sedikit menabung. Nilai impor AS juga lebih besar daripada ekspornya. Setiap tahun AS membukukan defisit perdagangan lebih dari US$ 400 miliar. Namun anehnya, ekonomi AS dianggap kuat dan diyakini akan semakin menguat.

Pertanyaannya adalah, dari mana AS mendapatkan uang untuk berbelanja? Ternyata, mereka meminjamnya dari Jepang, China, bahkan India. Secara virtual, bisa dikatakan bahwa negara-negara lainlah yang menjaga tabiat belanja AS. Hampir semua tabungan negara-negara dunia diinvestasikan di AS dan dalam US$. India dan China saja masing-masing memiliki nilai aset mencapai US$ 50 miliar dan US$ 160 miliar yang diinvestasikan dalam surat berharga AS. Apalagi Jepang yang nilainya mencapai triliunan dollar AS.

Praktis, nilai investasi Jepang, China, dan India di AS jauh lebih besar dari nilai investasi AS di negara-negara tersebut. Bisa dikatakan, AS telah mengambil porsi lebih dari US$ 5 triliun ekonomi dunia, yang memungkinkan mereka untuk berbelanja dengan leluasa. Dan saat ini, untuk menjaga agar rakyat AS tetap berbelanja dan melakukan aktivitas konsumsi (yang artinya menggerakkan roda ekonomi negara itu), negara-negara dunia lainnya harus menyalurkan dana ke AS sekitar US$ 180 miliar setiap kuartal, setara US$ 2 miliar per hari!


Menabung adalah dosa
Bhagwati lebih lanjut mengajukan satu pertanyaan yang menarik, mengapa dunia begitu baik hati menjaga AS?. Rahasianya ternyata terletak pada tabiat orang AS yang gampang belanja dan sulit untuk menabung. Di AS, orang menggunakan kartu kredit untuk mengongkosi penghasilannya di masa yang akan datang. Itulah yang membuat Amerika menjadi pasar yang begitu atraktif sebagai tujuan ekspor.

Lebih jauh, pertumbuhan ekonomi dunia juga menjadi tergantung kepada konsumsi orang AS. Dengan budaya konsumsi yang begitu dalam (dan semakin mendalam), secara tak langsung AS telah membiasakan negara-negara lainnya untuk membiayai tabiat konsumsinya. Ketika AS membutuhkan uang untuk mengongkosi konsumsinya, maka dunia akan menyediakan uang baginya.

Mengakhiri ulasannya, Bhagwati menyimpulkan, untuk memacu pertumbuhan ekonomi, sebuah negara harus mendorong rakyatnya berbelanja, bukannya menabung. Jika perlu, tak hanya berbelanja, juga meminjam dan berbelanja seperti yang dilakukan oleh AS. Semboyannya, saving is sin, and spending is virtue. Menabung adalah dosa, dan belanja ialah keutamaan hidup.

Pembaca Tabloid KONTAN, tulisan Bhagwati jelas merupakan sebuah pemikiran provokatif yang membenturkan kita kepada kebajikan tradisional yang mengutamakan sifat menabung. Saat nilai keutamaan hidup yang diajarkan berbeda dengan keadaan nyata yang dihadapi, saya teringat dengan pesan guru saya. Pertama kali bekerja dan memperoleh penghasilan, sang guru berpesan: sepertiga digunakan untuk mencukupi kebutuhan (primer) sehari-hari, sepertiga dipakai untuk mewujudkan keinginan rekreasional (sekunder), dan sepertiga digunakan untuk menabung. Di aras individu, alokasi pengeluaran yang seimbang seperti ini rasanya lebih bijak dan tidak bikin sakit kepala yang berkepanjangan.

 


Close [X]