Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Mari bersahabat dengan volatilitas

Mari bersahabat dengan volatilitas
Staf pengajar FEUI dan pengamat pasar modal

Setelah tertekan sepanjang tahun ini, rupiah mulai mampu melepaskan diri. Dari Rp 14.800 per dolar AS di awal pekan lalu, rupiah kembali ke Rp 13.300 per dolar AS.

Penguatan ini dipicu melemahnya dolar AS terhadap mata uang dunia lain dan beberapa faktor internal, seperti tiga paket kebijakan ekonomi dan mulai kembalinya dana asing ke pasar modal kita.

Seiring penguatan rupiah sebesar 9% hanya dalam sepekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak terbendung, naik selama lima hari berturut-turut, yang totalnya 9% juga, dari 4.208 menjadi 4.589. Pergerakan indeks tahun ini seperti mengulangi pola IHSG di tahun 2013.

IHSG sempat naik kencang, dari 4.317 di awal tahun ke 5.215 pada 20 Mei 2013 atau melesat 20,8% dalam waktu kurang dari lima bulan. Setelah itu, indeks terperosok minus 23,9% dari angka tertinggi, saat bertengger di 3.968 pada 27 Agustus 2013. Mendekati akhir tahun, IHSG membaik dan hanya ditutup minus 1% tahun itu.

Tahun ini, IHSG juga sempat melaju kencang dalam tiga bulan pertama, yaitu dari 5.227 menjadi 5.523 pada awal April lalu. Indeks mulai kehilangan tenaganya memasuki pekan kedua April dan terus meluncur mencapai dasarnya di 4.121 pada 28 September 2015 lalu. Mengulangi tahun 2013, selama hampir 6 bulan tahun ini IHSG juga merosot 25,4% dari puncak rekornya.

Kejatuhan IHSG sebesar 24% dan 25% dalam beberapa bulan belum apa-apa. Indeks Dow Jones pernah anjlok 23% hanya dalam satu hari, yaitu pada Senin 19 Oktober 1987 yang dikenang sebagai Black Monday.

Berdasarkan data empiris di atas, tidak ada yang dapat menyanggah tingginya volatilitas saham. Volatilitas adalah tendensi harga berubah di luar perkiraan. Perubahan harga itu dapat terjadi karena ada informasi baru mengenai nilai perusahaan dan makro ekonomi (fundamental) atau karena kepanikan dan over-reaksi para investor (transitory)

Secara teori, harga aset umumnya mencerminkan nilai fundamental. Harga aset berubah, jika faktor-faktor fundamentalnya berubah. Karena itu, harga saham, obligasi dan rupiah juga berubah ketika para investor mengetahui telah terjadi perubahan dalam fundamentalnya. Inilah yang dimaksud volatilitas fundamental.

Khusus saham, kita sebenarnya dapat mengenali dengan mudah saham-saham memiliki volatilitas tinggi.

Pertama, saham emiten yang harga output-nya tergantung kondisi global. Saham-saham berbasis komoditas, tambang, dan energi masuk kelompok ini. Harga saham kelompok tersebut saat ini hampir tiarap semua, karena melambatnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok sebagai negara penyerap terbesar komoditas dunia.

Kedua, saham dari perusahaan yang berkecimpung dalam teknologi tinggi cenderung untuk volatil, mengingat nilainya sangat tergantung pada keberhasilan riset produk baru yang pasarnya mungkin belum ada.

Ketiga, saham dengan price earning ratio (PER) tinggi. Saham-saham ini berharga tinggi, karena optimisme investor akan tingkat pertumbuhan perusahaan di masa depan. Pertumbuhan yang diharapkan ini mungkin saja tidak terjadi.

Keempat, saham-saham dengan rasio utang besar. Apalagi jika dalam valuta asing ikut volatil karena ada kewajiban membayar bunga yang besar di masa depan. Sementara tingkat penjualan perusahaan belum pasti.

Kemudian, masih ada saham-saham yang bersifat siklikal (cyclical stock), yaitu yang sangat tergantung perekonomian nasional. Saham-saham kelompok ini akan naik tinggi ketika makroekonomi membaik dan akan turun drastis saat ekonomi memburuk. Contohnya saham otomotif dan industri berat.

Terakhir, khusus di bursa kita, saham-saham yang banyak dimiliki investor asing yaitu yang berkapitalisasi besar juga sangat volatil. Naik-turunnya harga saham kelompok ini tergantung net buy dan net sell investor asing.

Berbeda dengan volatilitas fundamental yang cenderung terjadi secara acak, dengan harga yang tidak berbalik arah dengan cepat, perubahan harga akibat volatilitas sementara umumnya akan segera terkoreksi. Volatilitas akibat perilaku investor yang tidak bersumber dari perubahan fundamental perusahaan, ini disebut sementara.

Pada akhirnya, harga akan kembali ke tingkat wajar. Jika volatilitas fundamental, walaupun kadang mengagetkan, adalah alami dan perlu untuk alokasi sumber daya secara efisien. Volatilitas sementara justru sangat tidak disukai regulator. Ketika terjadi volatilitas yang sangat tinggi, regulator melakukan intervensi untuk menurunkannya. Karena itu, kita mengenal istilah unusual market activity (UMA), sistem suspensi dan autoreject di bursa kita.

Apa pelajaran penting dari pergerakan IHSG tahun 2013 dan 2015?

Pertama, jika harga-harga saham melaju kencang yang tidak diikuti membaiknya fundamental makro dan mikro, realistislah dalam menentukan target return.

Kedua, jika harga saham- saham terus tertekan hingga menjadi kerendahan, padahal fundamental tidak seburuk itu, janganlah takut untuk mulai membeli. Sampai angka tertentu, baik saat bullish maupun bearish, volatilitas yang terjadi sangat mungkin fundamental. Melebihi angka itu, volatilitas bersifat transitory.

Ada waktunya investor asing berbalik arah dari net buy menjadi net sell atau sebaliknya. Sentimen juga dapat berganti dengan cepat dari positif menjadi negatif atau dari negatif menjadi positif. Di BEI tahun 2013 dan 2015, periode berbalik arah investor asing dan perubahan sentimen ini terjadi pada April-Mei serta akhir Agustus-September. Inilah dua sumber utama volatilitas saham kita.

Kesimpulannya, Anda tak usah repot dengan analisis macam-macam untuk memperoleh cuan di pasar saham. Cukup dengan kemampuan mengidentifikasi volatilitas secara cermat, keuntungan Anda akan mengalir.

Maksudnya, jangan ragu untuk segera menjadi follower jika Anda percaya volatilitas itu fundamental. Sebaliknya, ambil posisi melawan pasar, jika Anda menilai volatilitas yang terjadi adalah sementara. Siapa bilang volatilitas hanya membawa kerugian?