: WIB    —   
indikator  I  

Jangan overconfident

Jangan overconfident
Pengamat Pasar Modal dan Pasar Uang

Berbeda dengan keuangan tradisional, behavioral finance (BF) mengakui, kemungkinan praktisi keuangan keliru karena menggunakan aturan praktis. Dalam bukunya, Beyond Greed and Fear, Shefrin mengatakan bias behavioral itu terjadi di mana-mana dan relevan dipahami.

Bias heuristic itu mempengaruhi banyak orang. Mungkin analis sekuritas saat merekomendasikan saham. Atau, manajer portofolio dalam memilih saham. Bisa juga manajer hedge fund saat trading valuta. Bias itu mungkin dialami bankir investasi saat menyiapkan go public. Atau, eksekutif perusahaan saat merancang akuisisi.

Selain efek disposisi, bias penyesalan, dan bias harga referensi yang pernah saya tulis di kolom ini, masih ada belasan bias lain yang berhubungan dengan aturan praktis ini. Satu di antaranya bias overconfidence.

Untuk menguji terjadinya bias ini dalam kehidupan nyata, Shefrin melakukan survei terhadap pengemudi yang pernah mengalami kecelakaan atau masalah berkendara. Ketika ditanya, “Bagaimana keterampilan mengemudi Anda, apakah di atas rata-rata, rata-rata, atau di bawah rata-rata?” Sekitar 72% responden menjawab di atas rata-rata.

Investor juga berlaku sama. Ketika ditanya tentang keahlian investasinya, hampir 80% mengatakan, memiliki kemampuan di atas rata-rata. Sudah tentu kita semua ingin diri kita di atas rata-rata. Tetapi, hanya separuh dari kita yang berada di sana. BF menjelaskan, ada dua penyebab manusia, termasuk investor, cenderung percaya diri berlebihan.

Pertama, kecuali mereka yang mengalami depresi, semua orang menilai dirinya positif. Kedua, secara psikologis, semua orang ingin mengendalikan situasi dan lingkungan sekitar dirinya dan merasa mampu untuk melakukan itu. Mau contoh lain lagi?

Siapa yang tidak mengenal John Maynard Keynes, pemenang Nobel sekaligus ekonom paling berpengaruh di dunia pada abad 20? Menjelang akhir 1920-an, Keynes begitu dikenal atas keahliannya berdagang mata uang, komoditas, dan saham. Portofolio pribadinya penuh dengan saham beberapa perusahaan di Inggris dan kontrak berbagai komoditas.

Sebelum Depresi Besar 1929, temannya yang bekerja sebagai bankir Swiss sempat menasihatinya untuk tidak menyimpan, apalagi membeli saham, mengingat suramnya situasi di bursa, saat itu. Namun, Keynes keras kepala dan penuh percaya diri.

Tak cuma menyimpan, Keynes juga menambah portofolionya. Beberapa saat sebelum depresi, Keynes dengan yakinnya berkata, “Kita tidak akan mengalami crash di zaman ini.” Karena kepercayaan diri yang berlebihan, portofolio Keynes tersapu depresi dan hanya tersisa seperempatnya. Sejak saat itu, dia percaya harga saham tidak hanya dipengaruhi faktor fundamental.

Kasus overconfidence paling menghebohkan menimpa Long Term Capital Management (LTCM) tahun 1998. Hedge fund yang sesumbar akan mengeksploitasi setiap kesempatan arbitrase di pasar modal itu, dikelola dua penerima Nobel ekonomi di tahun sebelumnya (Merton dan Scholes) dan seorang pelopor arbitrase di Salomon Brothers (Meriwether).

Dalam salah satu dialog di televisi, seorang pakar derivatif dan eksekutif sebuah lembaga keuangan berkomentar ke Scholes, “I don’t think there are many pure anomalies that you can exploit.” Scholes dengan angkuhnya menjawab, “As long as there are people like you, we’ll make money.” Itu pernyataan yang terlalu percaya diri dan tak bersahabat.

Dengan bantuan komputer canggih, otak superbrilian, serta kepercayaan para nasabahnya, hedge fund itu mampu menghasilkan return spektakuler selama 1994-1997. Per akhir 1997, LTCM mengelola dana dengan nilai lebih dari US$ 7 miliar.

LTCM menghitung kerugian hariannya tidak mungkin melebihi US$ 35 juta. Tetapi pada 21 Agustus 1998, LTCM menanggung rugi US$ 553 juta hanya dalam sehari. Dan pada September 1998, kekayaannya menyusut tinggal US$ 4 miliar, sebelum di-bailout Federal Reserve dengan dana US$ 3,6 miliar.

Ada empat implikasi dari bias ini pada pelaku keuangan. Pertama, investor dapat mengambil posisi yang salah, mestinya menahan saham, tetapi menjual. Atau, investor membeli saham yang mestinya dihindari karena gagal menyadari, bahwa mereka tidak mempunyai keunggulan informasi atau analisis.

Kedua, investor cenderung untuk bertransaksi lebih sering yang mengakibatkan tingginya biaya transaksi. Ketiga, investor overconfident cenderung menetapkan interval prediksi yang terlalu sempit. Terakhir, orang yang percaya diri berlebihan, akan terkejut lebih sering daripada yang diperkirakan.  


Close [X]